Mohon tunggu...
Syahirul Alim
Syahirul Alim Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Lepas, Penceramah, dan Akademisi

Penulis lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik-Agama, Tinggal di Tangerang Selatan

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Golput, Islam, dan Politik

30 Januari 2019   11:35 Diperbarui: 12 Februari 2019   11:53 434
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
nasional.kompas.com

Golput merupakan akibat langsung dari kenyataan Islam dan politik yang terlampau bermesraan bahkan kadang salah satunya justru menguasai atau paling tidak senantiasa dimanfaatkan dalam bentuk artikulasi politik yang paling jelas. 

Anehnya, berita-berita yang dikatagorikan bernuansa hoaks seringkali melibatkan narasi Islam didalamnya dan kemudian dikaitkan dengan kelompok-kelompok Islam politik tertentu yang dipelihara oleh pihak oposisi untuk membuat gaduh suasana. 

Dalam banyak hal, penguasa cenderung lebih responsif ketika menanggapi beragam isu politik yang menyudutkan dan mereka juga pada akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang secara sadar maupun tidak memanfaatkan Islam demi legitimasi kekuasaan politiknya.

Barangkali, korelasi yang paling jelas dan mengakar dalam hal Islam dan politik dapat menemukan wujudnya dalam NU. Ormas yang tak lepas sejengkalpun dari berbagai aktivitas politik ini -- terutama setelah menjadi parpol sejak 1955 -- benar-benar berkolaborasi dengan penguasa dan seolah membuat counter tandingan dalam berbagai narasi luas menyoal Islam dan politik. 

Pernyataan kontroversial ketua umumnya soal "NU-isasi" dalam struktur-struktur sosial-keagamaan bahkan politik, seolah menunjukkan upaya "kolaborasi politik" yang sangat menjanjikan antara NU vis a vis penguasa. 

Gelinjang para aktivis muslim lainnya diluar NU jelas tak terhindarkan dan kebanyakan mereka menganggap Islam dan politik terlampau jauh meninggalkan ruang-ruang yang sebenarnya dan mereka yang tak sependapat atau bahkan kecewa mungkin saja terpapar golput.

Banyak alasan masyarakat untuk lebih baik menjadi golput dalam menyikapi Pilpres kali ini dan dengan alasan paling faktual bahwa realitas penduduk Indonesia mayoritas muslim, mereka justru sangat kecewa dengan berbagai realitas sosial-politik yang tampak semakin mengecewakan. 

Banyak kasus yang baru-baru ini muncul sebagai respon atas begitu eratnya kaitan antara Islam dan politik yang sejauh ini juga diformulasikan oleh kedua belah pihak kontestan. 

Tabloid 'Indonesia Barokah' atau fenomena terbaru "gerungisasi" yang diadaptasi sosok ahli filsafat Rocky Gerung yang memang partisan, seolah mendapatkan perlawanan dari pihak-pihak muslim dengan memposisikan Gerung sebagai non-muslim tetapi diterima sebagai bagian dari kenyataan "Islamisasi" politik.

Islam dan politik memang selalu mewarnai arah perkembangan demokrasi dalam serangkaian panjang sejarah Indonesia, bahkan perdebatan soal Piagam Jakarta mungkin saja menemukan bentuk barunya dalam momentumnya di Pilpres kali ini. 

Kelompok-kelompok yang menginisiasikan dirinya sebagai gerakan "reformis" Islam ortodoks seolah berhadapan kembali dengan kelompok yang cenderung mewakili kalangan tradisionalis Islam yang lebih akomodatif dan liberal. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun