Mohon tunggu...
M Syarbani Haira
M Syarbani Haira Mohon Tunggu... Jurnalis - Berkarya untuk Bangsa

Pekerja sosial, pernah nyantri di UGM, peneliti demografi dan lingkungan, ngabdi di Universitas NU Kal-Sel

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Negeri Ini Tak Akan Karam Tanpa Oposisi

25 Oktober 2019   23:12 Diperbarui: 25 Oktober 2019   23:27 321
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Budaya AS. Kelompok Partai Republik yang beroposisi dengan Barack Obama 2014 lalu (foto : reuters)

Pemikiran ini sejalan dengan pemikiran politik Plato, filosof era klasik. Katanya, politik itu menekankan pada kebajikan, kebaikan dan keadilan atau etika dalam berbagai segi hubungan antara warga dengan negara.

Jika ada elemen-elemen kenegaraan tersebut, warga negara dan penguasanya baik, maka baiklah negara tersebut. Sebaliknya, jika masyarakat dan penguasa buruk, maka buruklah negara itu. Jika salah satu dari elemen itu baik atau buruk, maka di situlah perlu perjuangan. Memperbaiki keadaan.

Mengikuti kerangka pemikiran politik itu damai, maka menarik sidang para ulama yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama saat menyelenggarakan Muktamar ke XI di Banjarmasin tahun 1936. Bagi ulama NU, negara itu pasti melibatkan banyak pihak, dengan latar belakang yang beragam.

Maka itu, NU memutuskan, dan sekaligus mengusulkan, jika nusantara ini merdeka, maka bentuk negara yang akan dibentuk bukan Darul Islam (Negara Islam), melainkan Darussalam (Negara Damai). Usul terakhir inilah yang kemudian disepakati para pendiri bangsa ini, dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara.

Cinta Tanah Air
Jika kita telusuri asal usul dan sejarah politik di bumi ini, ternyata model pemerintahan Athena dan Sparta kerapkali menjadi rujukan. Kenapa ? Karena di sinilah awal mula adanya kebudayaan bernegara, dan sekaligus mulai berkembangnya kebudayaan politik. 

Pada era itu faham demokrasi sudah mulai digelindingkan di Yunani. Pidato Pericles, seorang aktivis politik era itu panjang lebar mengupas cita-cita politik. Bagaimana melalui politik rakyat bisa sejahtera, negara sejahtera, dan semua warga selalu berpartisipasi dalam kehidupan kenegaraan.

Artinya semangat besarnya dalam kehidupan politik itu adalah partisipasi politik rakyat terhadap negara, ketulusan dan niat baik dari pemerintah menjalankan amanah yang diberikan, guna mencapai tujuan mulia, welfare state. 

Secara umum, inilah tujuan semua bangsa. Negara harus menjalankan fungsinya dengan baik dan benar. Sedang rakyat selalu berpartisipasi untuk kesuksesan negara. Maka itu tak heran jika di kalangan ulama pesantren tempoe doeloe, sempat muncul semacam "fatwa" yang berbunyi : "hubbul wathon minal iman" (cinta tanah air bagian dari iman). 

Cinta tanah air ini bukan sekadar seperti Rama mencintai Shinta, melainkan dengan daya dan upayanya selalu berbuat, berkarya, dan berpartisipasi mengisinya, untuk mencapai tujuan mulia dari negara tersebut.

Haruskah ada oposisi ? Tidak juga. Biasa-biasa saja. Sebagai rakyat logislah melakukan kontrol jalannya negara. Memberikan masukan pada negara. Melakukan koreksi pada negara.

Tanpa harus menjadi oposisi, yang selalu berpikir steriotive, bahwa negara selalu salah. Tak ada yang baik dari negara ini. Pelantikan presiden dan wakil presiden saja dipermasalahkan. Juga pelantikan kabinet. Disebut teganglah, sepi, dan tidak ramai. Emang ini "pasar malam" ?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun