Mohon tunggu...
Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Mohon Tunggu... ASN - Pegawai Negeri Sipil

Pro Deo et Patria

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Maaf Diary, Catatan Kita Berakhir Sampai di Sini

7 Oktober 2020   02:22 Diperbarui: 7 Oktober 2020   02:45 447
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sambil menjaga apotek, saya berswafoto, "Bukan Clark Kent, yang sedang menjaga warung di hari Minggu yang cerah, di Apotek Bersama". Begitu caption-nya.

Dokpri
Dokpri
16 Feb 2018, Buanglah sampah pada tempatnya

Peribahasa sejak zaman purba itu masih saja menghantui. Bahkan hingga kini, anak saya sudah tiga.

Pada suatu ketika di 2012, saat hendak menyusun rencana induk tentang pengelolaan persampahan, seorang konsultan lingkungan mengatakan bahwa bangsa Jepang membutuhkan waktu 30 tahun untuk bisa membangun mental warganya, agar tidak membuang sampah sembarangan, alias membuang sampah ke tempatnya.

Kalau orang Jepang, dengan disiplinnya yang tinggi itu butuh waktu 30 tahun, maka berapa lama lagi waktu yang kita punyai, bila harus menunggu 30 tahun lagi (itupun kalau kampanye 'tidak membuang sampah sembarangan" dimulai hari ini), baru kita sanggup untuk sekadar membuang sampah pada tempatanya?, pikirku.

Sore itu, sebelum pulang dari taman, saya mengajak anak-anak untuk memungut sampah-sampah yang ditinggal pergi para pemiliknya tanpa rasa tanggung jawab. Beruntung, anak-anak tampak antusias.

Memungut sampah (Dokpri)
Memungut sampah (Dokpri)
"Tidak apa-apa tangan dan kaki kalian jorok karena memungut sampah sore ini. Nanti kita minta sabun antiseptik sama mamak di Apotek", kataku. Aku hanya ingin supaya mereka tahu, keadaan seperti apa yang dihadapi para petugas kebersihan setiap hari, yang harus memunguti sampah yang dibuang sembarangan.

14 April 2018, Waktu akhir pekan untuk keluarga

Saya tidak terbiasa di epistem persepakbolaan, maka di sela-sela pertandingan Barcelona FC melawan Valencia malam itu, saya melawan anak yang paling tua di atas papan catur. Anak saya terbiasa bermain catur melawan kakek-kakek di kedai kopi milik kakeknya.

Seperti kata Rob Fisher, bahwa secara alamiah semua orang adalah filsuf. Bagi istri saya, filsafatnya mungkin untuk memberikan konsultasi farmasi sebaik mungkin, agar obatnya terjual dan dikonsumsi tepat sasaran dan tepat penggunaan.

Sementara itu di atas papan catur, bagi anak saya mungkin filsafatnya adalah melakukan langkah bukaan sebaik mungkin, dan membangun strategi untuk sedapat-dapatnya menyerang sekaligus membangun pertahanan. Niatnya, untuk dapat membuka peluang langkah jebakan bagi saya sebagai lawan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun