Mohon tunggu...
Andrean
Andrean Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kinerja Mentan 2014-2015 dan Renja 2016

22 November 2015   20:23 Diperbarui: 22 November 2015   20:40 527
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kebijakan pengendalian rekomendasi impor dan mendorong ekspor pada tahun 201.5 telah menunjukkan hasil. Pada tahun 2014 terdapat impor beras medium, berkat pengendalian impor, maka sejak Januari 2015 tidak ada impor beras medium sehingga telah menghemat devisa US$ 374 juta. Produksi jagung tahun 2015 yang naik 8,72% diikuti dengan peningkatan ekspor Jagung terutama dari pelabuhan di Sumbawa dan Gorontalo sehingga memperoleh devisa US$1.02 juta dan pada sisi lain juga mengendalikan impor jagung, sehingga menghemat devisa US$ 483 juta.

Demikian pula pengendalian terhadap impor cabai, bawang merah, dan gula putih serta terobosan ekspor kacang hijau dari Gresik ke Filipina, bawang merah dari Bima, dan telur tetas ke Myanmar telah meningkatkan devisa. Nilai devisa yang bisa dihemat dari pengendalian I mpor dan peningkatan ekspor pangan sejak Januari hingga Agustus 2015 senilai US$ 4,03 miliar. Hemat devisa ini setara Rpc52 triliun bila menggunakan kurs Rp13.000/US$. Di samping menghemat devisa, kebijakan ini berdampak pada harga yang dinikmati petani. Pengendalian impor jagung telah berdampak pada harga di petani naik dari Rp1.500/kg menjadi Rp 3.200/kg setara dengan nilai Rp 34 triliun. Demikian pula tidak ada impor beras sehingga harga gabah di petani meningkat dan petani menikmati surplus Rp 43,3 triliun. Secara keseluruhan dampak kebijakan ini berkontribusi terhadap perekonomian nasional Rp 21.5 triliun yang dinikmati petani dan pelaku usaha lainnya.

3. Tahun mulai bangkitnya modernisasi pertanian

Modernisasi pertanian melalui mekanisasi merupakan solusi yang efisien untuk menggantikan pola usaha tani manual dan mengatasi keterbatasan jumlah tenaga kerja. Minat generasi muda pada pertanian meningkat seiring pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan). Mekanisasi ini sudah lama dilakukan, namun dalam jumlah terbatas. Pada 201.4 hanya mampu menyediakan alsintan kurang dari 10 ribu unit. Mulai tahun 2015 dilakukan mekanisasi besar-besaran dengan alsintan 62.221. unit dan tahun 2016 akan disediakan lebih banyak lagi. Alsintan meliputi: Rice Transplanter, Combine Harvester, Dryer, Power Thresher, Corn Sheller, Rice Milling Unit (RMU), traktor, dan pompa air. Mekanisasi ini menghemat biaya produksi ±30% dan menurunkan susut panen 1.0%. Mekanisasi mampu menghemat biaya olah tanah, biaya tanam, dan biaya panen sebesar Rp 2,2 juta/ha dari pola manual Rp7,3juta/ha. Dengan demikian total biaya produksi menjadi Rp 5,1juta/ha.

Bila mengolah tanah secara manual memerlukan 20 orang hari kerja/ha dan biaya Rp 2,5 juta/ha, jika menggunakan traktor, satu orang mampu menyelesaikan 3 ha per hari dengan biaya Rp 1,8 juta/ha. Pada APBN tahun 2015 didistribusikan 26.100 traktor roda-2 dan roda-4, kepada kelompok tani.

Mekanisasi tidak hanya dilakukan untuk mengolah tanah, namun juga untuk menanam padi dengan menggunakan rice transplanter. Alat ini mampu menghemat tenaga dari pola rnanual 19 orang/ha menjadi 7 orang/ha dan biaya tanam menurun dari Rp 1,72 juta/ha menjadi Rp 1,1 juta/ha. Pada APBN tahun 2015 didistribusikan 5.563 unit rice transplanter kepada kelompok tani. Mekanisasi untuk menyiang rumput (power weeder) mampu menghemat tenaga kerja dari pola rnanual 15 orang/ha menjadi 2 orang/ha dan biaya menyiang turun dari Rp 1,2 juta/ha menjadi Rp 510 ribu/ha. Alat mekanisasi untuk panen padi, yaitu combine harvester mampu menghemat tenaga kerja dari pola manual 40 porang/ha menjadi 7,5 orang/ha dan biaya panen dapat ditekan dari RP2,8 juta/ha menjadi Rp2,2 juta/ha. Dengan alat ini mampu menekan kehilangan hasil (lossis) dari 10,2% menjadi 2%.

Apabila dihitung secara nasional dengan produksi 20l.4 sebesar 70,8 juta ton, berarti potensi kehilangan hasil 7 juta ton atau setara Rp 24,5 triliun. Dengan menggunakan combine harvester, maka dapat menyelamatkan potensi kehilangan hasil Rp 1,7 triliun rupiah. Pada tahun 2015, didistribusikan 2.790 unit combine harvester kepada kelompok tani.

Penyiapan mekanisasi secara masif dan berkelanjutan ini telah dirasakan manfaatnya bagi petani, sehingga pada saat Kunjungan Kerja Menteri Pertanian 21. April 2015 di Kabupaten Tulangbawang, Bupati mengusulkan agar Menteri Pertanian dinobatkan sebagai Bapak Modernisasi Pertanian. Dengan adanya mekanisasi secara besarbesaran, maka dapat dikatakan tahun 2015 sebagai tahun dimulainya Modernisasi Pertanian. Intinya modernisasi membuat usaha pertanian lebih efisien, produktif, berdaya saing, pendapatan tinggi, dan meningkatkan nilai tambah.

4. Tahun 2015 ditandai mulai bangkitnya investasi di sektor pertanian

Sektor pertanian memberikan peluang usaha dan nilai tambah yang tinggi bagi pelakunya. Komoditas komersial bernilai ekonomi tinggi seperti: kelapa sawit, karet, kakao, tebu, sapi, jagung dan lainnya sangat potensial dikembangkan di Luar Jawa. Usaha pro-aktif meningkatkan investasi telah menunjukkan hasil. Investasi yang sudah berjalan didominasi subsektor perkebunan terutama kelapa sawit, karet, kopi, tebu, teh dan sebagian komoditas pada subsektor peternakan dan hortikultura.

Pada tahun 2015 mulai bangkit investasi untuk tebu/gula, jagung, dan sapi. Terdapat kesiapan 15 Pabrik Gula (PG) existing untuk memperluas kebun tebu 200 ribu ha dan 19 PG baru akan mengembangkan lahan 500 ribu ha yang mampu membuka lapangan kerja baru bagi 3,87 juta jiwa. Investasi PG sudah mulai konstruksi dan berproduksi 2019.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun