Taufiq Rahman
Taufiq Rahman Profesional

Menulis karena ingin berbagi

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Berebut Label "Nasionalis-Religius", Milik Siapa Sebenarnya?

10 Agustus 2018   18:26 Diperbarui: 10 Agustus 2018   19:28 367 1 0

Semua terkejut.

Menjelang ditutupnya masa pendaftaran pasangan capres-cawapres untuk Pilpres 2019, terjadi kejutan-kejutan.

Pertama, koalisi Jokowi ternyata memilih Ma'ruf Amin ketimbang Mahfud Md. Keputusan ini diambil hanya beberapa jam saja sebelum deklarasi.

Kedua, koalisi Prabowo ternyata memilih Sandiaga Uno sebagai cawapres, mengalahkan kandidat kuat AHY dari Demokrat, membuat berang Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief. Ia pun akhirnya melontarkan olok-olok 'jendral kardus'.

Semua memang terkejut. Forum online dan kolom komentar hari ini ramai oleh pelbagai respon dan komentar.  

Hari ini, banyak, atau mungkin hampir semua media online dan koran-koran cetak, menurunkan berita deklarasi capres dan cawapres untuk Pilpres 2019.  

Ditemani kopi sedikit pahit, saya membuka-buka halaman koran langganan kantor dan media online, pagi ini. Sudah lebih dari 10-an berita saya baca, sebelum perhatian saya tiba-tiba tertarik dengan salah satu tulisan di media online. Tulisan tentang pernyatanan presiden PKS.  

Seperti ditulis Detik.com (Jumat, 10/8/18, 00:12), Presiden PKS Sohibul Iman menilai Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno adalah pasangan yang tepat untuk memimpin Indonesia 2019-2024. Menurut Sohibul, pasangan ini merupakan kepemimpinan nasionalis dan religius.

"Pertama, saya ingin mengucapkan selamat kepada Pak Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno, yang malam ini mereka berdua di hadapan seluruh rakyat, di seluruh Tanah Air, mereka kita nobatkan sebagai capres-cawapres RI," kata Sohibul di rumah Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Kamis (9/8/2018).

Sohibul mengaku bahagia deklarasi ini dilakukan malam Jumat. Dia berharap deklarasi malam Jumat ini membawa berkah.

"Kedua tokoh kita ini merupakan tokoh yang sudah berkiprah dan berprestasi pada bidang masing-masing, sehingga sangat tepat memimpin Indonesia 5 tahun ke depan," ujarnya.

Di tempat yang lain, ditulis oleh Detik.com juga, Kamis (9/8/18, 20:54), Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) juga memuji sosok KH Ma'ruf Amin sebagai ulama berkarisma. Bamsoet menyebut perpaduan Joko Widodo dengan Ma'ruf merupakan perpaduan tepat antara nasionalis dan religius untuk Pilpres 2019.

Saya memerhatikan, ada satu hal kecil yang menarik dari kedua berita di atas. Saya tertarik pada label "Nasionalis-Religius", yang sama-sama diklaim oleh kubu Jokowi dan kubu Prabowo.

Baik kubu Jokowi maupun kubu Prabowo, memang kedua-duanya sama-sama mengklaim capres dan cawapres mereka adalah wakil atau kombinasi Nasionalis dan Religius. Kombinasi ini tiba-tiba menjadi sangat sesuatu hari ini. Ya, mungkin, oleh para elit politis label "Nasionalis-Religius", dalam hitung-hitungan matematika dan psikologis mereka, bakal menjadi ruh, mesin dan marwah perjuangan mereka menarik suara.

Menemukan label "Nasionalis-Religius", membuat saya ingat kata-kata Hendropriyono sebelumnya, beberapa bulan yang lalu.

Seperti banyak dituliskan, Hendropriyono, sebelumnya memang mengatakan, "Saya sudah pernah sampaikan kalau pemikiran yang cerdas dan pasti menang pada Pilpres itu ialah pasangan dari kalangan nasionalis, agama dan ekonomi bisnis," katanya usai menghadiri pengukuhan Kepala BIN Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan sebagai Guru Besar intelijen oleh senat guru besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN), di Kampus STIN, Sentul, Bogor.

Kata Hendropriyono lagi, kalau ada pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dari kalangan nasionalis, agama dan ekonomi, maka prediksinya, mereka akan memenangi Pilpres 2019.

Memang benar, bahwa label "Nasionalis-Religius" itu tidak benar-benar sama persis seperti yang diurai Hendropriyono, karena label itu tidaklah lengkap tanpa "ekonomi bisnis". Tetapi, saya kira, bukankah memang benar bahwa tugas kepala negara itu, sebenarnya, adalah menciptakan "a home and a great place" bagi pasukannya. 

Maka, sah-sah saja bila tugas "ekonomi bisnis" itu lalu diberikan kepada pasukannya. Presiden dan Wakil Presiden hanya lah memilih para pemain terbaik untuk diturunkan di lapangan. Jadi, secara tidak langsung, "Nasionalis-Religius" itu juga berarti "nasionalis, agama dan ekonomi bisnis".

Hendropriyono, dalam uraian yang lebih detail, juga menyebutkan bahwa siapapun yang akan menjadi presiden dan wakil presiden akan menghadapi tantangan berat ke depan. Tantangan tersebut adalah adanya ancaman disintegrasi sentral yang dapat mengganggu ideologi bangsa Pancasila. Jadi, siapa pun Presiden dan wakil Presiden, nasionalisme harus diletakkan di urutan paling depan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2