Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Purna tugas - Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Mengapa Korban Covid-19 Naik Terus?

12 Oktober 2020   22:24 Diperbarui: 12 Oktober 2020   22:38 177
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bila Anda tiap hari memperhatikan data korban Covid-19 yang disiarkan media, tentu Anda akan merasa makin miris. Kapan kurva grafik korban Covid-19 akan melandai?

Saar di Jakarta berlangsung Asian Games, bila tiap hari Anda mendengar berita perolehan jumlah medali kontingen Indonesia terus naik peringkat Anda pasti semang. Sebaliknya bila korban Covid-19 naik peringkat terus perasaaan sedih dan galau yang kita rasakan.

Saat korban Covid-19 mencapai 100.000 orang pada 27 Juli 2020, posisi Infonesia masih berada pada posiai 142 dari 215 negara yang dinyatakan positive terpapar Covid-19. Ironisnya, pada 6 Agustus 2020, posisi Indonesia sudah menggeser Kanada pada urutan ke 23 dan terus bertahan hingga awal Oktobetr 2020.

Kabar paling mengejutkan pada awal Oktober 2020 posisi Indonesia terus meningkat. Tanggal 4 Oktober 2020 sudah di peringkat 21 menggeser Jerman. Empat hari berikutnya 8 Oktober 2020 sudah naik lagi ke peringkat 21 menggeser Pakistan.

Dengan masih maraknya demo tidak menyetujui disahkannya UU Cipta Kerja, padahal banyak pengunjuk rasa yang ternyata positive Covid-19, akibatnya kerumunan yang terjadi dapat menjadi kluster Covid-19 yang baru.

Tanggal 12 Oktober 2020 peringkat Indonesia sudah naik lagi ke 20 menggeser Turki. Dikawatirkan tidak lama lagi dapat naik ke peringkat 19 menggeser Arab Saudi. Apalagi pemprov DKI Jakarta sudah merubah kembali status PSBB ketat menjadi PSBB transisi kembali, sehingga warga sudah boleh bersantap langsung di rumah makan.

Korban positive Covid-19 di provinsi DKI Jakarta masih tertinggi. Pada awal bulan Oktober 2020 provinsi DKI Jakarta sudah mencapai hampir 87.000 kasus jauh lebih tinggi dari Tiongkok yang hanya 85.000 kasus, padahal jumlah penduduknya 14x penduduk Jakarta. Pada awal Oktober 2020 kota yang disebut-sebut sebagai kota asal pandemi Covid-19 Wuhan baru mencapai 50.000 kasus dan sudah selama dua bulan inibtidak ditemukan kasus baru alias grafiknya sudah melandai.

Kesalahan awal Indonesia adalah meremehkan keganasan pandemi Covid-19  sehingga terlambat mengantipasi kira-kira dua bulan lamanya. Penanganan yang kurang komprehensif di bidang kesehatan masih ditambah warga yang bandel yang seakan-akan menantang tidak takut dengam Covid-19 sehingga ber-euforia berkumpul setelah diterapkannya konsep Kebiasaan Baru.

Penerapan 3M juga masih ogah-ogahan terbukti virus dapat menyerang secara brutal dan membawa korban jiwa mati sia-sia.

Belajar dari Tiongkok

Bila ada pepatah "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Tiongkok", tak ada salahnya meniru cara penanganan Covid-19 yang diterapkan oleh Tiongkok. Tiongkok melakukan tindakan yang tegas pada rakyatnya untuk menghentikan penyebaran Covid-19 hingga berhasil membuat grafik pertumbuhan melandai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun