Mohon tunggu...
Ahmad Sugeng Riady
Ahmad Sugeng Riady Mohon Tunggu... Warga menengah ke bawah

Masyarakat biasa merangkap marbot masjid di pinggiran Kota Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perubahan di Rutinan Berjanjen

8 Maret 2019   16:31 Diperbarui: 8 Maret 2019   16:43 50 0 0 Mohon Tunggu...

Tiap malam Jum'at, jalanan di desa saya sepi. Motor, sepeda, dan mobil jarang berlalu lalang. Hampir semua orang, di tiap rumah memiliki kesibukan masing-masing. Mulai dari menonton televisi, sampai mengaji rutin yang diselenggarakan tiap malam Jum'atnya.

Bapak-bapak biasanya menggelar yasinan rutin. Tiap pekan berganti tempat. Terus begitu, memutar dan melingkar dari satu tempat ke tempat yang lain. Banyak gelaran rutinan yasinan semacam ini di desa saya. Penentuan rutinan pun ada yang berdasarkan urutan, ada juga yang berdasarkan pada kesepakatan. Rumah siapa yang siap, pekan depan yasinan digelar di tempatnya.

Begitupun untuk usia anak-anak sampai remaja. Kaum ini juga punya rutinan. Di desa saya, rutinan kaum ini dikenal dengan berjanjen. Membaca sholawat al-barzanji.

Saya sendiri jadi bagian rutinan berjanjen ini. Ya selain karena banyak teman yang turut serta rutinan berjanjen, orang tua pun mendesak saya untuk ikut ambil bagian di rutinan ini juga. Saya pun tidak merasa keberatan. Akhirnya rutinan berjanjen tiap pekannya menjadi jadwal tetap. Tiap malam Jum'at, jadwal selalu saya kosongkan untuk berjanjen.

Dahulu, saat hendak berangkat berjanjen saya dan teman saling ajak. Mendatangi dari satu rumah ke rumah yang lain. Setelah semuanya ikut serta, baru kami berangkat. Meskipun terlambat, yang penting sampai di tempat. Begitu terus, tiap malam Jum'at di tiap pekannya.

Sesampainya di rumah yang menggelar rutinan berjanjen, kami masuk bersalaman kemudian duduk rapi bersila. Teman yang kebagian tugas membaca disediakan tempat khusus. Ya tujuannya biar pengeras suara tidak bersliweran kesana kemari. Begitupun alat musiknya, petugasnya juga disediakan tempat khusus. Biasanya dipojokan.

Saat gelaran berjanjen dimulai, tidak jarang pengurus atau yang usia dewasa selalu mengingatkan untuk tidak ramai. Maksudnya mendengarkan, dan menyimak dengan seksama bacaan berjanjen dari teman yang bertugas. Tidak hanya canda dan gurau saja. Tapi ya namanya usia anak-anak, ketemu teman sama dengan nemu rejeki ratusan juta rupiah. Ngobrol, usil, jahil, selalu menjadi selingan.

Ketika sudah selesei membaca berjanjen, acara intinya baru dimulai. Ya maklum, kami berangkat belum masuk sesuap nasipun ke perut. Jadi ya setelah duduk bersila hampir dua jam, perut kami berontak dan berdemo minta jatah. Makananpun tiba, kadang dibarengi es buah, kadang juga teh manis. Tidak jadi persoalan menunya apa, yang pasti kami semua dapat jatah.

Usai melahap makan minuman, kami masih duduk bersila menunggu pengumuman esok Jumatnya di rumah siapa. Dahulu, masa awal saya ikut berjanjen, langsung diumumkan rumah yang menjadi tempa gelaran rutinan berjanjen berikutnya. Tapi sekarang diberi jeda sepekan, untuk mempertimbangkan mengambil tidaknya. Kalau tidak, ya dioper ke yang lain. Begitu seterusnya.

Perubahan Berjanjen

Ya kalau saya coba menilik teori dari Soerjono Soekanto dalam kitabnya 'Sosiologi Suatu Pengantar', perubahan sosial salah satunya dimusababkan dengan adanya penemuan baru. Penemuan baru ini wujudnya bisa beragam. Bisa norma, bisa nilai, bisa juga dalam bentuk benda.

Hari ini teknologi informasi dan komunikasi menjadi wujud benda penemuan baru. Gawai atau smartphone, begitu banyak orang menyebutnya. Komunikasi dan informasi yang dulunya perlu upaya lebih, sekarang tinggal sekali klik sudah selesei. Mau informasi model apapun, bisa. Mau komunikasi dengan gambar, atau hanya suara bisa dilakukan dengan cepat.

Nah, terus relasi antara rutinan berjanjen dengan gawai ini apa Bambang? Sebentar gaes, sabar. Meski dari sudut kesehatan tidak nyambung, mari kita cari dari perspektif sosial.

Begini, gawai ini menjadi penemuan baru dalam kehidupan manusia di abad milenial. Harganya juga terjangkau. Ragam tipe, jenis, dan model bermunculan di pasaran. Manusia tinggal tunjuk, asal uang yang dibawa sesuai harga gawai yang dibanderol, selesei. Kita bisa menikmati tanpa tendensi dari orang lain.

Nah, tak luput gawai ini juga menderapkan langkahnya di teman saya yang bergiat di rutinan berjanjen. Semuanya punya dan pegang gawai masing-masing. Bahkan gawai yang dimiliki oleh usia anak justru lebih mahal jika dibanding gawai miliknya para pengurus berjanjen.

Memang disisi tertentu, gawai ini memudahkan distribusi informasi berkait kegiatan berjanjen. Pekan ini di rumahnya si a, pekan depan di masjid, dan seterusnya. Informasi semacam itu bisa lebih mudah, lebih hemat waktu dan tenaga.

Namun disisi lain, gawai ini membuat pola baru dalam rutinan berjanjen. Bukan berjanjennya yang utama, melainkan bermain gawainya. Ya anak-anak sekarang lebih cenderung tidak ramai. Tapi jemarinya tidak bisa dihentikan dari gawai. Dan saat dimarahipun, efek jera tidak muncul.

Saya rasa, gawai ini menjadi benda baru yang merubah tradisi berjanjen di desa saya. Pokoknya serba gawai. Apa-apa harus melibatkan gawai. Saya khawatir, kitab berjanjen yang hari ini masih dibaca dan disimak, lusa bisa diganti dengan kitab pdf di gawai. Semua pada khusuk lihat gawainya masing-masing dengan dalih membaca kitab pdf. Demikian.

VIDEO PILIHAN