Syarif Yunus
Syarif Yunus Karyawan Swasta

Konsultan di DSS Consulting, Pengajar Pendidikan Bahasa Indonesia & Edukator Dana Pensiun. Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak. Pendiri TBM Lentera Pustaka. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Sekjen IKA FBS UNJ (2013-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis & Editor dari 22 buku. Buku yang telah cetak ulang adalah JURNALISTIK TERAPAN & "Kompetensi Menulis Kreatif", Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis". Pendiri & Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Gn. Salak Bogor. Owner & Education Specialist GEMA DIDAKTIKA, Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA, Pengurus Asosiasi DPLK Indonesia (2003-Now). Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Jadikan Investasi sebagai Gaya Hidup

12 Juli 2018   00:54 Diperbarui: 12 Juli 2018   01:53 806 0 0
Jadikan Investasi sebagai Gaya Hidup
(repubblica.it)

Lebaran telah usai. Badan lelah, uang habis. THR pun lenyap entah ke mana? Tidak tersisa bahkan tabungan pun ludes. Itu semua terjadi karena kita tidak mampu mengendalikan nafsu konsumtif. Terlalu membesarkan gaya hidup. Hingga "gagal" menjadikan investasi sebagai gaya hidup. Kocek terkuras akibat gaya hidup.

Adalah fakta, lebaran sering dijadikan momentum "unjuk diri". Maka, banyak orang kalap dalam memperlakukan uang. Tidak sedikit dari kita yang berhutang hanya untuk keperluan lebaran. Pinjam sana, pinjam sini, hanya buat lebaran. Lagi-lagi tiap usai lebaran, kantong cekak, tabungan ludes. Wajar banget. Prinsipnya sederhana, habiskan saja selagi masih ada.

Patut dikoreksi, begitulah cara orang zaman now dalam mengelola keuangan. Usai lebaran kali ini, cara pandang tentang uang dan investasi harus mulai dibenahi. Kita boleh berhasil "menahan diri" selama puasa. Tapi di saat yang sama, kita gagal menahan diri dalam urusan uang dan investasi.

Maka usai lebaran, jadikanlah investasi sebagai gaya hidup. Karena gaya hidup bukan hanya urusan status sosial, bukan soal mengumbar nafsu konsumtif. Apalagi untuk kepentingan pamer atau urusan yang tidak terlalu penting. Kenapa uang kita habis? Karena kita terlalu gemar mempertontonkan gaya hidup dan nafsu konsumtif. Bertindak karena "keinginan" bukan karena "kebutuhan".

Ada pepatah "lebih besar pasak daripada tiang". Artinya, pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Pepatah itu menjadi bukti orang-orang yang gagal mengelola keuangan. Maka ke depan, mereka patut jadikan investasi sebagai gaya hidup.

Investasi bukan soal "gimana nanti". Tapi investasi adalah "nanti gimana".

Mulailah untuk investasi agar lebaran tahun depan tidak lagi mengandalkan THR, tidak lagi kehabisan uang. Caranya sederhana, memulai investasi dari sekarang. Memulai investasi semampu kita, dari dana yang ada pada diri kita.

Gimana cara menjadikan investasi sebagai gaya hidup?

Sederhana, mulailah sisihkan dana 10%-20% dari gaji setiap bulannya untuk investasi. Caranya dengan ikut menjadi investor reksadana. Karena reksadana adalah salah satu instrumen investasi yang cukup prosfektif. Maka, jadikan investasi sebagai gaya hidup. Karena dengan begitu, kita pun bias terbeas dari beban keuangan di masa depan sekaligus mampu mempertahankan gaya hidup.

Salah satu bentuk reksadana yang dapat dipilih, antara lain berbentuk RDPT (Reksa Dana Pendapatan Terbatas) berupa Surat Berharga Perpetual. Hebatnya, reksadana ini tidak memiliki tanggal jatuh tempo namun memberikan rate 8.25% pa dengan pembayaran kupon setiap 3 bulan. Selain itu, DIRE Ciptadana pun dapat menjadi pilihan dalam memulai dan membiasakan investasi.

Caranya, pilihlah manajer investasi yang mengelola dana nasabah secara profesional. Untuk memastikan target investasi dan bertumbuhnya kekayaan finansial kita bersama CAM. Saat berani membuat keputusan investasi yang tepat, maka di situlah investasi telah menjadi gaya hidup kita ... #CIPTAinvestasi