Mohon tunggu...
Stephen G. Walangare
Stephen G. Walangare Mohon Tunggu... -
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Kunang-kunang kebenaran di langit malam.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tersalib Telanjang

21 Juli 2018   18:25 Diperbarui: 26 Agustus 2018   04:25 788
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
New Creation Church

Kristus dengan penuh kerelaan menyerahkan nyawa-Nya dan kemudian menerimanya kembali (Yoh. 10:15, 17-18). Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia ini (Yoh. 3:17) untuk menanggung kutukan dan pengasingan yang seharusnya diterima oleh Israel dan umat manusia di kayu salib. Ia datang ke dalam dunia ini (Yoh. 9:39) untuk melakukan pendamaian (2Kor. 5:19) antara manusia yang sudah memberontak kepada diri-Nya.

Filsuf Kristen Paul Copan dengan cermat mengomentari diskusi ini, "Abraham's unquestioning yet difficult obedience to the covenant God not only helped shape and confirm Israel's identity in Abraham but also provided a context for understanding God's immense self-giving love in the gift of his son.” Ketika dedikasi Abraham kepada perintah Allah dikonfirmasi, Allah berkata, "Telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku" (Kej. 22:12b).

Dengan merujuk kepada pengurbanan Ishak oleh Abraham, Paulus menggunakan cerita tersebut untuk mengingatkan orang-orang percaya tentang dedikasi yang tak ternilai dari Allah bagi mereka (Rm. 8:32). Pengurbanan Ishak oleh Abraham telah membuka jalan bagi pengurbanan diri sendiri yang dilakukan Allah di dalam diri Kristus. Abraham menunjukkan kesetiaan-Nya kepada Allah, dan pengurbanan Allah membuktikan kesetiaan-Nya kepada kita.

Tuntutan yang diberikan Allah kepada Abraham merupakan tuntutan yang sama dengan apa yang Allah Tritunggal ingin lakukan di dalam diri-Nya sendiri. Betapa dalamnya kasih Allah bagi kita (Rm. 8:31-32) sehingga teolog Skotlandia, almarhum Thomas Torrance berani mengungkapkan bahwa "God loves us more than he loves himself."

Apakah penyaliban merupakan kekerasan ilahi pada Anak?

Sebagaimana sudah kita baca, Dawkins menganggap perintah kepada Abraham untuk mengurbankan Ishak sebagai sesuatu yang sama dengan "kekerasan dan penyiksaan pada anak". Kita juga sudah memberikan respons terhadap pernyataan tersebut. Namun, kita tetap harus membahasnya lebih jauh: apakah penyaliban merupakan suatu contoh dari kekerasan pada Anak secara ilahi? Apakah penyaliban membenarkan kekerasan atau mungkin sebuah sikap pasif dalam menghadapi sebuah ketidakadilan?

Tuduhan tersebut tidak sesuai dengan bukti-bukti dalam Alkitab, terutama 1Pet. 2:21-25. Kita tidak menemukan korban yang pasif di sini. Kematian Yesus di kayu salib merupakan bagian dari rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh Allah Tritunggal. Setiap Pribadi menderita di dalam karya yang membawakan damai tersebut. Di dalam kelemahan, Yesus sebenarnya menaklukkan dosa dan kuasa-kuasa kegelapan (Yoh. 12:31; Kol. 2:15).

Menurut Injil Yohanes, sebagaimana yang sudah kita lihat, momen di mana Yesus "ditinggikan" atau "dimuliakan" datang bersamaan dengan penghinaan yang besar bagi Allah. Daripada memikirkan bahwa penyaliban adalah ketidakhadiran Allah dengan gelapnya langit dan teriakan merasa diabaikan (Matius 27:46b "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"), peristiwa tersebut sebenarnya merupakan momen ketika kehadiran Allah justru paling nyata.

Allah menunjukkan diri-Nya pada peristiwa penyaliban lewat kegelapan yang nyata, sebuah gempa bumi, dan robeknya tirai di Bait Suci menjadi dua potong. Momen yang besar dari Allah di dalam sejarah terjadi ketika segala sesuatu kelihatan seolah-olah hilang kendali, ketika Allah kelihatan seolah-olah dikalahkan. Kemuliaan Allah dinyatakan di dalam penghinaan diri-Nya. Penyaliban bukanlah tindakan kekerasan pada Anak secara ilahi. Peristiwa tersebut merupakan sebuah kejadian bersejarah yang menentukan, di mana Allah memberikan diri-Nya sendiri demi keselamatan umat manusia.

Catatan akhir :

1. Bart D. Ehrman, God's Problem: How the Bible Fails to Answer Our Most Important Question-Why We Suffer (San Fransisco: HarperOne, 2008).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun