Syahirul Alim
Syahirul Alim Penulis Lepas dan Aktivis Sosial-Keagamaan

Alumnus Magister Ilmu Politik UI, Penulis lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik-Agama, Tinggal di Tangerang Selatan

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Sosok "Jaenudin Nachiro" dalam Puisi Fadli Zon

6 Desember 2018   13:08 Diperbarui: 7 Desember 2018   05:08 4352 21 15
Sosok "Jaenudin Nachiro" dalam Puisi Fadli Zon
kompas.com

Ulah kritis para politisi zaman now ini memang selalu ada-ada saja. Umumnya, kritik itu ditujukan untuk hal-hal yang bersifat kebijakan, sehingga kritik tentu saja berdampak pada soal kebijakan politik yang mensejahterakan masyarakat. Namun, para politisi zaman now tentu saja bersikap kritis bahkan seringkali mengada-ada yang ditujukan kepada pribadi seseorang. 

Politisi Gerindra Fadli Zon, memang kerapkali melontarkan kritik yang menyerang kubu lawan politik, terutama menyerang secara pribadi, bukan pada bentuk dalam hal mengkritisi sebuah kebijakan.

Beberapa waktu yang lalu, puisinya tentang "potong bebek angsa" sempat viral dan kini Fadli membuat puisi yang kurang lebih sama, menyerang pribadi Jokowi dengan sebutan "Jaenudin Nachiro".

Mungkin masih lekat dalam ingatan kita, saat Presiden Jokowi menutup acara Festival Bintang Vokalis Qasidah Gambus Tingkat Nasional di Pondok Gede, Jakarta lalu bersenandung lagu "diin as-salaam" yang dipopulerkan grup gambus milenial Sabyan. Syair yang seharusnya "zainuddin yahtirom" dibaca oleh Jokowi seolah "jaenudin nachiro" karena memang Jokowi tak fasih berbahasa Arab. 

Namun demikian, dalam pidato selanjutnya ketika menjelaskan bait-bait lagu ini, secara fasih Jokowi menyebut "zayinuu addunya ihtiroom" yang jika diterjemahkan kira-kira, "hiasilah dunia itu dengan saling memuliakan".

Jokowi tampaknya memang mengapresiasi keberadaan gambus yang belakangan kian populer setelah grup Sabyan sukses mengemasnya secara baik dan milenialistik.

Hal inilah barangkali yang kemudian menginspirasi Fadli untuk mengunggah sebuah puisi menyoal "keseleo lidah" Jokowi saat mendendangkan lagu "diin as-salam" yang digubah Sabyan.

Fadli tentu saja menolak menyebutkan siapa sosok jainudin yang dimaksud dalam puisinya dan membiarkan publik untuk menelusuri sendiri siapa sosok yang ia maksud. 

Menariknya, soal puisi ini mungkin saja sebagai bentuk aksi politik balasan, karena Prabowo juga pernah disindir soal pidato dirinya di kegiatan Reuni 212 yang menyebut "hulaihi wasallam" padahal seharusnya "shallallahu 'alaihi wa sallam".

Inilah realitas kepolitikan kita yang sesungguhnya, lebih banyak menyerang sisi pribadi setiap kandidat dibanding mengkritisi setiap kebijakan atau visi-misi politiknya.

Diakui maupun tidak, kedua kandidat yang saat ini sedang berkompetisi di Pilpres 2019, memang bukanlah orang-orang yang fasih berbahasa Arab. Tapi seolah-olah, mereka ingin menunjukkan kecakapannya di depan publik, tak peduli jika terjadi kesalahan lidah dalam ucapannya. 

Mereka tentu saja sedang menarik simpati kalangan Islam yang memang mayoritas, bahkan sepertinya kedua kandidat saling klaim dukungan mayoritas yang berasal dari berbagai basis masyarakat muslim.

Kedua kandidat memang sepertinya sedang jor-joran mencari dukungan dari suara umat Islam, sehingga bagaimanapun caranya, jika itu dapat mendongkrak elektabilitas sudah tentu dilakukan.

Suara masyarakat muslim memang tak bisa diabaikan, ditengah polarisasi keagamaan yang belakangan semakin menguat. Itulah kenapa, soal kegiatan Reuni 212 di Monas yang tampak sepi dari pemberitaan media juga membuat kandidat capres nomor urut 2 Prabowo Subianto berang dan memarahi para wartawan. 

Reuni 212 tentu saja memiliki makna politik bagi Prabowo, karena dengan jumlah pesertanya yang lebih dari 10 juta orang, dapat diklaim sebagai suara umat Islam yang mendongkrak elektabilitas dirinya dalam Pilpres mendatang.

Dengan pemberitaan media, Prabowo jelas diuntungkan, karena hampir seluruh peserta Reuni 212 adalah mereka yang menolak Jokowi kembali menang dalam pemilu tahun depan.

Berebut suara mayoritas umat muslim itu merupakan sebuah kenyataan politik, bahkan seperti tak bisa ditawar-tawar.

Asumsi saya, terjadi polarisasi yang sedemikian tajam diantara umat Islam, terutama dalam hal perbedaan ideologis yang kemudian terpecah kedalam dua kubu politik yang saling berlawanan. 

Kedua kubu tampak saling serang, bahkan tak jarang dikooptasi oleh ideologi keagamaannya masing-masing yang jika disederhanakan mungkin tak berlebihan jika disebut sebagai ajang "pertarungan ideologis" antara Islamisme dan Nasionalisme.

Kubu pertama sepertinya terus menyebarkan paham bahwa Islam yang seharusnya mampu menjadi pemenang dalam seluruh kontestasi politik atau minimal yang duduk dalam pusat-pusat kekuasaan adalah mereka yang secara formal mendukung gerakan Islam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2