Mohon tunggu...
Suradin
Suradin Mohon Tunggu... Duta Besar - Penulis Dompu Selatan

Terus Menjadi Pembelajar

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jangan Pernah Berpangku Tangan, Karena Semesta Membutuhkan Kita

30 September 2020   02:11 Diperbarui: 30 September 2020   02:19 164
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

MEMANG  tidak penting bagaimana pendapat orang tentang kita. Karena yang berbicara belum tentu lebih baik dari yang kita lakukan. Hidup nampaknya memang demikian. 

Setiap ada tindakan, apa lagi sesuatu yang baru, akan pasti ada yang membicarakannya. Membahasnya. Bahkan tidak sedikit menyindirnya dari sisi yang kurang baik.

Demikianlah yang terjadi. Terlebih kita berada di tengah kehidupan masyarakat pedesaan yang masih 'suka membicarakan orang lain'. Dan itu cukup kuat, karena interaksi masyarakat masih cukup masif. Bahkan tidak sedikit yang masih cukup kuat memegang nilai-nilai sosial warisan leluhur. 

Satu persoalan saja bisa diketahui oleh satu kampung. Perkembangan technologi tidak lantas dengan mudah menghilangkan kebiasaan lama masyarakat di wilayah pedesaan. Terkikis mungkin ia. 

Tapi, menghilangkan semua yang menjadi tradisi, belumlah sepenuhnya. Satu sisi memang baik, tetapi tidak sedikit juga yang nampaknya tidak perlu di pertahankan. Salah satunya mengenai urusan-urusan privasi dan pilihan hidup seseorang menjadi komoditas publik.

Dokpri
Dokpri
Dokpri
Dokpri
Seperti yang dialami oleh seorang kawan saya. Bahwa dirinya menjadi bahan gunjingan orang di kampung ketika memutuskan mengambil bagian sebuah program mengenai sampah. 

Baginya hal itu biasa saja. Karena ingin mengambil bagian untuk memberikan contoh kepada masyarakat, bagaimana pentingnya menjaga lingkungan dari bahaya sampah. 

Namun demikian, sebagian masyarakat memandang apa yang dilakukannya sesuatu yang tidak pantas. Pasalnya, dirinya adalah seorang sarjana. Strata 2 lagi. Mestinya, memungut sampah, bukanlah urusannya lagi yang nota bene keluaran perguruan tinggi.

Sebagian masyarakat, ramai-ramai memperbincangkannya. Dia menjadi trending topik di gardu-gardu kampung. Tapi, dirinya tetap fokus menuntaskan program sampah yang sudah dicanangkan bersama kawan-kawannya. Ia tidak menggubris sedikit pun apa yang diomongkan orang tentang dirinya. 

Baginya, totalitas adalah salah satu kunci kesuksesan menuntaskan misi. Dirinya sadar, bahwa gelombang sindiran, cibiran bahkan diremehkan pasti akan dialamatkan pada dirinya. 

Sebab, tidak semua sarjana seperti dirinya, mau dan terjerambab dalam urusan-urusan seperti itu. Apa lagi yang dilakukannya adalah suatu pekerjaan yang umumnya di lakukan oleh masyarakat kelas menengah bawah.

Dokpri
Dokpri
Dokpri
Dokpri
Dokpri
Dokpri
Bahkan mungkin dirinya satu-satunya seorang sarjana yang memilih untuk mengurusi sampah di kampungnya. Dirinya sadar, bahwa masyarakat mungkin sulit percaya dengan apa yang dilakukannya. 

Tapi, dia begitu yakin, jika dia dan kawan-kawannya sukses menuntaskan misi, bahwa sampah bisa memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat banyak. Jika misi itu berakhir sukses, maka suatu saat tepuk tangan akan membahana di udara. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun