Syarif Yunus
Syarif Yunus Karyawan Swasta

Pekerja & Pemerhati Pendidikan Bahasa. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Sekjen IKA FBS UNJ (2013-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis & Editor dari 17 buku. Buku yang telah cetak ulang adalah JURNALISTIK TERAPAN & "Kompetensi Menulis Kreatif", Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis", dan buku "Bahasa di Panggung Politik; Antara Kasta dan Nista". Pendiri & Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Gn. Salak Bogor. Owner & Education Specialist GEMA DIDAKTIKA, Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA, Pengurus Asosiasi DPLK Indonesia (2003-Now). Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Kisah Anak Yatim dan Janda Binaan Cileungsi, Ada Sedih Ada Gembira

13 Juni 2018   22:48 Diperbarui: 13 Juni 2018   23:12 333 0 0
Kisah Anak Yatim dan Janda Binaan Cileungsi, Ada Sedih Ada Gembira
dokumentasi pribadi

"Alhamdulillah Pak, ini bisa buat beli beras di saat lebaran. Terima kasih, semoga Bapak sehat selalu.." ujar Ibu Oon, salah satu janda binaan saya di Cileungsi yang sudah menjanda lebih dari 16 tahun.

Tahun 2018 ini, adalah tahun ke-7 saya dan keluarga membina anak-anak yatim dan janda di daerah Cileungsi. Kenapa binaan? Karena mereka mengaji secara rutin setiap bulan dan mampir di rumah saya yang tidak ditempati di Klaster Edelweiss B Harvest City Cileungsi. Dari awalnya hanya ada 2 anak yatim, kini sudah ada 13 anak yatim binaan + 5 orang janda yang selalu ikut dalam pengajian bulanan di rumah saya.

Hadist Nabi Muhammad SAW menyatakan "khoirunnas anfa'uhum linnas - sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain". Itulah yang menjadi inspirasi dalam bergaul dengan anak-anak yatim dan janda. Sudah dianugerahi begitu banyak nikmat dalam kehidupan, lalu apa yang bisa kita perbuat untuk umat, untuk orang lain? Apalagi kita tidak pernah tahu, kapan ajal tiba? Maka sebelum terlambat dan menyesal kemudian, maka selalu ada cara untuk bisa bermanfaat buat orang lain. Salah satunya adalah bergaul dan menyantuni anak-anak yatim dan janda.

Tulisan ini saya buat. Tentu, bukan untuk riya apalagi menyombongkan diri. Sungguh tidak. Tapi semata-mata untuk sharing dari apa yang sudah saya jalani selama lebih dari 22 tahun bergaul dengan anak-anak yatim. Hikmah bergaul dengan anak-anak yatim sendiri saya peroleh saat masih mahasiswa dan menjadi relawan pengajar di Yatamatuntra Soeprapto Suparno Kramat Jati Jaktim.

Bergaul dengan anak-anak yatim dan janda.

Ada kesedihan di hari ini. Selasa 12 Juni 2018. Sedih mendengar, salah satu janda (Ibu Zeki saya menyebutnya) yang biasa ikut pengajian bulanan di rumah saya ternyata sudah meninggal dunia akibat sakit pada 2 bulan lalu. Sedih karena 2 hal. Satu, karena saya tidak sempat bertemu sebelum ibu Zeki dijemput ajalnya. Saya merasakan betapa sakit dan getirnya beliau selama ini. 

Kedua, karena anaknya Zeki yang beranjak dewasa punya kendala psikis, yang selama ini datang ke pengajian bukan selalu diantar ibunya. Semakin sedih, karena menurut salah satu janda yang bertemu sebelum beliau wafat menanyakan, "Tolong kasih kabar kalo ada pengajian di rumah Pak Syarif ya...". Sebelum semuanya terlaksana, beliau meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Pun ada rasa gembira bersama anak-anak yatim. Karena seorang anak yatim bernama Indah, telah lulus SMK dan kini sudah bekerja di tempat loundry. Hari ini, ia ikut pengajian terakhir di tempat saya. Karena memang pengajian yatim binaan saya selama ini hanya berlaku bagi anak-anak yatim yang sekolah. Karena Indah sudah lulus SMK maka berakhir pulalah kepedulian saya. 

Apapun keadaannya, anak-anak yatim pun harus punya kesempatan belajar dan bersekolah seperti anak-anak lainnya. Maka di dekat kita, semestinya tidak boleh ada anak-anak yatim yang putus sekolah. Berjuang dan ikhtiarlah untuk itu ...

Rasa syukur pun patut dipanjatkan.

