Mohon tunggu...
Khulfi M Khalwani
Khulfi M Khalwani Mohon Tunggu... Freelancer - Care and Respect ^^

Backpacker dan penggiat wisata alam bebas... Orang yang mencintai hutan dan masyarakatnya... Pemerhati lingkungan hidup... Suporter Timnas Indonesia... ^^

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Eksotisme Cagar Biosfer Lore Lindu: Pesona Mutiara Khatulistiwa

29 Juli 2022   16:32 Diperbarui: 29 Juli 2022   16:42 1333
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri
Dokpri

Rasanya seperti mimpi. Saya bisa menjejakkan kaki di lembah Behoa. Sebuah lokasi memukau, tempat dimana situs cagar budaya megalitik Tadulako berada, tepatnya di Desa Bariri, Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso. Di kawasan ini, terdapat lebih dari 15 cagar budaya yang saya jumpai, berupa patung megalitik, batu dakon, kalamba dan altar batu.

Tadulako dalam bahasa daerah Sulawesi Tengah adalah sebutan bagi para panglima perang. Tugas para Tadulako adalah menjaga keamanan negeri/ tanah suku atau desa dari serangan musuh. Merekalah garda terdepan dalam merawat pertahanan atas negeri atau desa tersebut.

Dokpri
Dokpri

Menurut cerita rakyat setempat, Tadulako adalah panglima perang yang tersisa dari sebuah perang suku di zaman sekitar 3.000 tahun sebelum masehi. Inilah kisah panglima perang yang tak pernah terkalahkan dalam berbagai peperangan. Konon kesaktian yang dimilikinya membuat lawan-lawannya tak berkutik dan ia berhasil membebaskan Tanah Lore, negeri Poso dari penaklukan suku-suku lainnya. Namun akhirnya dia dikutuk menjadi batu karena sebuah kesalahan. Sebuah cerita rakyat tentang bagaimana seharusnya pemimpin juga harus memiliki prilaku yang baik.

Sore menjelang rintik hujan kembali hadir. Kami beranjak meninggalkan desa Bariri. Beranjak senja kami sampai di Penginapan Berkat di desa Doda untuk bermalam. Sebuah penginapan sederhana yang sangat direkomendasikan jika anda mengunjungi cagar budaya megalitik. Fasilitas WiFi adalah barang pertama yang saya cari Ketika sampai disini. Untunglah tersedia voucher seharga Rp 15 ribu, cukup waktu selama 6 jam kedepan untuk update pengalaman ini di media sosial.

Dokpri
Dokpri

Malam di desa Doda begitu damai terasa. Penerangan di desa bersumber dari pembangkit listrik  skala mikro ( 1 MW) dan mini ( 10 MW) yang dikelola desa. Sebuah jasa ekosistem dari aliran air taman nasional Lore Lindu yang harus selalu dijaga.

Setelah makan malam kami berencana untuk mengunjungi situs megalitikum Pokokea. Konon dari sana, selain situs budaya kita bisa melihat hamparan langit penuh bintang. Namun apa daya, cuaca hujan rintik mengurunkan niat kami. Langit malam di lembah behoa masih tertutup mendung tipis.

Dokpri
Dokpri

Malam ini kami hanya mengobrol dan mendengar cerita pemandu tentang Lore Lindu. Adalah bang Raimon salah satu masyarakat mitra binaan Taman Nasional Lore Lindu. Dari seorang penambang hutan saat ini menjadi petani kakao dan aktif dalam kegiatan ekowisata. Lalu ada bang Hendry kadoy, masyarakat desa Doda yang mengenalkan kami dengan tutur bahasa Behoa yang sangat baru bagi saya. Ada tiga bahasa daerah utama yang biasa digunakan oleh masyarakat di Cagar Biosfer Lore Lindu, yaitu bahasa Napu, bahasa Bada dan bahasa Behoa, terangnya pada kami.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun