Mohon tunggu...
Taufiq Sudjana
Taufiq Sudjana Mohon Tunggu... Administrasi - Menulis adalah kegiatan lain di sela pekerjaan di sebuah sekolah swasta di Kota Bogor.

Bacalah dengan Nama Tuhanmu, dan ... menulislah dengan basmalah!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tak Ada yang Lebih Jujur dari Cermin

29 Agustus 2020   01:22 Diperbarui: 29 Agustus 2020   19:15 588
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Selama ribuan tahun cermin dianggap benda paling sempurna yang bisa menampilkan citra diri kita. Setelah sebelumnya orang berkaca di air, pada benda logam, atau alat-alat lain yang direkayasa bisa menampilkan bayangan di hadapannya.

Tidak ada benda yang dapat seutuhnya menampilkan citra visual diri kita sendiri. Selama kurun waktu itu sampai sekarang pun cermin masih menjadi pilihan utama, meski sudah ditemukan kamera.

Kamera adalah produk yang berkembang seiring kemajuan teknologi. Kemampuan kamera hingga kini semakin dahsyat hingga bisa menangkap detil sebuah obyek. Bahkan seringkali ada obyek tak kasat mata yang tertangkap kamera.

Bukan hanya itu, modifikasi kamera bisa “membohongi” mata telanjang. Gambar yang dihasilkan berupa foto menampilkan citra makin cantik (atau ganteng) orang yang dibidiknya.

Teknologi kamera kini menyatu dalam genggaman sebuah ponsel pintar. Semakin mudah digunakan dan semakin bertambah fungsinya. Teknologi digital mampu menemukan cara menampilkan detil gambar, menambah efek, memperhalus obyek gambar, bahkan merekayasa sedemikian rupa, pemotongan bagian per bagian juga menggabungkan dengan obyek foto yang lain.

Lantas, muncul pertanyaan dalam benak saya, adakah yang lebih jujur selain cermin? Sementara kamera seringkali diikuti piranti lunak untuk menyunting gambar. Cermin menampilkan sosok yang ada di hadapannya secara apa adanya. Penilaian tergantung pandangan subyektif yang melihatnya.

Namun ternyata standar subyektifitas itu sudah tercemar opini publik. Gaya rambut, model berbusana, warna pilihan, bahkan sampai pose bibir manyun atau menyong-menyong pun menjadi standar gaya ketika swafoto.

Apa yang patut kita renungi dari fenomena tersebut? Standar yang dipakai kini lebih ke penyesuaian dengan opini publik yang berkembang. Tidaklah keliru jika standar itu mengacu pada landasan yang jelas. Misalnya model berbusana, selera orang tentu berbeda.

Apa yang dijadikan landasan berbusana itu sekarang bukan saja berfungsi sebagai penutup tubuh. Melainkan sudah menjadi citra diri dalam status sosial dan pergaulan. Seseorang dengan bangga menunjukkan kelasnya dari merek pakaian yang dikenakannya. Ia pede dengan baju model terkini seperti yang ada di iklan.

Padahal, hakikatnya pakaian itu dibuat untuk melindungi tubuh. Dari tinjauan kesehatan pun pakaian berfungsi melindungi dari serangga yang datang, serta menambah fungsi daya tahan tubuh dari panas dan dingin. Terlebih dari sisi ajaran agama (Islam), bahwa pakaian adalah alat untuk menutup aurat.

Standar penampilan kini bukan muncul dari aturan. Opini publik serta merta digiring untuk menyepakati sebutan cantik, tampan, dan menarik itu dari suguhan iklan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun