Mohon tunggu...
Tholut Hasan
Tholut Hasan Mohon Tunggu... Maaf

Maaf

Selanjutnya

Tutup

Fesyen

Cara Berpikir yang Benar

4 Juni 2019   01:03 Diperbarui: 4 Juni 2019   01:09 0 0 0 Mohon Tunggu...

Isra' Mi'raj adalah satu kejadian yang luar biasa, berawal dari hal sederhana dan berakhir dengan sederhana pula. Yakni tidak diperlukan berfikir lebih jauh akan kejadian yang membuat berita panas di santero Arab saat itu, tapi hanya cukup melalui pendekatan imani saja. Seperti yang disikapi oleh Abu Bakar, "Apabila Muhammad yang mengatakan, maka itu benar adanya."

Namun meskipun begitu, masih saja ada orang yang menyangkal peristiwa itu. Dan untuk mengetahui kebenaran, agaknya kita perlu tahu cara berfikir yang benar. Sebelumnya perlu diketahui, bahwa sesuatu yang bisa menyampaikan pada ilmu ada tiga. Pertama, pendekatan indra. Panca indra yang akan memberikan kesimpulan akhir. 

Seperti daun itu warnanya hijau. Semua orang tahu kalau daun warnanya hijau cukup dengan melihat saja. Maka bagaimana kita bisa mengetahui Isra' Mi'raj dengan salah satu panca indra. Sedangkan indra kita terbatas adanya.

Kedua, pendekatan akal. Seperti terlihat dari dalam rumah sebuah cahaya bersinar di luar rumah. Tanpa kita melihat langsung ke matahari, semua orang tahu bahwa cahaya itu berasal dari matahari. Jika Isra' Mi'raj disikapi dengan pendekatan akal, dan mengetahui kebenarannya butuh pada pendekatan akal, maka yang pasti semua akal orang menolak dan tidak terima, karena mana mungkin ada perjalanan yang sangat jauh mulai dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu diteruskan ke langit tujuh ditempuh dalam waktu satu malam.

Akan tetapi, kita perlu tahu kaidah berfikir yang benar, "Jika ada sesuatu yang mungkin secara akal dan didukung oleh dalil naql, maka mutlak dikatakan benar. Dan jika sesuatu itu mungkin secara akal dan tidak didukung oleh dalil naql, maka mutlak tidak bisa dikatakan benar." Begitulah setidaknya yang dikatakan dalam buku Membungkam Kicauan Liberal, karangan Ust. Achyat Ahmad.

Nah, untuk itu, jika memang peristiwa Isra' Mi'raj tidak mungkin secara akal, bahkan semua orang menolaknya, tapi jika didukung oleh dalil naql dan referensi yang dapat dipercaya yaitu al-Quran, maka kebenarannya haruslah diterima dan tidak bisa disangsikan. Dan ternyata peristiwa Isra' Mi'raj terdokumentasikan dalam al-Quran dan menjadi peristiwa dari sebuah skenario Allah. Ini merupakan cara untuk sampai pada ilmu yang nomer tiga (dalil naql).

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Isra';[17]:1)