Mohon tunggu...
Stephen G. Walangare
Stephen G. Walangare Mohon Tunggu... -
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Kunang-kunang kebenaran di langit malam.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Penebusan Terbatas

17 Februari 2018   06:40 Diperbarui: 19 Agustus 2018   01:05 1408
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kelemahan mendasar pandangan Armenian

Konsep Armenian tentang universalitas penebusan Kristus berkontradiksi dengan kedaulatan Allah. Jika Kristus diutus Allah dan kematian-Nya bertujuan untuk menyelamatkan semua orang tetapi kenyataannya tidak semuanya selamat, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Allah tidak berkuasa atau tidak berkehendak merealisasikan rencana-Nya. Dua kemungkinan ini sama-sama bertentangan dengan ajaran Alkitab. Apa yang direncanakan Allah pasti akan terjadi (Ay. 42:2). Allah juga tidak mungkin membuat rencana yang Dia sendiri tidak kehendaki.

Implikasi di atas tetap akan berlaku bahkan seandainya kita memegang konsep predestinasi Armenian yang didasarkan pada pra-pengetahuan Allah. Jika Allah sejak kekekalan sudah mengetahui siapa yang percaya dan menolak, mengapa Dia masih tetap mengirim Yesus Kristus untuk menebus dosa semua manusia yang Dia tahu dengan pasti bahwa sebagian dari mereka akan binasa? Kesulitan seperti ini akan dapat dihindari jika kita menerima konsep pemilihan tanpa syarat dan penebusan terbatas. Allah memang memilih sebagian orang untuk diselamatkan dan untuk merealisasikan itu Dia juga mengutus Kristus sebagai Juruselamat.

Kelemahan lain dari pandangan Armenian terletak pada inkonsistensi. Jika dalam pikiran Allah kematian Kristus dapat dipisahkan dari tujuan aplikasinya, maka kita dapat mengatakan juga bahwa Kristus mati bagi semua manusia dan malaikat yang telah jatuh (Shedd, Dogmatic Theology, 747). Bukankah kematian-Nya bersifat tidak terbatas? Secara inkonsisten, implikasi logis seperti ini jelas akan ditolak oleh orang Armenian karena Alkitab mengajarkan bahwa Kristus hanya mati bagi manusia (Ibr. 2:16).

Akhirnya, kita perlu merenungkan kesalahan dalam beberapa ilustrasi yang menggambarkan konsep penebusan Kristus versi Armenian. Orang Armenian mungkin akan menggunakan ilustrasi seperti ini: seorang narapidana yang dijatuhi putusan hukuman gantung menerima grasi dari presiden, tetapi dia menolak grasi tersebut dan memilih untuk mengadakan banding ke Mahkamah Agung. Akhirnya, nasibnya berujung pada tiang gantungan karena usaha bandingnya ditolak oleh pengadilan. Kelemahan dari ilustrasi ini terletak pada bentuk pengampunan yang diberikan. Pengampunan yang diberikan presiden dalam ilustrasi ini berbeda dengan pengampunan yang diberikan Kristus. Kristus sungguh-sungguh menggantikan hukuman orang berdosa. Jika ada orang yang menggantikan hukuman gantung tersebut, mengapa terhukum tersebut masih perlu dihukum lagi? Mungkinkah dua orang menanggung hukuman atas kesalahan yang dilakukan satu orang? Apakah ini adil?

Sanggahan dan jawaban

Konsep penebusan terbatas mendapat serangan yang begitu gencar dari berbagai pihak, baik dari golongan Armenian maupun mereka yang menyebut diri sebagai Calvinis-sublapsarianis. Golongan yang terakhir ini memegang urutan logis karya penebusan Allah sebagai berikut: (1) ketetapan untuk menciptakan manusia; (2) ketetapan untuk mengizinkan kejatuhan ke dalam dosa; (3) ketetapan untuk menyediakan keselamatan yang cukup untuk semua orang; (4) ketetapan untuk menyelamatkan sebagian orang dan membiarkan yang lain dalam kebinasaan. Dari urutan ini terlihat bahwa sublapsarianisme sangat dekat dengan infralapsarianisme, hanya saja sublapsarianisme menerima penebusan yang bersifat universal. Teolog yang memegang pandangan sublapsarianisme adalah Agustinus H. Strong (Systematic Theology, 777-779) dan Millard J. Erickson (Christian Theology, 849-852).

Untuk memudahkan pemahaman, sanggahan terhadap doktrin penebusan terbatas akan dikelompokkan menjadi dua bagian. Yang pertama berhubungan dengan problem aplikasi dalam pekabaran Injil dan yang kedua berhubungan dengan teks-teks Alkitab yang “secara eksplisit” mengajarkan penebusan universal. Sanggahan yang pertama sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan poin penebusan terbatas, tetapi sanggahan tersebut paling relevan dibahas dalam kaitan dengan penebusan terbatas.

Aplikasi dalam pekabaran Injil

Mereka yang menolak penebusan terbatas menganggap bahwa konsep ini sulit diaplikasikan dalam pekabaran Injil. Dalam pekabaran Injil orang Kristen biasanya memberitakan penebusan Kristus bagi semua orang dan selanjutnya menawarkan karya penebusan tersebut kepada siapa saja yang mau menerima. Seandainya penebusan itu hanya bagi orang pilihan, maka tawaran Injil seperti itu tidak dapat dilakukan. Dengan kata lain, konsep penebusan terbatas dianggap bertentangan dengan penawaran Injil yang sungguh-sungguh kepada semua orang. Jika konsep penebusan terbatas diterima, maka tawaran Injil yang diberikan hanyalah sebuah basa-basi, bahkan kemunafikan.

Sanggahan di atas dapat dijawab melalui beberapa cara. Pertama, Alkitab memberikan contoh yang jelas bahwa suatu tawaran tetap bisa diberikan dengan sungguh-sungguh sekalipun tawaran itu pasti akan ditolak. Dalam Keluaran 3:18 Tuhan memerintahkan Musa dan para tua-tua Israel untuk meminta ijin kepada Firaun supaya mereka diijinkan pergi memberikan persembahan kepada Tuhan. Dalam ayat selanjutnya Tuhan sendiri mengatakan “Aku tahu bahwa raja Mesir tidak akan membiarkan kamu pergi kecuali kalau dipaksa dengan tangan yang kuat” (Kel. 3:19). Dua ayat ini jelas tidak saling berkontradiksi (kalau berkontradiksi penulisnya pasti dengan mudah mendeteksi hal itu karena letak dua ayat tersebut berdekatan). Permohonan izin kepada Firaun dilakukan dengan kesungguhan, meskipun hasilnya sudah dapat dipastikan sebelumnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun