Mohon tunggu...
Leonora Suzan M Litaay
Leonora Suzan M Litaay Mohon Tunggu...

0,036% berdarah londo kw 2 yang impatience | amateur writer / photographer\r\n(contact me : susanlitaayakun@gmail.com |\r\ninstagram : leonmarth

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Renda di Kapel

15 Januari 2015   09:32 Diperbarui: 17 Juni 2015   13:06 81 1 2 Mohon Tunggu...

Lanna.  Kost trio Jomblo, 29 Mei 2009

Tariannya yang agak genit cukup berbanding terbalik dengan sikapnya saat bertutur dalam doa. Lutut menekan lantai, mulut komat kamit, sesekali mendesah tanpa kata, terkadang di tengah doa, ia selipkan penggalan doa 'Bapa Kami' yang sudah terhapalkan. Ya, sudah katam karena itu adalah hapalan selama 6 tahun setiap kali mengawali dan mengakhiri proses belajar mengajar di kelas sebuah sekolah Yayasan Katolik di Yogyakarta. Selama empat puluh menit berlutut, akhirnya ia terlelap di pukul 2 siang hari dengan lantunan deretan lagu dalam album Best of Harem Scarem, Canadian Rock Band. Sementara sebuah amplop biru muda hanya memaku, terselip di belakang pintu kamar.

Viagra. Puncak Merapi, 29 Mei 2009

Aku dan rombongan masih di puncak. Misi kami tidak habis-habisnya mengeksplore salah satu gunung berapi teraktif di dunia. Yang seru, aku senang sekali mendengar 'ceramah' dari salah satu anggota rombonganku . Dia bukan sok tahu namun memang tahu banyak soal sejarah dan legenda Gunung Merapi. Namanya Suryo Makati Cungkring, ya Cungkring memang nickname.

Cungkring memang ceking dengan kulit agak sawo, rambut ikal lembut. Di Indonesia, terutama Jakarta, dia sempat terkenal. Seorang direktur PT Suntek yang dulu pernah tersohor dengan berita perselingkuhan isterinya dengan pejabat pemerintah yang ikutan korupsi kasus salah satu BUMN. Bahkan, Cungkring pun sempat digosipkan selingkuh dengan sekretarisnya yang juga adik seorang selebritis muda yang kondang. Lucunya, si Cungkring ikutan ekspedisi ini akibat petunjuk dalam mimpinya, dan dari tingkahnya yang terkadang senyum sendiri, melambai, menangis tiba-tiba atau hobby menggigiti jempol tangan maupun kakinya sambil bersinden, kupikir dia memang unik dan memiliki indera keenam setengah. Lagipula, konon ceritanya Cungkring masih keturunan Sunan Kalidjaga, yang menurut legenda Gunung Merapi, Sunan menasehati Panembahan Senopati, pendiri dinasti Mataram, agar tidak memakan endhog Jagad Kanjeng ratu Kidul.  Benar saja, terbukti setalah telur jagad itu tidak sengaja tertelan oleh Ki Juru Taman, abdi dalem setia Kraton, mendadak beliau menjadi raksasa. Maka si abdi dalem ini diperintahkan Panembahan Senopati untuk menjaga Gunung Merapi, yang kemudian beliau digelari Merapi Kyai Sapu Jagad. Dan di situlah asal muasal labuhan atau sesajo hasil bumi.         Di bawah puncak Merapi terdapat juga daerah bebatuan dan pasir yang disebut pasar Bubrah, yang oleh masyarakat dipercaya sebagai pasar besar Kraton Merapi dan batu besar yang berserakan disana dianggap sebagai warung dan meja kursi makhluk halus. Cerita seru berlanjut saat Liana, satu-satunya anggota rombongan yang bergender wanita, hampir nyasar saat dia memilih jalan beraspal  emas yang mudah ditelusuri. Untung si Cungkring tahu dan segera memanggilnya. Wihh! Besok pagi, kami sudah harus turun gunung. Berat rasanya meninggalkan  pemandangan mulia ciptaan sang Khalik, hamparan hijau di bawah senja pemandangan kota Magelang dan Boyolali pun terlihat. Udara dingin yang 5 hingga minus 7-an derajat Celcius, membuatku merasa tidak bertulang bahkan beraga. Jadwal mengharuskanku sebagai salah satu pemilik perusahaan paket liburan petualangan bernama 'Challenge Out', untuk kembali sibuk di based Jakarta.

Sheila. Kios Seragam pasar Beringharjo, 28 Mei 2009

Seraya menekan ulu hati menahan lapar, di tengah keramaian pembeli, aku tetap berusaha menyungging senyum ramah. Ironis memang, antara kelaparan dan kucuran rejeki di depan mata. Tiga orang pegawai belum cukup untuk mengatasi riuhnya proses transaksi yang sudah  berjalan seminggu lebih. Situasi yang sama dengan tempat kios si Mbok menunggui kasir, di dua los yang berjejer dengan

nama kios seragam yang sama , kios mbok Kiyem. Memasuki akhir libur sekolah seperti saat ini, kios-kios penjual seragam sekolah di Pasar Beringharjo sontak menjadi ramai. Deretan kios penjual seragam sekolah ini namlak penuh sesak dengan pembeli yang sebagian besar adalah ibu-ibu yang membeli seragam sekolah untuk anak mereka, padahal liburan sekolah akhir semester saja belum dimulai. Petugas Pos kelihatan agak berdesakan ingin menyerahkan sebuah  amplop cokelat sembari membaca nama kios untuk mencocokkan alamat yang tertera sebagai sang penerima amplop, yakni Sri Sheila.

"Terima Kasih pak, saya sendiri Sheilla"

"nggih, sami-sami mbak,tolong tanda tangan disini", ujar petugas sembari menunjukkan sebuah kolom nama penerima paket.  Tidak sembarang memang, Bu Sukiyem dan suaminya menamakan putri tunggal mereka, yang berarti musik. Keduanya memang pencinta musik. Tidak heran, jaman 'ngedate' dulu di tahun 1950-an, pak Karta dan mbok Kiyem sering menghadiri  pertunjukkan gamelan, alat musik bernada pentatonis ini. Hampir setiap Kamis legi berdasarkan penanggalan Jawa, pukul 20.00-21.00 WIB, dua sejoli ini hadir di Kraton Yogyakarta. Adik bungsu Mbok Kiyem, yang mengecap bangku sekolahan sejak tahun 1963 inilah yang menyarankan nama Sheila, yang agak ke'londo-londoan', menyelaraskan hobby orangtuanya. Hobby yang sama juga dianut Sheila, masih gamelan ter'uptodate' yakni jazz gamelan, yang merupakan perpaduan musik bernada pentatonis dan diatonis. Toh masih gamelan ini !

Sulastri.  Kereta Sriwedari, jurusan Jogja-Solo, 25 Mei 2009

Andai Cupid, dewa Cinta itu becus memanah, pastilah hidup gue nggak akan sehampa ini. Putus cinta lagi, ini kesalahan Cupid...Ya, menurut gue yang terjadi ke gue ini 80% kesalahan dia. Ahhh andaikata Cupid  belajar memanah lebih dulu dibandingkan Harjuna. Sang dewa cinta ini memainkan peran penting dalam drama besar kehidupan gue, Sulastri Kusumahningtyas.

"Kerja atau kuliah di Solo, mbak? ". Gue menoleh dan mencoba untuk tersenyum hangat pada pria beruban, berkulit terang agak Oriental, dengan wajah bersih, minim kerutan.. mungkin usianya hampir sama dengan almarhum ayah.

"Ndak pak, saya hendak menjemput ibu untuk acara keluarga di Jogja. Saya bekerja di Jakarta hampir 4 tahun ini pak. Perkenalkan nama saya Sulastri." Bapak itu tersenyum setengah terbahak.namun matanya sontak berkaca-kaca. "hmmm saya tahu, nama saya agak ndeso njih pak, tidak seperti Laura, Jean, Susan, Marissa, atau berbagai nama kebarat-baratan itu lho pak. Gue bergumam, agak jahat memang, gue langsung menebak isi benak bapak ini. "Begini nak, panggil saya Pak Andi. Saya suka nama itu, persis dengan nama mendiang isteri pertama saya, beliau dipanggil Allah SWT, setahun setelah pernikahan kami." Jawab beliau sangat lembut.

God, gue jadi kangen almarhum bapak ..God, maafin gue, wanita jomblo yang hampir kepala-3 ini,,, udah negative thinking duluan. "Rumah bapak yang di Yogya atau Solo pak?" tanya gue bersemangat.., beneran semangat. "Rumah yang di Solo itu, adalah hasil pemutihan bagi pegawai pensiunan Perusahaan Kereta api, kalau yang di Yogya, rumah pribadi hasil jerih payah saya dan isteri kedua yang sudah menampung kami beserta kedua putra kami selama puluhan tahun, nak. "

"Ohh ya, putra sulung saya mungkin seumuran kamu nak, lahir, besar, sekolah dan bekerja di Yogya. Nak Lastri usia berapa kalau bapak boleh tahu?" "Saya Januari kemarin, 28 tahun, pak" jawab saya malu-malu.  "Nah, benar dugaan bapak. berarti waktu Sma itu, sebentar... Banu tahun 1997 pas SMA kelas 1 di SMA 3."

"Wah, SMA3 pak? SMA Negeri 3 yogya pak? bola mata saya berbinar. apa memang anak beliau ini seangkatan ya? apa juga sekelas pas kuliah semester 1? hmmm Kuliah gue kan hanya sampe semester 1,, saking bandelnya, sama almarhumah bapak disuruh mundur aja daripada absen kehadiran hanya 7 kali sampe mau ujian akhir semester. Untunglah gue masih tahu diri,  untuk menebus kesalahan, gue bersikeras mengajukan lamaran ke beberapa perusahaan di Indonesia, dengan ijazah SMA ngetop plus prestasi andalan, juara 2 umum Pentas Biola Sekabupaten Sleman tahun 1993. Keberuntungan sedang memihak atau mungkin tersesat ke gue, alhasil keterima di bank swasta Jakarta sampai saat ini.

"Ya, Banu dan adiknya sekolah di SMA 3, selisihnya dengan Agni 4 tahun. Banu kemudian kuliah di Fakultas Sastra UGM, eh namanya sekarang sudah menjadi Fakultas Ilmu Budaya. S1 nya dia mengambil Sastra Inggris, setelah lulus, dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke Sidney, tapi tidak diambilnya. Banu memilih untuk istirahat dulu setahun, sembari mencari kerja sambil juga merawat ibunya yang hampir 3 bulan sekali tahun itu harus opname, akibat penyakit jantung Rematik." Beruntunglah elu, Banu, kuliah sampe sarjana di jurusan yang bener-bener elu kepengen, lha gue diarahin bahkan setengah dipaksa sama almarhum ayah buat ngambil jurusan Farmasi, yahh bener-bener jauhlah dari latar belakang gue yang jurusan Bahasa pas kelas 3.Nama lengkap Banu itu Banu Spirito, nak" ujar Pak Andi.

Gue tersenyum sumringah, seraya mengangguk semangat, "kami berdua itu sekelas lho pak waktu kelas dua dan tiga."

Banu Spirito.  Amara Singapore Hotel, 27 Mei 2009

"Buzz.. buzz" Suara di chatting lawas ym ini sangat mengusik, hampir 20 menit ini terus berbunyi.  Pembatas novel Pindahnya Orion kuselipkan di halaman 26, sambil menghabiskan secangkir luwak kopi, aku merespon 'panggilan itu'. Jaman gini, geng kami ' the kecebong' masih konevensional dan bangga bergroupchat di YM (yahoo messenger).

"buzz...ooiii hey guys, gue hadir nih" sapa Endra. "Liz, elu kayak kumbang jablay dahhhh, #:-S =))"

">:) emberrrrr " Lizete masih sibuk texting.  "Elu ngetik paan sih Liz, ngebatik yaqqq? "aku menimpali.

":">, guysss  dah daoet undangan married si Grandong lom seh? tau gak, kalo tuh kutu gak married,gue gak tahu lho, kalo nama aslinya itu Gamet Prawira.. pake gelar doktoralnya segala lagi. Itu calon bininya kepelet kali ya :-?, wahhh ngebatik? Nu, lu ngingetin gue sama pelajaran KTK jaman SMP , SMA kitee, tar malam jadi kan ya? tinggal sejam lagi nih Nu, kalo gue yang nyampe duluan di Mizzy Corner, gue Wa ya!" Lizete emang bawel, sampe di chat masih kebawa-bawa. Wanita, sahabat kentalku ini blasteran Manado, Jawa Barat, Italy. Dia selalu ngomporin buat kumpul-kumpul seangkatan SMP atau SMA kami. Dia sendiri baru setahun pindah kerja ke Perusahaan bidang alat-alat kosmetika Singapura. Lizete tetap ceria walaupun sedang dalam keadaan digantung dalam hubungan dengan kekasihnya, Rando, bule Itali, yang sempat jadi hot topic trend setter di grup chat kami. Malam ini Greg absen dari Groupchat.

"Dapet, lewat email. Gue dateng kok. Udah ya guys enjoy your dinner.. awas jadian lo bedua. gue cabut dulu, disini udh jam 9an, bini gue udah nyolek aja dari tadi,.. :-* byee." Endro kabur seperti biasanya. ":)) oke Liz, gue ganti baju langsung jalan yaq ,bye..."

Sambil ngecek WA, ada pesan agak panjang dari bapak. "byeeeeee!" Lizete mengakhiri percakapan.



Viagra. Hotel Sheraton Yogya, 1 Juni 2009

6.40 waktu Yogya, OB mengetuk pintu kamar 309, aku bergegas segera keluar dari kamar mandi, bersiap-siap mau sarapan. Sejam lagi harus ke Bandara AdiSutjipto, untuk kembali dihadang kemacetan dan kubikal di ibukota.

"Maaf, selamat pagi pak Viagra, ini ada fax yang masuk untuk bapak dari kantor Challenge Out. Saya permisi dulu pak." "Ok, makasih ya mas." Ujarku. Hah? undangan married? gileee kok Grandong duluan sihhh.. kampret tuh anak.

Greg. Bandung, 30 Mei 2009

Memang mungkin betul kata orang, cinta itu bisa membuat orang yang kuat menjadi lemah dan membuat yang lemah menjadi kuat. Halah. Cinta apanya, kenal juga baru sehari hahaha… bahkan baru 7 jam yang lalu, sejak jam 8 malam tadi. Yang jelas memang sih wajah pakistannya yang ganteng, hidungnya yang bagaikan pinokio (kelihatan meskipun hanya 15 menit kami skype) sesaat membuat terpikat. Tapi, setelah berbincang lebih jauh, mendengar bacaan Qur’annya yang begitu merdu dan tartil,  sikapnya yang sopan akhirnya muncul juga perasaan bunga-bunga asmara itu di hati saya… Namanya juga dunia maya,  rasanya yang jauh pun bisa terasa dekat. Tapi, selama yang lokal saja belum habis, nggak perlulah rasanya saya repot-repot import dari Pakistan.  Ups jam 3 subuh, mata masih sangat berbinar buat searching sesuatu di google. Setidaknya, hal ini masih mengalihkan kekecewaan saya terhadap Danny. Danny oh Danny, begitu teganya kamu menyakiti saya. Melalui pengamatan terhadap pengalaman yang dibagi oleh rekan-rekan senior di google, begitu banyak kendala menikahi pria Pakistani. Mulai dari sidang CH, Clearence House, yang harus dilewati sang Pakistani  sebelum mendapatkan visa masuk ke Indonesia. Lalu ketika sudah berhasil masuk dan  bisa menikah di Indonesia dan diajak hijrah ke Pakistan, ternyata kenyataan disana  tidaklah seindah bayangan semula. Hahaha… Kalau sudah begini jadinya, saya patah hati sebelum sempat jatuh cinta namanya. Membayangkan kesulitan-kesulitan yang akan membentang di depan mata jika seandainya kami saling jatuh cinta. What? Menikah? Greg, bangun Greg , kamu baru 7 jam berkenalan dengan Mustofah.

ohhhw, ada email masuk. what ada 1 di spam?

Dear Gregorius Putra Da Silva,

Gamet Prawira dan Yutta Dira Lingga mengundang anda dalam acara pernikahan mereka. Berikut pesannya :

Hai Greg datang ya ke pemberkatan dan resepsi pernikahan kami.

Pemberkatan 3 Juli 2010 pukul 09.00 WIB dan resepsinya  3 Juli 2010 pukul 17.00 WIB s/d selesai di Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran

Lihat Undangan di : http://datangya/gametdira/to/Greg

Kami yang berbahagia, GametDira.



(part1-- bersambung)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x