Taufiq Rahman
Taufiq Rahman Profesional

Menulis karena ingin berbagi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

UU ITE Mengintai Pelaku Body Shaming, Masihkah Orang Berani Melakukannya?

4 Desember 2018   20:52 Diperbarui: 4 Desember 2018   21:05 680 5 4
UU ITE Mengintai Pelaku Body Shaming, Masihkah Orang Berani Melakukannya?
Sumber gambar ilustrasi: 123RF.com

Apakah Anda pernah tertawa terpingkal-pingkal dan ikut terlibat dalam komentar yang bersahut-sahutan di ruang WhatsApp usai membaca pesan dari seorang teman Anda ketika ia sedang mem-bully teman yang lainnya dengan menggunakan kekurangan fisik sebagai bahan candaan?

Sebutlah Anda saat itu sedang bergabung di WhatsApp grup (WAG) dengan sejumlah teman sekolah lama Anda. Dalam sebuah percakapan, salah seorang teman Anda teringat jika jari kelingking Panjul (bukan nama sebenarnya) yang cacat -- yang jika diperiksa lebih menyerupai cabe keriting, dan tiba-tiba teman Anda itu ingin bercanda. 

"Mungkin jari kelingking si Panjul sekarang tidak lagi seperti cabe keriting, karena sudah di smooting," tulis teman Anda di ruang WhatsApp. Lalu yang lain pun tertawa; hahahahahha - sambil tidak lupa menempelkan beberapa emotikon ketawa guling-guling.

Tawa terpingkal-pingkal disertai komentar bersahut-sahutan di WhatsApp grup teman-teman sekolah lama itu pun berlangsung berkepanjangan. "Keriting sedang apa keriting kecil?" teman yang lain pun menimpali. Hahahaha.

Ruang WhatsApp grup itu pun riuh dan lalu mereda setelah berganti topik percakapan.

Panjul diam. Sedikitpun ia tak membalas.

Jika ternyata Anda pernah mengalami seperti itu, maka Anda pun sama persis dengan saya.  

Dari hampir lebih 10-an WAG dari mulai group teman-teman kantor, professional, keluarga, teman-teman yang sehobi, saya (jujur) merasa paling sebal dengan grup WA teman-teman sekolah lama.

Mengapa saya tidak menyukai WAG teman-teman sekolah lama saya?

Mereka, teman-teman lama sekolah saya, seperti tidak pernah berubah: dulu begitu- hari ini juga begitu. Mereka masih saja suka mengolok-olok: menggunakan kekurangan sebagai bahan candaan. Saya paham, mungkin bagi sebagian dari mereka, ini adalah salah satu cara untuk membuat mereka semakin akrab. Tetapi, jujur, tidak bagi saya.

Saya memerhatikan salah seorang teman sekolah lama yang selalu memanggil nama teman-temannya dahulu dengan nama-nama alias: begol, klanthung, si cabe rawit dan nama orang tua. Baru reda sejenak, tangannya kembali sibuk memencet-mencet hape dan kembali ia menikmati candaannya.

Lama-lama, saya seperti merasakan bahwa setiap olok-olok yang digunakan sebagai bahan canda di WhatsApp grup (WAG) teman-teman sekolah lama itu ternyata adalah fobia yang dirayakan dan dinikmati bersama. 

Tidak ada pikiran sedikitpun, bagaimana perasaan dan malunya orang yang menjadi objek, yang (mungkin) orang itu bisa saja sangat dihargai di tempat pekerjaannya sekarang dan memiliki anak buah puluhan dan terpelajar, tiba-tiba kepadanya harus dipanggil dengan nama "hallo Painem!" atau "si jari kriting".

Tawa terpingkal-pingkal atas candaan dengan fitur fisik sebagai bahan lelucon disertai komentar bersahut-sahutan itu, saya pikir, tampak seperti ide konyol.

Jengah dengan candaan yang begitu merendahkan, saya pun akhirnya memutuskan tidak lagi membaca chat. Saya biarkan chat itu masuk ke gawai berhari-hari. Sampai ribuan. Lalu saya klik "clear chat".

Candaan dengan menggunakan kekurangan fisik itu, saya amati -- hari ini, seperti sudah menjadi norma atau hal sangat lumrah. Dan sialnya, sebagian orang sangat menikmatinya. Saya pun berpertanyaan: jika hape itu tidak pernah lepas semenit pun dari tanggnya, apakah teman saya dan orang-orang yang suka mengolok-olok itu benar-benar tidak paham atau tidak tahu bahwa orang yang dibully itu, dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), bisa membawa seseorang (penghinanya) ke muka hukum dengan tuduhan penghinaan, yaitu body shaming?

Tuduhan penghinaan atau komentar yang berunsur body shaming adalah komentar yang mengejek seseorang karena kekurangan fisiknya, seperti menghina bentuk wajah yang tidak simetris, jari yang keriting, bentuk tubuh yang membulat dan/atau komentar-komentar lain tentang cacat dan kekurangan fisik lainnya yang membuat seseorang tersebut malu atau dipermalukan. Pendek kata, orang itu merasa tidak berkenan.

Kini, saat UU ITE diterapkan, orang-orang tidak lagi bebas bercanda-canda. Berdasarkan salinan UU ITE di situs web.kominfo.go.id, pelaku penghinaan atau body shaming di media sosial kini dapat dijerat dengan Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (3) UU No. 11 Tahun 2008 dengan ancaman pidana penjara paling lama empat tahun dan/atau denda maksimal Rp 750 juta.

Membawa seseorang (penghina) ke muka hukum dengan tuduhan penghinaan karena kekurangan fisik, rasanya, memang seperti "kebablasan". Semestinya, olok-olok "cabe keriting" bisa diselesaikan dengan sangat mudah. Namun, kadang-kadang, tetap saja muncul pertanyaan; mengapa orang sangat mudah dan gemar melabeli seseorang hanya dari tampilan (kekurangan) fisik semata?