Mohon tunggu...
Fitria Yusrifa
Fitria Yusrifa Mohon Tunggu... -

Seseorang yang haus akan rasa sepi. Menyepi, menyendiri, lalu meratapi. Ya, hanya itu yang ia sukai selama ini

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Saat Ibu Memanggil Namaku

30 Agustus 2014   14:27 Diperbarui: 18 Juni 2015   02:06 58
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Hari ini adalah hari minggu, dimana setiap orang, entah itu pelajar, pekerja, maupun pejabat, ingin mengistirahatkan diri di rumah dan tempat-tempat rekreasi yang mereka ingin tuju. Namun, tiada hari minggu dalam catatan hidup Ibuku yang notabenenya bekerja sebagai seorang pengusaha terkenal. Hari-hari dilaluinya tanpa beban dan seolah tak mengenal keluarga, terutama aku, sang anak. Dia pulang pukul sepuluh malam setiap harinya dan pergi ke luar kota atau kemanapun yang ia ingin tuju(untuk urusan bisnis, tentunya)pukul setengah enam pagi, saat kami baru saja membuka mata untuk menatap dunia.

Ibu tak pernah memasak untuk kami. Dia serahkan semua kepada Mbok Jah yang telah mengabdikan diri kepada keluarga kami sejak aku lahir. Ibu seolah tak pernah hadir dalam hidupku. Aku hanya mengenalnya lewat potret diri yang terpajang di dinding ruang tamu kediaman kami. Dia tampak cantik di potret diri itu. Rambut ikalnya yang hitam, sepertiku, berhasil membuat keraguanku tentang apakah aku putri kandungnya sirna sudah.

Hari ini adalah hari minggu, dimana setiap anak bergelayut manja dengan kedua orang tua mereka dan bercengkrama tentang hal-hal yang mereka alami selama satu minggu lamanya. Tapi, tidak denganku. Ayah, telah meninggalkan kehidupan kami sejak aku lahir. Sosok ayah hanyalah segaris siluet yang akupun tak bisa menebak, mana matanya, mana hidungnya, mana bibirnya. Tak ada potret dirinya di dinding ruang tamu rumahku. Tak ada rekam jejak apapun yang ibu atau kak Danu simpan, untuk sekedar mengenang sosok Ayah. Ayah, entah ia pergi ke mana. Yang aku tahu, aku lahir dari rahim dan perjuangan seorang ibu.

Aku bukanlah anak yatim piatu. Aku adalah anak yang memiliki kedua orang tua yang utuh, walaupun mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Aku cukup bangga dengan orang tuaku yang sangat produktif itu. Maksudku dalam hal ini adalah IBU. Soal ayah, aku tak pernah berinisiatif untuk mengorek informasi tentang dirinya.

“Kak, kira-kira ibu mau enggak, ya, ambil raporku?”

Kak Danu menatapku iba. Dan seperti semester-semester yang lalu, ia melontarkan jawaban yang sama,

“Fi, kan masih ada aku. Jangan berharap lebih sama Ibu. Kita harusnya bersyukur sudah diperbolehkan tinggal di rumah ini. Rumah yang segede ini! Apapun tersedia, Fi! Ayolah, jangan berharap Ibu ada buat kita dalam situasi seperti ini.”

“Kak,”

Kuakui aku hampir menyerah dalam situasi seperti ini. Kenapa tak ada sedetikpun waktu dalam hidupku untuk bertemu Ibu secara langsung. Mataku mulai terasa panas.

“Fi, kalau kamu penasaran ingin ketemu Ibu, kamu tunggu aja dia balik jam sepuluh.

Jantungku berdegup kencang. Aku mulai mencerna kata-kata dari Kak Danu. Oh, Tuhan, aku ingin mencobanya. Restui aku ya, Tuhan.

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Berkali-kali aku menatapnya dan semakin lama perasaanku tak menentu. Aku tahu, untuk masalah ini aku tidak bisa bersikap sedikit sabar. Tuhan, kenapa Ibu belum pulang? Aku ingin bertemu Ibu, ya Tuhan.

Dan suara mobil itu, semakin dekat saja. Aku tahu itu mobil ibu. Aku sudah tak sabar. Tak sabar!

Dia menyentuh gagang pintu dan pintupun terbuka. Inilah pertemuan pertama antara dua sosok yang seharusnya dapat bertemu setiap waktu, karena masih dalam satu atap. Tuhan, ayolah, jangan membuatku gugup.

Ternyata, dia memang cantik. Rambut ikal panjangnya yang hitam, hidungnya yang mancung, kulitnya yang putih bersih, matanya yang berkilau, semuanya. Sungguh, aku ingin memeluknya.

Dia berdiri terpaku di depan pintu. Dan akupun begitu. Kami saling bertatap muka. Dan, aku dapat melihat air matanya menetes, jatuh di belahan pipinya.

“Fianka, putriku. . .”

Dan kamipun berpelukan. Melepas rindu yang telah lama terpendam dalam sanubari hati selama tujuh belas tahun. Terima kasih, Tuhan. Kami akhirnya bertemu.

Tamat

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun