Mohon tunggu...
Suryadi
Suryadi Mohon Tunggu... -

Saya menulis dengan sikap rendah hati. Saya hanya berharap dari apa yang saya tulis, orang lain akan beroleh manfaat, walau mungkin hanya secuil. Dan saya berharap dari manfaat yang diperoleh orang lain dari tulisan saya itu, Tuhan Yang Maha Kuasa akan berkenan membalasnya dengan menunjukkan jalan kebenaran dalam hidup saya. (Personal page: http://www.universiteitleiden.nl/en/staffmembers/surya-suryadi).

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perempuan Bali Dipandang dari Sumatera, 1930-an

3 Agustus 2016   07:00 Diperbarui: 3 Agustus 2016   23:19 902
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kursus memberantas buta huruf untuk kaum perempuan di Bangli. Berdiri paling kiri: Ketut Kandia (foto Wk. Misralani). (Sumber: Majalah 'Waktu', No. 9, Tahun III, Sabtu 26 Maret 1949:17).

Darma Putra (2011) mencatat: Ketut Kandia banyak pula menulis puisi dan artikel di koran-koran yang terbit di Bali pada masa itu. Dalam foto yang ditampilkan di sini (diambil dari teks asal) terlihat Ketut Kandia berfoto bersama kelompok kursus yang diasuhnya di Bangli. Si penulis menyebut juga nama Nengah Rembu, School-opziener (penilik sekolah) di Klungkung yang menurutnya “berdjasa untuk kemadjuan bangsa Bali umumnja.”

Kursus memberantas buta huruf untuk kaum perempuan di Bangli. Berdiri paling kiri: Ketut Kandia (foto Wk. Misralani). (Sumber: Majalah 'Waktu', No. 9, Tahun III, Sabtu 26 Maret 1949:17).
Kursus memberantas buta huruf untuk kaum perempuan di Bangli. Berdiri paling kiri: Ketut Kandia (foto Wk. Misralani). (Sumber: Majalah 'Waktu', No. 9, Tahun III, Sabtu 26 Maret 1949:17).
Namun, si penulis mengeritik setengah perempuan Bali yang sudah terpelajar yang masih mau dipoligami: “mendjadi isteri kedua dari seorang bangsawan atau orang jang berpangkat.” Menurutnya, perempuan seperti itu bersifat materialis, yang sering “mendesak isteri [suaminya] jang pertama, sehingga ia dapat mengetjap kesenangan sendiri.” Si penulis itu menilai pikiran perempuan Bali seperti itu, walau sudah mengecap dunia sekolah, masih belum tercerahkan. Mereka tidak punya rasa toleransi dan empati antar sesama kaum perempuan.

Perempuan Bali dan sepeda

Hal lain “jang sangat mengherankan” di penulis itu “jalah banjakja [perempuan Bali] jang....pandai mengendarai sepeda.” Ini berarti bahwa memang ada ‘revolusi’ yang cukup mendasar di kalangan perempuan Bali pada tahun 1930an karena, sebagaimana dikatakan oleh Dijk, Kees van Dijk dalam artikelnya, ‘Pedal power in Southeast Asia’, dalam: Jan van der Putten and Mary Kilcline Cody (eds.), Lost Times and Untold Tales from The Malay world (Singapore: NUS Press, 2009, hlm. 268-282), kehadiran teknologi transportasi sepeda di Hindia Belanda dan wilayah-wilayah lainnya di Asia Tenggara sejak paroh kedua abad ke-19, sampai batas tertentu, telah mempengaruhi aspek sosial budaya masyarakat kolonial.

Si penulis berkomentar, kalau di Jawa pemakaian sepeda baru terbatas pada “mereka yang ‘modern’ seperti pegawai kantor, bangsa Belanda dan Tionghoa serta gadis-gadis sekolah. Sedang dikota2 ketjilnja terbatas kepada gadis2 sekolah dan kadang2 djuga perempuan latjur”. Akan tetapi di Bali perempuan biasa di desa-desa pun sudah terbiasa memakai sepeda. Di Badung si penulis melihat “dengan mata sendiri bukan hanja gadis2 jang terpeladjar atau anak2 sekolah [saja] jang berkenderaan sepeda, namun djuga perempuan2 kampung dan desa – nota bene jang buta huruf –, baik tua maupun muda banjak berkenderaan sepeda dengan lagak jang tak ada tjanggungnja.” Setelah mendapat penjelasan mengenai hubungan fenomena ini dengan keadaan alam Bali, maka “agak berkuranglah keheranan [si penulis] dan berobah mendjadi keta’djuban akan ‘kepraktisan’ orang Bali.”

Menurut si penulis pula, dalam kehidupan sehari-hari dan dalam soal “berfikir dengan setjara praktis dan ekonomis, perempuan Bali lebih madju dari lain perempuan2 di Indonesia umumnya.” Bukan sesuatu yang aneh bila kita melihat seorang perempuan Bali, bahkan juga mereka yang menjual tuak, “tak memakai badju, [dengan] ‘susur’ dimulutnja, dengan gelungnja [yang] terurai, berkendaraan sepeda, sedang dibelakangnja…penuh dengan barang dagangannja.” Di pasar-pasar tradisional di Bali. “dengan sekedjap dapat kita lihat bahwa 90% pedagang2 jang ada disana terdiri dari kaum perempuan”, kata si penulis itu lagi. Lantaran aktif dalam dalam bidang ekonomi itu, maka kaum perempuan Bali menganggap sepeda sebagai “kendaraan jang sangat praktis”, dan karena sifat mereka yang bebas dan “tak malu2 itu”, mereka “tak segan2 menjesuaikan diri untuk mengendarai sepeda dan mempergunakannja sebagai alat kendaraan untuk membawa barang2 dagangannya.”

Si penulis itu berpendapat, alangkah baiknya perempuan-perempuan di tempat lain, seperti di Jawa dan juga di kotanya sendiri, Medan, “djuga berlaku seperti perempuan Bali.” Menurutnya, jika perempuan “bakul” di Jawa “memakai sepeda seperti perempuan Bali, tentu mereka tidak usah membungkuk2an punggungnya untuk menggendong barang dagangannya jang agak berat itu”, satu faktor “jang membikin perempuan2 di daerah Solo lekas bungkuk.”

Demikianlah pandangan si penulis yang tinggal di Medan itu tentang kemajuan perempuan Bali. “Apa ada di Medan, kota dollar, seperti di Bali itu?” “(Belum, Bung!”), jawabnya sendiri.

Jang kita lihat di Bali [itu], jalah pada tahun…1938. Djadi 11 tahun jl [yang lalu]”, kata si penulis itu lagi, untuk memastikan kepada pembaca masa kini bahwa perempuan Bali sudah lama maju, malah sudah mengalahkan kaum perempuan di banyak daerah lainnya di negeri ini.

Dr. Suryadi, MA.

Staf pengajar Department of South and Southeast Asian Studies

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun