Mohon tunggu...
Subejo PhD
Subejo PhD Mohon Tunggu... Dosen - Akademisi dan Peneliti

Dosen dan Peneliti Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Mungkinkah Indonesia Tanpa Impor Pangan?

19 Mei 2019   06:00 Diperbarui: 3 Juni 2019   20:33 1386
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kebijakan stop impor pangan selalu menjadi perhatian publik dan juga sempat menjadi isu penting dalam beberapa putaran debat calon presiden 2019. Dalam beberapa kesempatan, calon presiden Prabowo Subianto menyatakan jika terpilih, memiliki kebijakan tidak akan impor bahan pangan. Calon Presiden Joko Widodo juga menyinggung pentingnya membangun kedaulatan pangan nasional.

Gagasan nol impor bahan pangan bagi Indonesia perlu diulas apakah cukup realistis  dan feasible untuk semua bahan pangan atau hanya realistis untuk bahan pangan strategis tertentu. 

Swasembada bahan pangan pokok seperti beras, jagung, gula dan daging sangat relatistis dengan prasyarat konsistensi dukungan kebijakan terkait pembiayaan,  inovasi teknologi dan peningkatan skala usaha. 

Namun, nol impor tidak realistis untuk kedelai dan gandum karena komoditas tersebut merupakan tipikal komoditas pangan yang sangat sesuai dikembangkan di negara empat musim dan kurang sesuai dikembangkan di negara beriklim tropis.

Impor Kedelai dan Gandum

Indonesia mengimpor kedelai  dengan jumlah lebih besar dibandingkan  produksi nasional. Total kebutuhan kedelai per tahun sebesar 3,4-3,6 juta ton. Namun kapasitas produksi kedelai nasional hanya  mendekati 1 juta ton, sehingga setiap tahun diperlukan impor sebanyak 2,4-2,6 juta ton.

BPS (2019) melaporkan tahun 2017 impor kedelai sebesar  2,67 juta ton yang bernilai US$ 1,15 miliar. Laporan Detik (2019) menunjukkan total impor 2018 sebesar 2,58 juta ton bernilai US$ 1,10 miliar dengan  pemasok utamanya AS sebanyak  2,52 juta ton bernilai US$ 1,07 miliar.

Produksi kedelai Indonesia tahun 2015 sebesar 963.183 ton (BPS, 2019). Namun produksi menurun menjadi 859.653 ton dan 538.728 ton pada tahun 2016 dan 2017 dan mengalami peningkatan menjadi 982.528 ton pada tahun 2018 (Kementerian Pertanian, 2019).

Dragan dkk (2018) melaporkan rerata produktivitas kedelai tertinggi di dunia adalah Amerika (3,1 ton/ha), disusul Oceania dan Eropa sebesar 2,14  ton/ha dan 2,08 ton/ha. Rerata produktivitas di Asia hanya mencapai 1,45 ton/ha. BPS (2019) melaporkan produktivitas kedelai nasional pediode 2005-2015 berkisar 1,3-1,5 ton/ha.

Selain kedelai, Indonesia memiliki kemampuan sangat rendah memproduksi gandum. Budidaya  gandum sudah dicoba dilakukan di beberapa tempat seperti daerah pegunungan Jawa tengah dan Malang Jawa Timur namun kapasitas dan skala produksinya sangat rendah.

Impor gandum oleh Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir menurut laporan Businesstimes (2018) mengalami kenaikan sekitar 5 persen per tahun. Indonesia mengimpor gandum 10,5 juta ton  pada tahun 2017/2018 dan merupakan  negara importir terbesar kedua setelah Mesir.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun