Mohon tunggu...
TiaraSugihHartati
TiaraSugihHartati Mohon Tunggu... Pustakawan - Librarian

Pustakawan Tukang Main yang hobinya bercerita banyak hal

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Berkenalan dengan Hui Cilembu: Si Madu dari Sumedang

19 Desember 2020   06:38 Diperbarui: 5 Februari 2021   14:23 1223
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kuliner. Sumber ilustrasi: SHUTTERSTOCK via KOMPAS.com/Rembolle

Sumedang :  Alkisah, seorang raja dari kerajaan Sumedanglarang melakukan penyamaran menjadi seorang kakek pengembara demi melihat secara langsung keseharian rakyatnya. Kala itu, ia melihat rakyatnya sedang memanen ubi jalar. Warga yang melihat seorang pengembara renta lantas menyilakan kakek tersebut untuk berisitirahat dan menyuguhinya dengan kudapan ubi bakar hasil panen. Sang raja yang senang mendapatkan perlakuan ramah tersebut pun berucap "Kelak, ubi manis nan legit ini akan mengangkat dan membuat sejahtera rakyat dan ubi ini tidak akan bisa ditanam di tempat lain." Begitulah kiranya salahsatu cerita yang berkembang di masyarakat Sumedang tentang Hui Cilembu.

Sebelum cerita tentang Hui Cilembu mari berkenalan dengan Kabupaten Sumedang yang menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Sumedang memiliki luas wilayah mencapai 155.871,98. Secara geografis Sumedang terletak di daerah pegunungan Priangan, bagian pedalaman tengah Jawa Barat. 

Secara geografis Kabupaten terletak antara 6o 44 ' 7 o 83 ' Lintang Selatan san 107 21 ' Bujur Timur yang berbatasan di sebelah Timur dengan Kabupaten Majalengka, di sebelah Selatan berbatasan dengan Garut dan Bandung. Barat dengan Bandung dan Subang dan di sebelah Utara berbatasan dengan Indramayu juga Majalengka.

Sumber sejarah mengungkapkan hari jadi Kabupaten Sumedang yang diperingati setiap tanggal 22 April erat kaitannya dengan kejadian sejarah dilantiknya Prabu Geusan Ulun sebagai raja dari Kerajaan Sumedanglarang. Konon, pada masa kepemimpinannya lah Sumedang mencapai puncak kejayaannya. Secara historis pada akhir abad ke-16 di daerah ini telah dikenal kerajaan Sumedanglarang sebagai penerus Kerajaan Padjajaran yang dihancurkan oleh kerajaan Islam Banten. 

Pembaca yang ingin mencari tahu lebih lengkap lebih lengkap mengenai sejarah ini bisa membaca buku berjudul "Budaya Spiritual Masyarakat Sunda" yang diterbitkan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung pada bagian Palintangan (Ilmu Perhitungan Nasib Orang Sunda) bagian gambaran umum yang ditulis oleh Agus Heryana.

Berbicara tentang suatu daerah maka kita akan membicarakan tentang budaya yang ada disana sebagai ciri khas pembeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Sumedang memang memesona karena budayanya. 

Masyarakatnya yang didominasi oleh petani menjadikan wilayah ini juga memiliki tradisi unik berupa upacara adat dalam rangka mengungkapkan rasa syukur atas kelimpahan panen yang didapat. Upacara ini bernama Upacara Ngarot yang dilaksanakan oleh warga desa karedok kecamatan Jati Gede. Kalau di Kecamatan Rancakalong namanya Upacara Nyalin. Esensinya sama yakni sebagai wujud rasa syukur warga kepada Pencipta atas kelimpahan panen.

Dari sekian banyaknya produk budaya berupa adat istiadat, musik, juga tari. Produk budaya berupa makanan khas bernama hui Cilembu paling menjadi perhatian kali ini. Nampaknya "Hui Cilembu" atau dalam bahasa Indonesia berarti ubi menjadi produk termasyhur dalam maupun luar negeri andalan dari Sumedang. 

Hal ini mendorong Tria, seorang Mahasiswi Keperawatan di salahsatu mahasiswi kesehatan di Bandung untuk mengunjungi desa penghasil hui Cilembu. Ia menganggap perjalanannya kali ini menjadi perjalanan yang impulsif. Tidak direncanakan sebelumnya. "Sekalian aja pengen tau desa Cilembu, da aku udah kagok ada di Cibiru habis ada urusan tiba-tiba pengen aja gitu makan ubi ini di desanya, sekalian ngeliat kaya apa sih desa Cilembu teh".

Sepanjang perjalanan menggunakan sepeda motor miliknya, ia mengaku terbayang banyaknya warga yang membuka warung dan menjajakan hui Cilembu. Sambil memakan ubi panggang nan legit itu, ia juga membayangkan matanya tak akan bisa luput dari hamparan tanaman ubi yang mendominasi. 

Itulah kiranya ekspektasi Tria saat pertama kali memutuskan untuk berkunjung kesana. Tapi kenyataan memang kadang tak sesuai dengan harapan. Sesampainya di desa tersebut, tak banyak penjual yang ia temukan. Dihitung jari yang terhitung hanya 6 rumah yang menjualnya. "Masa hanya sedikit yang jualan ?", ungkapnya.

Jalan menuju desa Pamijahan ditempuh dengan kondisi jalan yang naik turun ditempuhnya demi mencicipi ubi manis nan legit berjuluk "Si Madu". Dari sekian banyak penjual, Tria memutuskan memilih satu warung yang menjajakannya. 

Memang, sebelum sampai di desa tersebut sebenarnya sudah banyak toko oleh-oleh di pinggir jalan sekitaran Cibiru yang menyediakan hui langsung dari oven. Tapi ia tetap pada pendiriannya untuk melihat suasana kampung penghasil ubi terkenal tersebut. Tria mengaku perjalanannya menjadi spesial namanya juga wisata dadakan buat mengenal budaya daerah.

Usut punya usut, hui Cilembu yang berasal dari Desa Cilembu Kecamatan Pamijahan Kab.Sumedang termasuk ke dalam kategori ubi jalar yang nampaknya menjadi salahsatu komoditas ekspor ke berbagai negara seperti Hongkong dan Unit Emirat Arab. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 menyebutkan ekspor ubi jalar dari Provinsi Jawa Barat mencapai 194 kwintal per tahunnya.

Pantas saja tak banyak warga lokal yang sengaja membuka warung ubi bakar Cilembu. Nampaknya kebanyakan dari warga menanam dan menjualnya dalam bentuk mentahan. Entah untuk dipasarkan ke berbagai daerah ataupun diekspor ke luar negeri.  Konon katanya, ubi dari desa ini tidak akan semanis jika ditanam di Cilembu. Si Madu menjadi julukan ubi ini karena setelah melalui proses pemanggangan atau pembakaran maka akan keluar cairan seumpama madu yang legit. 

Fakta menarik yang membuat orang lain penasaran. Banyak peneliti juga yang mencoba mencari tahu akan hal ini. Salah seorang mahasiswa dari  Magister Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung juga sempat meneliti tentang kandungan komposisi tanah yang menjadi media tanam ubi ini. 

Penelitiannya yang berjudul "Keanekaragaman Bakteri Rizosfer Pemacu Pertumbuhan Tanaman (Plant Growth Promoting Rhizobacteria/PGPR) selama Pertumbuhan Ubi Jalar Cilembu (Ipomoea batatas L var. Rancing)" tahun 2016 berkesimpulan bahwa bagian dari tanaman bernama rizofer (daerah yang dekat dengan akar tanaman yang tersedia di dalamnya gula sederhana dan asam amino untuk kelangsungan hidup mikroorganisme yang terdiri atas tanaman, tanah, mikroorganisme, nematoda dan protozoa) dalam ubi jalar Cilembu didominasi oleh bakteri jenis Bacillus. Jadi, bakteri inilah dan komposisi tanah subur daerah inilah yang menjadikan ubi jenis ini sangat manis.

Persoalannya, Sumedang sudah memiliki komoditas ubi jalar yang sangat potensial tentu sangat perlu dukungan juga sokongan lebih banyak dari pemerintah. Dari mulai pemerintahan setingkat warga, desa, kecamatan, kabupaten hinggan Kementerian Pertanian juga Kementerian Perdagangan dan Pariwisata untuk memberi nilai lebih. 

Agrobisnis ubi cilembu untuk memberikan nilai ekonomi bagi warga secara lebih optimal dari sekadar menanam dan memanennya dalam bentuk mentah. Agrowisata untuk memperkuat nilai potensi pariwisata. Juga berbagai perbaikan dan pembinaan lainnya. Nampaknya hal ini sudah diupayakan oleh banyak pihak. Apa yang diupayakan oleh semoga berbuah kebaikan. Masyarakat Cilembu pun semakin sejahtera.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun