Ekonomi

Membangun Sektor Manufaktur dan Stabilitas Pasar Keuangan di Indonesia

14 November 2017   20:59 Diperbarui: 14 November 2017   21:03 272 0 0

Di tahun 2017, Dana Moneter Internasional memproyeksikan 5,1% sedangkan tahun ini Pemerintah Indonesia menargetkan produk domestic bruto tumbuh menjadi 5,2%. Dalam meningkatkan dana moneter tersebut, salahsatu langkah penting yang harus dilakukan Indonesia adalah membangun sektor manufaktur. Dengan adanya pertumbuhan dari sektor manufaktur maka akan mengurangi ketergantungan terhadap komoditas. 

Di Asia, resiko terbesar yang dihadapi adalah Sistem Perdagangan Global yang merupakan daya guna untuk pasar dalam negeri. Hal ini menunjukkan bagaimana hasil dari independennya perdagangan di Asia dengan persoalan keterbukaan ekonomi dan disrupsi ekonomi global di Asia mendatang. Dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, Indonesia masih termasuk negara yang lebih baik dalam perekonomiannya karena adanya dukungan kebijakan yang kuat dari Pemerintah, defisit anggaran dalam batas yang masuk akal, utang swasta terjaga dan juga kebijakan moneter yang baik yang telah dikelola oleh Pemerintah Indonesia. Maka penting bagi sebuah negara untuk melakukan komunikasi dengan publik perihal kebijakan dalam menjaga stabilitas keuangan. Sebab, integrase dengan pasar global dapat mendatangkan modal asing, tetapi juga bisa mendatangkan kerentanan global.

Ekspor Indonesia sangat bergantung pada komoditas? Ya, dapat dikatakan seperti itu oleh sebab itu Indonesia perlu membangun sektor manufaktur yang berupaya untuk reformasi struktural dalam Pemerintah, diversifikasi manufaktur dan kemajuan dalam perbaikan iklim bisnis. Dengan adanya kemudahan penanaman modal asing yang berinvestasi di Indonesia dalam industri manufaktur, dapat mendorong infrastruktur yang dapat membangun industry manufaktur di Indonesia.

Pelaksanaan 50th ADB Annual Meeting di Yokohama, Jepang pada Sabtu 6 Mei 2017 memberitakan bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan I-2017 di Indonesia yang mencapai 5,01 persen yang membuat pemerintah semakin yakin dengan momentum perbaikan ekonomi yang dianggap merata di berbagai aspek di Indonesia. Tak hanya pertumbuhan ekonomi yang membaik melainkan kinerja ekspor di Indonesia yang sudah jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya dan juga menginformasikan kondisi domestic sudah membaik dan sesuai dengan perkiraan Dana Moneter Internasional yang menyatakan ekonomi Indonesia tahun ini sudah membaik.

Ekspor, investasi, belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga di Indonesia berada di jalur yang benar. Dari sisi produksi, sektor pertanian pun tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kini, ekspor di Indonesia sudah naik hingga 8,04 persen pada triwulan I-2017 dibandingkan dengan periode sebelumnya yang hanya berada di 3,29 persen. Badan Pusat Statistik menyebutkan, produk domestic bruto Indonesia per triwulan I-2017 sebesar 3.227,2 triliun atau tumbuh 5,01 persen dalam setahun.

Para pelaku di pasar keuangan mulai bisa membedakan sentiment yang berasal dari faktor ekonomi dan faktor nonekonomi. Kegaduhan sosial dan politik belakangan ini tidak terlalu mempengaruhi pasar keuangan. Ini berbeda dengan pengaruhnya ke sektor riil. Sejauh ini dinamika politik dan isu kebinekaan tidak berpengaruh terhadap stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah. 

Indikatornya tidak bisa dilihat melalui kondisi pasar uang dari hari ke hari melainkan lebih pada tren saat ini yaitu pasar saham dengan indeks harga saham gabungan yang terus meningkat hingga rekor tertinggi di 5.675. Indikator lainnya adalah aliran modal asing yang masuk ke pasar obligasi Indonesia pada Januari-Mei 2017 yang mencapai 5,7 Miliar dollar AS. Aliran modal asing itu lebih tinggi dari yang masuk ke Thailand sebesar 3,4 miliar dollar AS. Dan adapun valuta asing yang rata-rata volume pasar per hari terus meningkat. 

Pasokan valas dari eksportir juga terus mingkat, hal ini yang menunjukkan kepercayaan terhadap mata uang rupiah menjadi tinggi. Pasar valas juga semakin likuid karena berjalannya mekanisme pasar. Berapapun kebutuhan valas, pasar tetap dapat memasok valas tanpa menimbulkan tekanan terhadap rupiah. Karena itu mata uang rupiah dalam setaun terakhir ini tetap terjaga stabil. Dan juga adapun di pasar uang antarbank suku bunga pasar tetap stabil. Selain itu OJK pun menyebutkan, stabilitas sektor jasa keuangan sudah terjaga.