Mohon tunggu...
Syifa Ann
Syifa Ann Mohon Tunggu... Penulis - Write read sleep

Alumni Sosiologi, Penyuka Puisi | Pecinta Buku Nonfiksi & Kisah Inspirasi. | Pengagum B.J Habibie. | Pengguna K'- Mobilian. | Addicted With Joe Sacco's Books. | Risk Taker. ¦ A Warrior Princess on Your Ground. | Feel The Fear, and Do It Anyway :)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pencari Suaka Berdemo, Mau Dibiarkan Sampai Kapan?

23 Agustus 2019   11:22 Diperbarui: 23 Agustus 2019   16:16 227
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tidak Ada orang yang Memilih Menjadi Pengungsi-- Salah satu poster yang dibawa oleh Pengungsi dari Negara Konflik dalam aksi Unjuk Rasa di depan kantor UNHCR di Makassar foto Oleh Rizal Faturohman/ Antara

Tragedi Sajjad-- Sumber Twitter Forgotten Refugees In Indonesia
Tragedi Sajjad-- Sumber Twitter Forgotten Refugees In Indonesia
Demi kenyamanan pembaca, gambar-gambar kematian tragis itu tidak saya sertakan di sini. Ironis mereka berlari dari perang dan mencari tempat yang lebih aman untuk melanjutkan dan mempertahankan hidup, tetapi ujungnya, kematian tragis menjemput mereka negeri orang.  

Sebuah tragedi kemanusiaan yang membuat saya menggumam sendiri; Jika mereka terus-terusan tertahan di sini, berapa nyawa lagi yang akan hilang?

Unjuk Rasa Putus Asa

Sudah 19 hari para pengungsi berdemo di depan kantor UNHCR di berbagai kota di Indonesia tanpa respon yang baik dari UNHCR mau dibiarkan Sampai Kapan? (Foto Rizal Fathurohman, Antaranews)
Sudah 19 hari para pengungsi berdemo di depan kantor UNHCR di berbagai kota di Indonesia tanpa respon yang baik dari UNHCR mau dibiarkan Sampai Kapan? (Foto Rizal Fathurohman, Antaranews)

Sudah 19 hari pengungsi luar negeri yang berada di sejumlah kota di Indonesia antara lain: Jakarta, Makassar, Pekanbaru, Medan, Tanjung Pinang dan Surabaya berdemo di depan kantor UNHCR di wilyahnya masing-masing, mereka turun ke jalan membawa sejumlah poster bernada keputusasaan dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Seperti "We Are Forgotten" (Kami dilupakan) dan "Alive but Not Living" (Hidup tapi tidak hidup) serta "Gradual Death" (Mati Perlahan) 

Salah satu Poster yang dibawa para pengungsi dalam aksi Demo di Makassar Foto Oleh Ali Froghi
Salah satu Poster yang dibawa para pengungsi dalam aksi Demo di Makassar Foto Oleh Ali Froghi
Bahkan tak hanya membawa poster, tapi sejumlah pengungsi di Jakarta sejak 20 Agustus 2019 lalu ada yang menginap di depan kantor UNHCR Kebon Sirih Jakarta sambil melakukan mogok makan. 

Mogok makan sebuah aksi berbahaya yang dilihat dari sudut pandang manapun pasti menimbulkan korban. Sampai kapankah akan dibiarkan? Sebuah seruan bagi pihak-pihak terkait untuk segera mengambil tindakan, sebelum jatuh korban sakit lebih banyak lagi. Ketimbang pendekatan ketertiban umum, rasanya pendekatan kemanusiaan akan lebih efektif untuk menghentikan aksi itu. 

Dengarkan jeritan mereka. Bahkan komunitas pengungsi di Indonesia menulis surat terbuka kepada Jokowi tapi, karena surat itu memuat konten gambar yang cukup sensitif surat tersebut tidak saya sertakan di sini.

Pengungsi di Jakarta melakukan mogok makan dan menginap di depan kantor UNHCR Jakarra Sejak 20 Agustus 2019 Sumber Facebook Page Indonesia Forgotten Refugees)
Pengungsi di Jakarta melakukan mogok makan dan menginap di depan kantor UNHCR Jakarra Sejak 20 Agustus 2019 Sumber Facebook Page Indonesia Forgotten Refugees)
Sebuah demo dan ragam aksi yang jika ditilik dari sudut manapun penuh dengan atmosfer kesedihan. Tentu saja demo dengan atmosfer kelam seperti itu mempengaruhi kondisi psikologis para pengungsi.

Banyak pula dari mereka yang menjuluki diri sendiri sebagai Manusia Ilegal (Illegal Human) sebuah self labeling menyedihkan yang mencerminkan kondisi psikologis mereka selama masa transit di Indonesia, dan tentu saja tidak ada satupun manusia yang ilegal di dunia ini.

Salah satu pengungsi di Indonesia yang merasa dan menyebut dirinya sebagai Manusia Ilegal. Kondisi menyedihkan ini merupakan refeksi tekanan psikologis yang dialami Para pengungsi yang tansit di Indonesia selama bertahun-tahun (Dok Pribadi dengan Penyensoran)
Salah satu pengungsi di Indonesia yang merasa dan menyebut dirinya sebagai Manusia Ilegal. Kondisi menyedihkan ini merupakan refeksi tekanan psikologis yang dialami Para pengungsi yang tansit di Indonesia selama bertahun-tahun (Dok Pribadi dengan Penyensoran)
Dalam unjuk rasa tersebut mereka menuntut percepatan proses untuk diberangkatkan ke negara ketiga. Why Refugees Are Forgotten In Indonesia?  Begitu bunyi salah satu poster yang mereka bawa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun