Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Edukator Dana Pensiun. Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 39 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor serta penasehat Forum TBM Kab. Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Catatan HUT Kemerdekaan RI, Banyakin Cinta Sedikitin Benci

17 Agustus 2022   09:06 Diperbarui: 17 Agustus 2022   09:08 126 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: TBM Lentera Pustaka

Dirgahayu Republik Indonesia!

Bersyukur dan bangga menjadi warga negara Indonesia. Karena hingga kini, masih bisa beribadah dengan aman dan tenang. Masih bisa bermedia sosial tanpa perasaan takut. Masih bisa berpendapat sesuka pikiran. Hingga bisa "ngomongin negara" secara terbuka di televisi. Sementara di negara lain, ada yang masih berjibaku dengan perang saudara, bahkan perang antarnegara seperti Ukarina vs Rusia.

Harus diakui, bangsa Indonesia memang belum mampu menyejahterakan semua rakyatnya. Masih punya utang yang tidak kecil, bahkan korupsi pun merajelela. Sekalipun 77 tahun sudah meredka, masih banyak "pekerjaan rumah" yang harus diselesaikan. Ada banyak agenda yang harus dibenahi. Tapi bangsa Indonesia sudah berada di "jalur yang benar". Untuk berani mengoreksi diri sendiri, berani memperbaiki diri. Tentu, secara bersama-sama.

 Bahwa bangsa ini masih banyak orang miskin, jawabnya iya. Masih punya utang, pastinya iya. Masih banyak yang belum bekerja, jawabnya pun iya. Masih tergantung produk impor, iya. Tapi bangsa Indonesia pun terus berjuang. Agar mampu keluar dari masalah sosial ekonomi yang masih melanda. Yang jelas apa pun keadaaannya, bangsa Indonesia tidak pernah menangis. Bahkan tidak miskin hati untuk terus ikhtiar baik.

Jadi, apa yang kurang dari bangsa Indonesia?

Mungkin hari ini, bangsa Indonesia hanya kurang berpikiri positif. Karena terlalu banyak poikiran, sikap, dan perilaku negatif kepada bangsanya sendiri. Kurang berpikir positif dan optimis, bahwa semua masalah pasti ada solusi. Jujur, bangsa Indonesia harus "membanyakkan cinta, menyedikitkan benci". Sehingga fokus pada hal-hal yang bersifat produktif. Tidak membuang-buang waktu untuk hal yang sia-sia. 

Terkadang kurang fair. Bahkan tidak elegan. Orang-orang pintar yang hanya mampu mengumbar "narasi" di media sosial. Untuk mengupas tuntas bobroknya bangsa Indonesia. Menguliti lemahnya pemimpin sendiri. Memvonis sebagai bangsa yang paling koruptif, pemerintah yang tidak becus. Hukumnya tumpul dan orang miskinnya paling banyak. Itu opini dan belum tentu sepenuhnya benar. Karena dilahirkan dari pikiran yang negatif. Lalu membabi-buta untuk membandingkan dengan negara lain. Seolah bangsa lain lebih hebat dari bangsanya sendiri. Orang-orang yang terlalu banyak benci tapi sedikit cinta.

Banyakin cinta, sedikitin benci.

Itulah kata kunci yang dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini. Perbanyak cinta, perkecil benci. Itulah karakter penting bangsa Indonesia di Hari Kemerdekaan ke-77 RI. Agar bisa lebih maju, lebih baik lagi ke depan. Untuk apa membenci bangsa sendiri, mencerca rupa nusantara. Bukankah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung? 

Dirgahayu Republik Indonesia. Banyakin cinta sedikitin benci. Siapa pun boleh berbeda di negeri ini. Beda pilihan politik, beda idola pemimpin. Beda partai, beda cara pandang. Perbedaan itu lumrah. Tapi di saat yang sama, siapa pun harus tetap gentle untuk bilang "satu nusa satu bangsa". Karena siapa pun warga negara Indonesia, lahir, hidup, dan akan mati di tanah bangsa Indonesia. Di bumi pertiwi Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan