Mohon tunggu...
surya hadi
surya hadi Mohon Tunggu... Administrasi - hula

Pengkhayal gila, suka fiksi dan bola, punya mimpi jadi wartawan olahraga. Pecinta Valencia, Dewi Lestari dan Avril Lavigne (semuanya bertepuk sebelah tangan) :D

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Mengukur Pendidikan

27 Desember 2019   12:16 Diperbarui: 27 Desember 2019   12:33 244
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa dinilai secara kuanitatif ?

Bisa..

Tapi pertanyaannya, bagaimana dengan praktiknya ?? Toh data-data kuanitatif yang tersaji hanya berdasarkan teori di atas kertas kan ?

Dalam pandangan saya, pendidikan adalah bagaimana membentuk manusia dengan moral dan karakter yang baik sehingga mereka dikemudian hari tidak akan kesulitan berbaur di masyarakat. Belajar menghargai, toleransi, menghormati, kerja sama hingga bekerja keras. Kesemuanya adalah karakter yang harusnya meresap masuk kedalam diri seseorang, bukan hanya sekedar teori yang diajarkan namun tidak pernah dipraktekkan.

Pendidikan juga adalah bagaimana membentuk sebuah lingkungan yang positif. Ingatlah bahwa kita adalah hasil dari lingkungan dimana kita ditempatkan. Membentuk lingkungan yang positif dengan memberikan contoh langsung secara praktik adalah hal terbaik yang bisa dilakukan oleh para pendidik dalam hal ini guru ataupun orang tua untuk bisa membentuk karakter anak-anak mereka.

Lingkungan yang positif tentunya akan membentuk anak-anak menjadi pribadi yang baik, percaya diri dan mampu mengenal bakat dan kemampuan diri dengan baik, sehingga tahu kemana harus melangkah untuk jenjang selanjutnya dan bisa memberikan berdampak pada orang banyak. Toh, sekolah bukan hanya soal angka kan ? 

Kecerdasan secara intelektual/teoritis tanpa dibarengi dengan karakter yang baik hanya akan menjadi hal yang membahayakan. Pemimpin yang otoriter, pemuka agama yang sesat, hingga terorris adalah contoh nyata bagaimana kecerdasan tanpa karakter baik hanya akan membentuk generasi yang salah.

Mengelola pendidikan memang tidak bisa sembarangan. Seperti kata Jusuf Kala, kekeliruan dalam pengambilan kebijakan di bidang pendidikan akan merugikan masa depan puluhan juta generasi penerus bangsa.

Terakhir sebagai penutup, saya ingin menuliskan kembali status yang katanya seorang wali kelas yang belakangan ini viral dimedia social.

Ujian anak anda telah selesai

Saya tahu anda cemas dan berharap anak anda berhasil dalam ujiannya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun