Mohon tunggu...
Syahirul Alim
Syahirul Alim Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Lepas, Penceramah, dan Akademisi

Penulis lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik-Agama, Tinggal di Tangerang Selatan

Selanjutnya

Tutup

Kurma Artikel Utama

Puasa di Antara Historisitas dan Ritualitas

16 Mei 2018   10:13 Diperbarui: 16 Mei 2018   17:13 2189
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi: dreamstime.com

Puasa pada bulan Muharram ('Aa-Syuraa'), misalnya menjadi tradisi kaum Quraisy dan juga kalangan Yahudi sebagai bentuk "peringatan" atas selamatnya Bani Israil dari kezaliman Fir'aun. Selain itu, kewajiban berpuasa selama tiga hari disetiap pertengahan bulan, juga menjadi tradisi puasa di awal-awal perkembangan Islam.

Kewajiban berpuasa sebelum ditetapkannya bulan Ramadan, awalnya sekadar "pilihan", dimana bagi mereka yang tidak melakukannya (karena memberatkan atau hal lainnya) dapat menggantinya dengan membayar sedekah kepada fakir miskin (fidyah) atau berbuat baik, yang disesuaikan dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan.

Hal ini sebagaimana disebut dalam surat al-Baqarah ayat 184: "Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya".

Kewajiban puasa masa lalu sekadar dilakukan secara "sukarela" dengan memilih antara berpuasa atau bersedekah, kemudian "dihapus" (mansukh) dengan turunnya kewajiban berpuasa pada bulan Ramadan. 

Lagi-lagi, sisi historis puasa Ramadan, erat kaitannya dengan peringatan sebuah peristiwa besar dan luar biasa, karena bulan Ramadan merupakan bulan dimana diturunkannya al-Quran dan juga kitab-kitab suci lainnya. 

Sebuah peristiwa penting dalam tradisi Islam, selalu diperingati dengan cara berpuasa. Maka tak heran, ketika Nabi Muhammad ditanya tentang dirinya yang senantiasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis, ia menyebutkan bahwa Senin merupakan hari dimana dirinya lahir dan Kamis merupakan hari dimana seluruh catatan amal manusia diserahkan kepada Allah.

Perintah melaksanakan puasa wajib di bulan Ramadan, sekaligus menghapus tradisi puasa yang diwajibkan sebelumnya. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan, syariat puasa sudah ada sejak zaman Nabi Nuh, hingga kemudian diwajibkannya seluruh orang beriman untuk berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan. 

Dalam al-Quran disebut secara jelas: "Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu".

Para ahli bahasa, ketika menjelaskan makna "syahrun" (bulan) secara garis besar bermuara pada dua pendapat. Pertama, bulan merupakan istilah yang menunjukkan pada jenis waktu yang diawali dengan perwujudan hilal secara jelas atau hal yang membuatnya tersembunyi atau tidak terlihat. 

Umumnya, bulan yang telah diketahui waktunya dipergunakan sebagai "penanda" untuk memulai suatu perniagaan (muamalah) atau untuk satu kebutuhan lainnya. 

Kedua, yang dimaksud adalah bulan itu sendiri, berdiri sendiri. Itulah kemudian kenapa bahwa puasa Ramadan wajib "ditandai" oleh hadirnya "hilal" yang ditetapkan kemudian sebagai waktu dimulainya berpuasa sebagaimana persaksian seseorang yang jujur, adil, muqim (penduduk setempat), dan persyaratan lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun