Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Perempuan Penyimpan Hutang

11 Oktober 2017   23:59 Diperbarui: 12 Oktober 2017   01:33 1246 6 3
Cerpen | Perempuan Penyimpan Hutang
ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

Sepasang mata yang merah, memojokkan harapan di sela-sela jendala depan penjara yang indah. Penjara itu suci bagi sebagian orang yang mengakuinya. Pintunya, gordennya, kasurnya dan seisi rumahnya adalah butiran-butiran surga yang menjelma buah-buah surga. Di sisi lain dari itu semua. Aku sosok perempuan penyuka hujan. 

Bagiku hujan adalah air yang terlepas dari Tuhan untuk membersihkan keluh di tubuhku. Aku tidak menganggap diriku kotor, tapi mungkin aku diizinkan Tuhan untuk mengotorkan sedikit kesucian tubuhku dari sisa-sisa kemurahan hatinya. Setiap kehidupan menurutku adalah bimbang. Tidak ada barang yang kotor, yang ada hanya dia berada pada tempat yang tidak bersih.

Kelahiranku sangat tidak disangka, malam-malam tanpa kunang-kunang bersinar, rembulan dan segala bintang tak bisa menampakkan dirinya dengan seksama. Perempuan yang terlahir di tempat persinggahan bulan purnama. Bulan yang selalu diterima oleh langit kapanpun dia muncul. Tidak ada alam yang menolak kehadiran penghuninya. Alam semesta menerima semua makhluk dari persinggahan manapun. Semua perempuan selalu singgah dihadapan Tuhannya. Alam adalah buatan Tuhan, manusia buatan Tuhan. Segala kuasa yang lahir dan mati itu kebenaran sejatinya Tuhan.

Etika tidak pernah lepas dari masyarakat, aku lahir dari masyarakat. Baik dan burukku hanya ada pada tangan masyarakat. Aku bukanlah norma kesopanan, norma keadilan, norma kemanusiaan dan norma hati nurani kemanusiaan. Hidupku semuanya telah ku tanggalkan pada alat-alat mereka. Hidup maut ada pada Tuhan, tapi seakan-akan Tuhan menitipkan hidupku pada alat-alat benih mereka. Ketika aku menginginkan atas mati dan hidupku, aku hanya meminta kesungguhan mereka, berani tidak melukai diriku dengan kasih sayang dan cinta mereka. Tidak ada lelaki yang tidak mencintaiku, tidak ada lelaki yang tidak menyayangiku. 

Apa yang dia lakukan atas dasar cinta kepadaku. Aku hanya perempuan penabur benih cinta kepada manusia. Kehidupanku hanya lemah lembut, tidak ada kekerasan fisik yang berani menghujamku, sebab aku bukan penggawai negara yang tidak tau soal cinta. Penggawai negara kalau belajar cinta, silahkan datang kepadaku, aku kan mengajarkannya, bagaimana cinta itu bisa timbul dari kasih sayang dan kemauan.

Bagaimana aku tidak dibenci masyarakat, kehidupanku pemuas hasrat semestara. Menurutku Tidak ada yang lebih arif dari orang yang menemaniku tiap malam. 

Orang yang pertama menemaniku pada malam pertama adalah pacarku sendiri. Bahkan dia hanya aku jadikan sebagai batu lompatan untuk ke lelaki ke dua, ke tiga, ke empat dan seterusnya. Bukan soal pertama, ke dua atau ke tiga. Tapi yang aku lihat hanya mereka yang tidak bisa menjamin hidupku tapi terus selalu mengolok-olokkan aku disamping dia melupakan norma kemanusiaan yang melekat pada dirinya. Aku tidak menemukan hening di setiap malamku, aku menjajakan setiap hari apa yang aku punya. 

Aku tidak punya harta, jabatan, kemewahan bahkan barang-barang yang bisa aku jual belikan. Aku hanya punya cinta, aku menjual cinta, setiap orang yang datang kepadaku mereka akan merasa nyaman dengan segala bentuk yang keluar dari tubuhku. Soalnya aku menawarkan cinta, bukan identitas siapa aku.

Hari-hariku adalah malam. Siang hanyalah ilusi yang tak sanggup memberiku malam yang indah.  Malamku hanya kenangan yang akan aku kenang sepanjang hidupku sebagai manusia. Cukup hari ini saja badanku terasa loyo, aku yang biasa menemani beberapa lelaki disetiap malamnya, tapi untuk kali ini badanku menolak dengan lelah. Ku tutup pintu kamarku, aku tinggal di persinggahan jalan, kamarku bersih, terawat tanpa ada secerca kotoran yang menempel pada dinding kamarku.

 Malam itu aku sedikit merebahkan tubuhku di kasur yang aku beli dari hasil penjualan cintaku. Aku melihat cahaya mobil menerangi kamarku dari luar, nampak cahaya itu seperti cahaya mobil sedan yang mewah, sebab cahaya itu rendah, tidak menandakan kalau mobil itu besar. Aku intip dari jendela, ternyata yang keluar dari mobil itu adalah Pak Dayat. Saya kenal betul siapa dia, dia adalah seorang pejabat daerah setempat. Tiap minggu dia selalu mengajakku pergi dan bermalam denganku. Jadwalku tiap malam adalah dengannya. Jadi siapa yang mengajakku pada hari itu, aku tidak bisa. Karena Pak Dayat sudah memesan diriku sejak lama dan itu sudah menjadi rutinitas tersendiri.

"Tok tok tok" Suara pak Dayat mengetok pintu,

"Ohh, bapak. Silahkan masuk pak ..!" Sapaku dengan senyuman, tapi sebenarnya badanku ini sudah lelah tak bertenaga.

"Kamu kenapa kok kelihatannya lelah sekali" Dia masuk sambil matanya melihat ke arah bawah tubuhku. Karena pada waktu itu aku memakai celana pendek yang pendeknya agak sedikit ke atas.

"Badan saya agak terasa capek pak, aku butuh istirahat. Kalau boleh saya minta malam ini saya ingin tidur. tubuhku mulai tidak bisa diajak keluar saat ini Pak" Permintaanku dengan melemas.

"secapek itu kah dirimu Sar..??"

"Apa aku perlu mengantarmu ke rumah sakit..??" Tanya Pak Dayat.

"Tidak perlu pak, aku hanya butuh istirahat. Kemarin aku melayani banyak orang yang menginginkanku"

"Apapun yang terjadi kamu harus melayaniku Sar. Malam ini aku menginginkamu..??" Paksa Pak Dayat.

"Tidak bisa Pak. Tolong..!!!" Tolakanku dengan lembut.

Tanpa sadar dan tanpa pikir panjang, dia langsung menikamku dari belakang. Dia memaksaku untuk melayaninya. Yang aku kenal saat ini bukan Pak Dayat yang dulu, dia tidak pernah memaksaku seperti ini. diriku sudah capek, sudah lelah, tenaga yang ada pada tubuhku tidak bisa dipaksakan lagi. "Tolong Pak mengerti keadaanku" aku perempuan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2