Thamrin Sonata
Thamrin Sonata wiraswasta

Freelance writer

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Partai Merah Tanpa Setan di Depannya

17 April 2018   11:57 Diperbarui: 17 April 2018   12:06 438 3 0
Partai Merah Tanpa Setan di Depannya
Amien Rais, foto: dok. Merdeka.com


Setan Merah (Red Devils) bisa mengobrak-abrik garis pertahanan lawan yang diprediksi akan menekuknya. Dan bahkan kemudian membalikkan semua prediksi pengamat kelas atas sekalipun. Pertandingan, kemudian,  dimenangkannya dengan gol-gol manis.

Apakah predikat setan (merah) itu menakutkan? Tergantung. Kalau sedang berhadapan langsung, lawan bisa berpikir keras dan harus mempertahankan semua lini. Sama seperti seorang pengamat yang menyebut: Rawon setan apakah berarti sesuatu yang berkonotasi menyeramkan untuk makanan khas Jawa Timur itu? "Makanya, baru disebut Partai setan saja marah," kata pengamat itu.

Wah, salah lagi. Kalau orang partai yang disinggung secara tak langsung oleh Prof. Amien Rais itu marah, berarti ia memang bukan dari kelompok "partai setan". Sekaligus mestinya ia sahabat dari apa yang disebutkan secara tak langsung pentolan PAN itu. Sama-sama dari Partai (yang beraliran putih yang diridhoi) Allah.

Tak ada partai setan di negeri ini. Perangainya pun mestinya tidak. Dan kenapa Amien Rais kemudian dilaporkan oleh mereka yang juga bukan kelompok partai setan.

"Hari ini kita buat laporan polisi terkait dengan terlapornya adalah saudara bapak AR (Amien Rais) berhubungan dengan adanya kutipan di media sosial yang saya lihat sendiri," ucap Ketua Cyber Indonesia, Aulia Fahmi, kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Minggu (15/4/2018).

Ribet, jadinya. Apa ini berarti frasa setan itu yang tak mengenakkan pihak yang berada di luar PAN-PKS-Gerindra yang diklaim berada di kelompok bukan setan. "Bukan hanya PAN, PKS, Gerindra, tapi kelompok yang membela agama Allah, yaitu hizbullah. Untuk melawan siapa? untuk melawan hizbusy syaithan. Orang-orang yang anti-Tuhan, itu otomatis bergabung dalam partai besar, itu partai setan," sebut Amien Rais.

Mainan kecil untuk kata-kata bersayap bagi seorang lokomotif reformasi, yang kemudian menerima gelar guru besar dari UGM setelah mendirikan PAN. Partai dengan matahari mencorong itu, memang ditinggalkan beberapa pendirinya yang tak sejalan dengan mayoritas orang-orang dekat Amien Rais. Mereka, intelektual yang awalnya (MARA) menyebut partai plural, di mana pendirinya beragam latar belakang agama dan sosial telah menjauh. Sekjennya Faisal Basri yang nasionalis pun hengkang. Lebih memilih sebagai pengamat ekonomi sebagai basisnya.

Partai merah (marah?) yang ada di luar tiga partai dekat Amien Rais jelas pula bukan partai setan. Dan tak bersedia disebut sebagai "kelompok" setan, tentu. Kalau sudah begitu, mestinya tak perlu diperpanjang. Ini bagian dari sebuah "politik" tingkat tinggi seorang guru besar ilmu politik di UGM.

Sayangnya, memang, Prof Amien Rais jenis politikus yang sejak sebelum Orde Baru tumbang seorang "demonstran" yang keras kepala. Itu saja. ***  

 

Sumber tulisan: news.detik.com