Mohon tunggu...
Tedy Sanjaya
Tedy Sanjaya Mohon Tunggu... Insinyur - Industrial Engineer

writer | salafiyyun insyaallah | industrial engineer | supply chain & customer care specialist

Selanjutnya

Tutup

Politik

(Mengaku) Pancasilais Sejati

3 Juni 2017   13:15 Diperbarui: 3 Juni 2017   17:05 1567
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Banyak yang mengaku pancasilais sejati tetapi baru sila pertama saja sudah gagal.

Ketuhanan yang Mahaesa, artinya berketuhanan, simpelnya menjalankan perintah-Nya, meninggalkan larangannya.

Tapi berapa banyak orang yang justru terbalik, yakni meninggalkan perintah-Nya, menjalankan larangan-Nya. Merokok, minum alkohol, makan-makanan yang haram, korupsi, konsumsi narkoba, tidak berhijab, menghina agama lain, menistakan kitab suci agama lain, mendukung orang yg menistakan agama dan kitab suci agama lain, tidak mempercayai kitab suci agama sebagai kebenaran yang mutlak, dan masih banyak lagi.

Soekarno dan bapak-bapak bangsa yang lain susah payah dalam membuat dasar negara kita ini, namun nama pertama yang paling berpengaruh, tidak hanya pada terciptanya pancasila, tapi perannya untuk kemerdekaan republik dari penjajah. Tapi yang mesti kita tahu sekarang, bagaimana soekarno memiliki banyak karya untuk negeri? Kepada siapakah ia berguru?

Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, beliau adalah gurunya sekaligus mertuanya. Soekarno berguru kepadanya, di waktu yang sama bersama Semaoen, dan Kartosuwiryo. Dibanding yang lainnya, Soekarno lah sekiranya yang paling memahami pelajaran apa yang disampaikan oleh HOS Tjokroaminoto. Sekaligus, yang paling mengerti apa yang diinginkan sang guru.

"Setinggi-tinggi ilmu, SEMURNI-MURNI TAUHID, dan sepintar-pintar siasat." Begitu kata Tjokro.

Tjokroaminoto memasukkan tauhid dalam kalimatnya. Tauhid, dalam Islam, adalah hanya percaya kepada Tuhan yang satu, Tuhan yang Mahaesa. Maka dari yang demikian, tidak berlebihan jika kita menyebut Tjokroaminoto menelurkan bibit dasar negara ini melalui pemikirannya. Tanpanya, mungkin tak ada Soekarno seperti yang sekarang kita kenal. Soekarno yang merumuskan Pancasila berdasarkan ilmu dari Tjokro. Meskipun, kata Pancasila sendiri bukanlah Soekarno yang mengusulkan.

Dewasa ini kembali muncul orang-orang yang menasbihkan diri sebagai pancasilais sejati. Tapi apa mau dikata, sila pertama saja sudah gagal mengamalkan. Sialnya, arti pancasila saat ini digeneralisir oleh sebagian orang menjadi membela minoritas sekalipun ia salah secara hukum dalam rangka toleransi, lalu dikembangkan sedemikian rupa dan menjadi dogma "Kalau tidak dukung minoritas (meskipun salah) berarti tidak Pancasilais".

Tidak, Soekarno tidak membuat pancasila untuk hal-hal absurd seperti itu. Sebab, kebhinekaan kita adalah kenyataan, bukanlah tujuan. Tujuan kita yang sebenarnya adalah mengamalkan pancasila sesuai dengan pemahaman bapak bangsa.

Pengamalan pancasila yang sesungguhnya adalah menunjukkan persatuan diantara masyarakat, bukan membuat masalah yang menjadikan masyarakat terpecah belah. Cara mengamalkan Pancasila yang sesungguhnya yaitu mengapresiasi anak bangsa yang jelas-jelas membuat karya nyata yang bermanfaat untuk negeri, melalui penelitiannya sendiri. Bukan memberikan penghargaan kepada yang hanya sekedar membuat tulisan menggemparkan negeri, meskipun bukan tulisan atau hasil riset sendiri.

Lalu kenapa ini bisa terjadi? Apakah Perumusan Pancasila memang salah?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun