Mohon tunggu...
Anjas Permata
Anjas Permata Mohon Tunggu... Konsultan - The Architect

Professional Executive, Master Hypnotist, Professional Hypnotherapist, Blogger, Professional Mind Technology, Keynote Speaker, CEO 'Rumah Hipnoterapi' and Founder Hypnotic Empowerment

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Bagaimana Sebaiknya Menjadi "Bos Kecil" bagi Para Senior?

3 Agustus 2021   23:32 Diperbarui: 5 Agustus 2021   12:45 790 29 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bagaimana Sebaiknya Menjadi "Bos Kecil" bagi Para Senior?
ilustrasi bos kecil. (sumber: istockphoto via kompas.com)

Promosi karir atau naik jabatan merupakan hal yang lumrah di lingkungan kantor. Rasanya membanggakan ketika kerja keras yang sudah dilalui membuahkan sebuah kepercayaan untuk menduduki jabatan baru.

Setelah memegang tongkat kepemimpinan, biasanya Anda akan dihadapkan pada berbagai permasalahan. Salah satunya ialah bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik bagi tim. Apalagi kalau anggota tim Anda diisi oleh orang-orang senior.

Diantara mereka mungkin ada yang bisa menerima Anda sebagai pemimpin, namun tidak jarang bisa saja ada yang tidak suka, iri hati, tidak menghormati bahkan tidak mau mendengar perintah Anda. 

Memang senioritas di kantor ini kadang-kadang merepotkan. Di satu sisi mereka telah bekerja lebih lama, tetapi di sisi lain Anda adalah pemimpin yang memiliki wewenang untuk memberikan instruksi.

Sebaliknya, ada juga fenomena para pemimpin muda yang belum mampu menempatkan diri sebagai pemimpin. Sindrom "bossy" sangat rentan dialami oleh leader-leader junior atau"Bos Kecil".

Istilah "Bos Kecil" saya dapatkan dari Abdul (nama samaran) seorang support staff kantor yang kala itu tengah berbincang santai bersama saya. Dia menceritakan pernah dipimpin oleh seorang leader yang sangat tempramental.

Sifat pemarah itu acapkali ditunjukkan saat ada yang berbuat salah. Menggebrak meja, membanting pintu, berteriak dan memaki adalah sederet perilaku negatif yang ia perlihatkan. Bahkan seringkali bos kecil ini juga melakukan silent treatment selama berbulan-bulan kepada anggota tim.

Awalnya saya tercengang mendengar kisah Abdul, seakan tak percaya karena bos kecil yang diceritakan sejatinya adalah kolega saya juga. Memang dia baru saja di promosikan menjadi manajer di salah satu kantor cabang. 

Beberapa hari kemudian, tidak sengaja saya bertemu Slamet (nama samaran) seorang supervisor, bawahan bos kecil di warung kopi dekat rumah. Saat asyik mengobrol, tetiba dia menceritakan perilaku bos kecil.

Persis seperti apa yang diceritakan Abdul sebelumnya, bahwa bos kecil sering marah-marah dan membuat suasana kantor tidak nyaman. Hampir semua karyawan tidak menyukainya. 

Abdul dan Slamet merupakan 2 orang yang bisa dibilang lebih senior dibandingkan bos kecil. Secara usia terpaut 8 tahun dan masa kerja selisih 4 tahun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x