Karena pengajian bulanan yatim binaan dan janda yang saya selenggarakan secara rutin pun kali ini "kedatangan" anak yatim baru, namanya Syahnan siswa kelas 1 SMA. Dia baru bergabung dan berharap sekolahnya tetap lancar dan bisa selesai pada waktunya.

Insya Allah, saya dan keluarga akan tetap istiqomah tehadap anak-anak yatim binaan yang ada di Cileungsi, yang kini berjumlah 12 anak yatim dan 4 janda (karena 1 anak yatim sudah lulus dan 1 janda meninggal dunia). 

Tentu semua ini pun berlangsung berkat dukungan beberapa kawan saya, yang saya menyebutnya orang-orang baik yang selalu peduli setiap bulan menyisihkan sebagian rezekinya untuk disampaikan ke anak-anak yatim binaan saya selama ini, bertahun-tahun sudah mereka peduli dan peduli. Semoga kebaikan dan kepedulian mereka diberika balasan yang setimpal oleh Allah SWT.

Selain di Harvest City Cileungsi, anak-anak yatim binaan saya pun ada di Kereo Larangan Tangerang di rumah yang saya tinggali. Ada sekitar 10 anak yatim yang rumahnya berada di sekitar situ. Boleh dibilang, wilayah ini rintisan pertama kali yang saya lakukan untuk bergaul dan menyantuni anak-anak yatim sejak tahun 1996. Pun di Kampung Warung Loa Gn. Salak Bogor, saat ini pun saya membina sekitar 10 anak yatim. Di ke-3 tempat itu, semua polanya sama. Pengaiian bulanan secara rutin untuk membesarkan nama Allah sambil mengirim doa kepada orang tua mereka. Silaturahim bersama anak-anak yatim dan janda setiap bulan, sambil berbagi rezeki dan kepedulian kepada mereka. Itu saja cukup.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Entah gimana jalananya, di ketiga lokasi yang kebetulan rumah saya ada di situ, selalu saja ada anak yatim. Semua memang sudah ada jalannya.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

Bergaul dengan anak-anak yatim dan janda.

Itulah sepenggal kisah yang bisa membuat kita semua eling akan arti penting hidup dan kehidupan. Menyadarkan kita bahwa dari mana kita dan akan ke mana kita nantinya? Maka mulailah dari yang kita bisa. Karena kebaikan dan kepedulian sama sekali tidak cukup hanya diniatkan apalagi didiskusikan. 

Adalah fakta, anak-anak yatim fan janda di sekitar hidup sangat memprihatinkan. Mereka tidak jarang putus sekolah karena ketaidaan biaya. Tidak jarang mereka puasa lantaran tidak memiliki beras untuk dimasak. Itu fakta dan silakan tanyakan kepada mereka anak-anak yatim yang ada di sekitar kita.

Tentu, memuliakan anak yatim dan janda tidak harus berupa materi. Tapi perhatian dan kepedulian terhadap mereka harus diakui jadi barang langka di era milenial ini. Maka, tidak lebih tidak kurang, kebaikan yang paling nyata memang harus dilakukan untuk mereka, untuk anak-anak yatim dan janda. Selebihnya, biarkan Alllah SWT yang akan bekerja untuk kita. Karena Allah Maha Tahu segalanya...

Kita semua memang sibuk. Kita semua memang sulit punya waktu. Pasti ada seribu alasan untuk menjauh dari kebaikan. Kini, tinggal kita menyadarinya. Siapa kita, dari mana kita dan mau ke mana kita setelah dunia ini berakhir?

Nabi SAW bersabda: "Orang yang membantu wanita janda dan anak yatim serta orang miskin bagaikan berperang jihad fisabilillah atau bagaikan orang yang bangun tengah malam untuk sholat malam dan berpuasa pada siang hari" (HR Bukhari Muslim).

Pendidikan tinggi pasti bisa diraih siapapun. Sukses dan kaya pun bisa gapai oleh siapapun. Tapi perhatian dan kepedulian terhadap anak-anak yatim dan janda belum tentu bisa dilakoni siapapun. Era milenial, banyak orang baik tapi sebatas untuk dirinya sendiri. Banyak orang senang tapi untuk dirinya sendiri. Kini menjadi pekerjaan rumah bersama, gimana cara baik dan senang bisa dibagikan ke orang lain ...?

Semua terpulang kepada diri kita sendiri. Dan satu yang pasti, kebaikan dan kepedulian sama sekali tidak berguna bila sebatas diniati atau disikusikan. Mereka hanya butuh eksekusi .... wallahu a'lam bishowab. Semoga Allah SWT ridho, amiin. #CatatanRamadhan1439H @CintaiAnakYatim