Mohon tunggu...
Sulasmi Kisman
Sulasmi Kisman Mohon Tunggu... Administrasi - Warga Ternate, Maluku Utara

http://sulasmikisman.blogspot.co.id/ email: sulasmi.kisman@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Kompas dan Kompasiana, Sebuah Cerita yang Tak Kunjung Usai

9 November 2019   22:43 Diperbarui: 10 November 2019   00:09 175
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mengenal kompas dalam sebuah perjalanan, ibarat menemukan peta untuk terus berjalan. Bersama Kompasiana, guratan tinta tak akan pernah mengantarkan cerita pada ujungnya.

Kompas dan sebuah Perkenalan
Tinggal di Pulau Ternate nun jauh dari ibu kota tidak lantas menjadikan kita buta informasi. Meskipun cerita ini terjadi satu dekade lalu. Dimana pada masa itu, seingat saya belum secanggih saat ini: informasi datang bertumpah ruah hanya dalam sekali klik.

Beruntunglah rumah saya terletak di depan kampus. Lalu apa hubungannya? Orangtua memanfaatkan lokasi depan rumah, membuat warung makan untuk berjualan nasi.

Suatu ketika ada seorang pria yang datang menawarkan penitipan koran. Alih-alih meyakinkan koran pasti laris disini (di warung kami). Karena dosen dan mahasiswa pecinta literasi, maka koran akan selalu dicari.

Bukan karena rayuan itu sebenarnya. Sebagai penjual kami merasa bersyukur bisa mengambil keuntungan Rp 500 per eksemplar. Selain mendatangkan rupiah akses informasi akan mudah didapatkan. Walhasil Koran menjadi "jualan" baru di warung makan.  

Setiap harinya loper koran mengantarkan lima eksemplar. Koran dijajakan di depan warung makan. Maka, rutinitas pagi sebelum ke kampus: menjaga warung disambi dengan membaca koran. 

Beruntung pula jika ada satu atau dua eksemplar yang tidak laku. Mengapa? Karena itu bisa saya jadikan bahan kliping.

Entah apa yang merasuki saya kala itu. Menggunting setiap informasi menarik dari koran menjadi kebahagiaan tersendiri. Ada yang masih tersimpan rapi hingga kini namun sayang yang lainnya tak tahu raib kemana.

Mulanya hanya koran lokal yang dititipkan oleh loper koran. Seiring berjalan waktu ada juga majalah lokal hingga koran nasional. Cukup laris.

Salah satu koran nasional yang menarik perhatian adalah Kompas. Saya sering membacanya meskipun kadang merasa kesulitan karena banyak kata yang tidak dimengerti, kamus KBBI digital pun belum saya miliki saat itu.

Berlangganan Kompas dan Keseruan menjadi Kompasianer
Empat tahun berlalu saat berkenalan dengan kompas. Kalau tidak salah ingat 30 Mei 2014 saya memutuskan bergabung menjadi kompasianer. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun