Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Pilpres 2024, Prabowo Harus Menang

10 Agustus 2020   17:07 Diperbarui: 10 Agustus 2020   17:19 242 14 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pilpres 2024, Prabowo Harus Menang
menhan prabowo dan presiden jokowi di lokasi pengembangan lumbung pangan nasional - nasional.kompas.com

Tahun 2024 mendatang (insyaAllah umur panjang) Prabowo harus menang. Tiga kali pilpres saya tidak menjagoi Prabowo Subianto. Alasannya sederhana, capres lain lebih menjanjikan untuk dipilih. Nah, mudah-mudahan pilpres mendatang Prabowo paling menjanjikan.

Kata "harus" itu dengan berbagai pertimbangan matang. Pertama, pengalaman segudang. Boleh saja kita menilainya dari sisi negatif. Tetapi lebih bijaksana berharap baik dan menilai baik. Bahwa Prabowo punya tekat dan semangat besar utuk menjadi presiden RI. Itu fakta yang sulit dipungkiri. 

Jadi sampai kapanpun tak akan surut kaki melangkah ke arah sana. Satu langkah sudah didaki, yaitu kembali terpilih sebagai Ketua Umum Gerindra 2020-2025. Artinya, tiket pilpres sudah di tangan. Tinggal menyiapkan diri dengan lebih baik dibandingkan tiga kesempatan lalu.

Salah satu bentuk kesiapan Gerindra dalam menapak menuju Pilpres 2024 yaitu keberhasilan dalam Pilkada serentak 2020 mendatang. Kesuksesan pada Pilkada tersebut membuat satu langkah maju lebih lancar dan cemerlang menuju kursi RI 1.

Kedua, lampu hijau sudah diberikan pula oleh parpol besar pendukung pemerintah saat ini, PDI Perjuangan. Megawati tentu tahu betul bagaimana harus memenuhi janji-janjinya tempo dulu. Tidak ada kata terlambat. Sebuah keterpaksaan ketika memperhadapkan Jokowi dengan Prabowo. Tetapi kali ini tidak lagi. Boleh jadi Gerindra dengan PDIP menjadi satu paket capres-cawapres pada Pilpres 2024 mendatang. Siapa si cawapres yang selayaknya mendampingi Prabowo kalau bukan Puan Maharani.

Ketiga, Prabowo harus merombak total penampilan, gaya maupun isi retorika, tidak salah memilih kawan seiring (parpol koaliasi maupun mendukung), dan tidak mengulangi berbagai kesalahan penyebab kekalahan pada pilpres terdahulu.

Dua syarat terdahulu sudah di tangan. Tidak masalah dan tidak perlu dipikirkan benar. Namun, syarat ketiga tidak mudah. Bahkan sangat sulit. Rekam jejak masa lalu masih kuat melekat dalam benak pemilih. Maka tidak mudah pula orang membuang kesan tertentu yang menyebabkan mereka begitu gampang mengesampingkan Prabowo.

Salah satu alasan para pemilih menyingkirkan nama Prabowo dalam pilihan mereka, yaitu (saat itu) tidak ada pengalaman memadai pada bidang Pemerintahan. Maka jabatannya kini sebagai Menteri Pertahanan (entah alasan apapun yang melatari keputusan Jokowi maupun Megawati dalam hal ini) harusnya dipertahankan hingga akhir masa jabatan nanti. Jangan berhenti di jalan. Berhenti jangan, apalagi diberhentikan. Akan sangat buruk akibatnya bila hal terakhir itu yang terjadi.

Bila sukses selama empat tahun berada dalam pemerintahan maka cibiran dan ejekan bahwa Prabowo tidak punya pengalaman memadai selain dalam kemiliteran tidak ada lagi.

Keempat, ini syarat yang terberat. Saingan Prabowo dalam pilpres 2024 nanti mestilah tidak cukup menonjol-mentereng-moncer untuk dijadikan pilihan. Apalagi pada saat itu Prabowo sudah 73 tahun. Sudah cukup sepuh. Sebagai pembanding, Donald Trump diangkat menjadi Presiden Amerika ke 45 pada umur 70 tahun (1916).

Dalam perkiraan saya, kalau saingannya Anies Baswedan, Sandiaga Uno, dan  Agus Harimurti Yudhoyono rasanya masih boleh dilewati. Tetapi bila yang muncul sebagai saingan Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Khofifah Indar Parawansa, dan Erick Thohir; maka rumit untuk dapat melewati mereka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x