Mohon tunggu...
Marjono Eswe
Marjono Eswe Mohon Tunggu... Alumnus UNS, SP2W Desa Miskin Indonesia, Penulis Lepas

Pernah bekerja pada penerbit di Solo, pernah bekerja sebagai SP2W Desa Miskin, seorang ASN Pemprov Jateng, Redaksi Majalah Nusa Indah Semarang, Wasek Pengda KMA-PBS Pengda Jateng

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jalan Tol Ramah Pedesaan

14 Juli 2020   12:15 Diperbarui: 14 Juli 2020   12:18 23 4 0 Mohon Tunggu...

Sudah beberapa waktu jalan Pantura atau ruas Daendels sedikit lega, paska jalan tol trans jawa, dari jakarta hingga banyuwangi terus beroperasi meski secara bertahap pemerintah menyelesaikan konstruksi infrastruktur tersebut yang tentu tak sedikit menyerap anggaran.

Memang jer basuki mawa bea, walaupun keluar banyak dana untul jalan tol, sedikitnya mampu mereduksi beban jalan Pantura sekarang. Artinya anggaran untuk jalan Daendels pun juga beringsut bisa dihemat, karena perbaikan jalur Pantura selama ini rumor yang beredar sebagai proyek abadi. Label itu tentu kurang tepat, karena kondisional jalan harus diperbaiki, lain tidak.

Lantas, apa korelasinya jalan tol dengan ekonomi pedesaan atau kerakyatan kita? Banyak yang bisa didapatkan dari proyek jalan tol, tapi juga tak sedikit yang senyap bahkan lenyap sebagai efek domino pembangunan tol ini. 

Jika dulu sebelum tol jateng, yakni mulai dari Brebes hingga sragen, telah berdiri banyak sektor ekonomi riil menggantungkan hidupnya dari kawan baik pengguna jalan Pantura.

Seperti warung makan, hotel, panti pijat, pedagang asongan maupun gerai-gerai yang memunguti rejeki jalur Pantura. Pemandangan itu mulai berubah sejak ada Tol, meski tidak secara total, untuk mampirnya para pengguna jalan yang sedikit menaburkan recehannya di jalan lama itu.

Kini tol trans jawa telah membantu mengurangi kemacetan kota atau sepanjang Pantura, beruntungnya lagi, secara tidak langsung jalan tol telah melemahkan kalau tak disebut mematikan praktik ekonomi underground, semisal karaoke liar, panti pijat ilegal, drugs dan bisnis remang-remang (prostitusi), dan sebagainya. Di luar itu, arus ekonomi masyarakat menjadi tak tersendat khususnya transportasi dari desa ke kota.

Diakui, beberapa ruas jalan tol telah berubah menjadi destinasi wisata yang menarik, seperti ruas tol Salatiga yang memesona dengan view pegunungan merbabu-merapi. Hal ini tentu menarik pengguna jalan untuk ber-swafoto atau sekadar mampir sejenak mencicipi wisata kulinernya. Sejak Brebes pun sejatinya kita dapat memanfaatkan munculnya jalan tol sebagai upaya ekspansi pemasaran bagi UMKM maupun usaha ekonomi produktif masyarakat pedesaan.

Di ujung barat Jateng kita bisa menikmati lezatnya telor asin dan sate blengongnya, kemudian tegal bersama hangatnya teh poci juga di pemalang, pekalongan dan batang kita pun bisa blusukan beroleh batik dengan harga terjangkau tapi tetap berkualitas.

Lain lagi di Kota Semarang dengan lumpia, wingko babat maupun bandeng prestonya, Salatiga dengan panorama tol terindahnya, Boyolali dengan wisata susu perahnya, kemudian Solo dengan berbagai motiv batik, kuliner thengkleng, nasi timlo juga produk utama lainnya.

Simpul-simpul tol itu punya prospek ekonomi yang cukup menantang, karena di sepanjang tol itu juga telah dilengkapi  dan ditambahkan beberapa rest area baru yang memadai untuk melepas penat. Di beberapa titik itu ada mini market, coffe maupun usaha yang hanya dimiliki pengelola jalan tol.

Paradoksal memang, ketika jalan tol merangsek, membelah wilayah pedesaan tentu sebagian mata pencaharian dan ruang-ruang ekonomi warga juga turut tergusur. Sementara mereka susah untuk mengakses produk usahanya memasuki jalan tol, tepatnya di rest area. Sedangkan untuk membuka gerai atau counter mandiri di lokasi strategis yang berdekatan jalan tol, harga sewa lahan atau belinya sudah melangit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x