Susanti Hara
Susanti Hara Guru SLB B Sukapura, penulis lepas

Pembelajar aktif

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Berburu Takjil Berkah Paling Berkesan

17 Mei 2018   12:27 Diperbarui: 17 Mei 2018   12:36 872 2 1
Berburu Takjil Berkah Paling Berkesan
Jamaah perempuan yang buka bersama di Masjid Istiqlal - Dok. Susanti Hara

Unik sekali ya Kompasiana ini. Tema artikel ketiga pada hari pertama puasa Ramadan ini adalah Serunya berburu takjil favorit. Puasanya saja baru mulai hari pertama, eh sudah harus menulis cerita takjil favorit. Tapi, tak apalah, meski saya tidak memiliki takjil favorit secara khusus, tapi saya memiliki kisah unik saat mengikuti teman di Bekasi yang memiliki sesuatu yang favorit tentang takjil di setiap Ramadan, yaitu berburu takjil berkah dari satu masjid ke masjid lain.

Secara logika, berburu takjil berkah dari masjid ke masjid ini justru menghabiskan biaya untuk transportasi sampai lokasi tujuan, dan mungkin ada biaya lainnya. Namun, ternyata berburu takjil berkah ini memang unik sekali. Misalnya saja ketika Jumat, 16 Ramadhan 1436 H, atau 03 Juli 2015 M, untuk pertama kalinya saya mengikuti kegiatan berburu takjil berkah ini. Dan ini adalah kisah paling berkesan sepanjang saya mengunjungi masjid-masjid saat Ramadan di mana pun adanya, entah itu di Bandung, Jakarta, atau kota lainnya.

Pertama kali mengikuti kegiatan takjil berkah, menempuh perjalanan dari Pekayon Bekasi ke Masjid Istiqlal, kami sampai kurang lebih setengah jam sebelum adzan maghrib. Di pelataran masjid, semuanya tampak biasa saja. Begitu pun ketika memasuki masjid, semua tampak biasa. Ada orang-orang yang sedang bertadarus, anak-anak kecil berlarian, beberapa remaja yang sedang asyik berfoto, dan aktivitas lainnya.

Namun, sungguh unik sekali begitu teman saya mengajak ke lantai bawah. Di sana sudah ada para petugas yang mengarahkan pengunjung untuk duduk berderet teratur sepanjang lorong-lorong atau koridor-koridor masjid dengan dipisahkan antara pengunjung lelaki dan perempuan.

Sejujurnya, saya ternganga ketika melihat antusiasme para pengunjung yang begitu membludak. Apalagi ketika maghrib tiba, saya keluar dari barisan untuk berwudhu, saya makin tahu kalau semua lorong masjid benar-benar penuh dengan mereka yang berbuka puasa. Bahkan para petugas pun sibuk membawa bertroli-troli makanan dan membagikannya pada para pengunjung.

Suasana bukber jamaah pria di salah satu koridor Masjid Istiqlal - Dok.fokusislam.com
Suasana bukber jamaah pria di salah satu koridor Masjid Istiqlal - Dok.fokusislam.com
Penasaran, saya pun bertanya pada orang di sebelah kanan kiri saya tentang mereka dan kedatangannya. Menakjubkan sekali jawaban mereka yang datang kebanyakan bersama keluarga besarnya. Mereka berasal dari Depok, Bogor, dan juga ada yang dari Kebun Karet serta Bendungan Hilir. Bahkan, saat antri di toilet, saya sempat mendengar percakapan jamaah yang berasal dari Tasikmalaya.

Penasaran lagi saya bertanya pada beberapa orang , dari mana mereka tahu informasi buka bersama di Masjid Istiqlal ini? Jawaban mereka bernada serupa kalau mereka tahu informasinya dari televisi. Widiw, jawaban mereka membuat saya terpana, tampaknya saya kurang mengikuti perkembangan informasi pertelevisian. Dan dari mereka juga akhirnya saya tahu kalau setiap Ramadan di Masjid Istiqlal memang selalu ramai dengan kegiatan buka bersama gratis selain acara pengajian yang diisi oleh ustadz, ustadzah terkenal dan juga para seleb.

Dan untuk tahun 2018 ini, sebagaimana dilansir dari tribunnews.com, Rabu, 16 Mei 2018, Masjid Istiqlal habiskan Rp 3 M untuk kegiatan di Bulan Ramadan. Wow, sungguh fantastis, bukan? Bagi para pemburu takjil berkah, untuk tahun ini per harinya akan disiapkan 3.000 paket makanan, sedangkan Jumat, Sabtu, dan Minggu, mereka menyiapkan sampai 6.000 paket makanan. Sudah terbayang ya penuhnya para jamaah yang menikmati takjil berkah mulai dari hari ini?

Ok, sebagai pendatang di Bekasi dan Jakarta, terus masih kurang kenal Jakarta, saya sendiri memaklumi ketidaktahuan saya. Waktu itu saya benar-benar takjub dengan ketertiban para pengunjung selama menunggu pembagian takjil. Tak ada ceritanya berebutan ketika melihat pembagian dus makanan. Padahal, dus makanan itu begitu menggoda, bahkan ketika ada anak-anak di sebelah membuka isinya, isinya sungguh menggoda karena terkesan WAH, bukan sajian makanan ala kadarnya.

Dus Takjil di Masjid Istiqlal pada tahun 2015 - Dok. Susanti Hara
Dus Takjil di Masjid Istiqlal pada tahun 2015 - Dok. Susanti Hara
Saya tidak pernah menyangka pernah mengikuti momen seunik ini. Sajian buka puasa di Masjid ini benar-benar memukau, seakan memberikan penghargaan untuk mereka yang berpuasa. Isi dusnya super lengkap, ada kurma, nasi, sayuran, lauk-pauk, buah-buahan, serta minumnya. Semoga memang seterusnya akan se-"wah" ini.

Penasaran lagi, saya mengajak teman saya untuk MABIT di Masjid Istiqlal. Makin terperangahlah saya karena pada malam hari Ramadan di masjid ini benar-benar hidup. Banyak pengunjung dari luar kota yang sengaja iktikaf di Masjid ini. Ada yang kelelahan tertidur di dalam masjid, di luar masjid, bahkan di koridor tempat berbuka puasa tadi. Jangan kaget kalau petugas di Masjid ini rajin mengingatkan para jamaah untuk menjaga barang-barang kita dengan baik. Para petugasnya benar-benar sangat peduli.

Ya, itulah pengalaman ketika berburu takjil berkah sampai ke masjid yang letaknya di depan Gereja Katedral Jakarta. Menurut teman saya, takjil berkah ini adanya hanya Ramadan, makanya asyik bisa berburu takjil berkah, ya sekalian juga mengenal lebih dekat bangunan masjid-masjid dan kondisinya, serta jalan-jalan di sekitarnya. 

Menurut dia juga, makanan yang ada di masjid itu ya berkah dong, kan makanan itu masuk masjid. Yang masuk masjid itu yang bagus-bagus. Sekali jalan banyak manfaatnya. Selain berkeliling mengunjungi rumah-rumah Allah Subhanahu wata'ala, dijamu dengan nikmat, kita bisa berdoa juga di tempat-tempat yang makbul atau diterima doanya. 

Hehe, alasan-alasan yang tentunya sangat dapat dimengerti.

Lantas, bagaimana dengan suasana takjil berkah di masjid lainnya. Berdasarkan pengalaman saya ketika mengunjungi Masjid Cut Meutia Menteng, pembagian takjil berkah ini hanya dibagikan secara langsung pada orang yang selesai sholat maghrib. Sedangkan untuk beberapa tempat di Bandung seperti Masjid Agung Bandung, takjil berkah pun sama dibagikan secara langsung. Di masjid ini jangan berharap terlalu banyak, karena beberapa teman pernah bercerita mereka tidak kebagian takjil di masjid ini lho. 

Dan tempat unik yang menjadi tempat pertemuan komunitas adalah Masjid Salman ITB. Di masjid ini banyak mahasiswa berkegiatan di selasar. Sebelum adzan maghrib, biasanya ada yang membagikan buah kurma berjumlah ganjil yang sudah terbungkus plastik. Dan untuk makanan berat seperti nasi beserta sayur lengkap lauk pauknya, sepanjang yang saya ikuti, ada sih beberapa kali dengan sistem menggunakan kupon. Kalau tidak kebagian kupon dan nasinya sudah habis, ya sudahlah. Kembali ke tujuan kita bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dan kita dapatkan untuk beribadah kepadaNya.