Mohon tunggu...
Christina Dini
Christina Dini Mohon Tunggu... Belajar Nulis

Belajar Nulis...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Si Ulat Kuning

16 Mei 2019   17:43 Diperbarui: 16 Mei 2019   17:47 0 3 0 Mohon Tunggu...
Si Ulat Kuning
https://www.shutterstock.com

Siang tadi, Bimo dan Adi melihat layangan cantik berwarna kuning terang berbentuk ulat. Dan tertarik untuk memainkannya. "Bim, mumpung Bapakmu itu tidur lho.. ambil si ulat kuning itu, kita bisa main sebentar di lapangan" bujuk Adi setengah berbisik. "Tapi Bapakku pesen, gak boleh ambil yang itu. Nanti sore Saipul bakal ambil layangannya" jawab Bimo sambil berbisik pula. "Lha, pinjem cuma sebentar, gak papa. 

Ato kamu ini memang penakut seperti yang dibilang temen-temen ya?" pancing Adi. Dengan sangat terpaksa Bimo mengendap-endap lalu mengambil layangan itu. Ya terang saja Bimo tidak mau disebut penakut.

Rencananya Bimo mencoba barang sebentar ulat kuning milik si Saipul ini, tapi apa dikata. Teman-teman yang lain mengajaknya untuk bertarung, demi membuktikan layangan siapa yang paling hebat. Bimo juga tak mau kalah, dan ingin membuktikan layangan buatan Bapaknya itu memang nomor satu. Pak Badrul, bapaknya si Bimo ini memang terkenal sebagai pengrajin layangan yang paling top seantero kampung. Tak jarang warga dari kampung tetangga juga sering memesan layangan.

Si ulat kuning memang terbang dengan sangat baik, berbeda dengan layangan yang lain.  "Wah, memang hebat Bapakmu Bim.. kan apa kubilang, kita bisa main sebentar" ucap Adi memuji. Sesaat Bimo merasa paling hebat, karena layangannya sudah mengudara dengan sangat cantik. 

Tapi nyalinya menciut, saat Dadang dan gerombolannya datang, ikut serta menerbangkan layangan. " Adi.. liat si Dadang juga ikutan main ni..bahaya" ucap Bimo getir. Adi melihat ke arah Dadang, dia pun ketakutan. Dadang terkenal paling kuat diantara teman-teman yang lain. Tak jarang juga suka bersikap sesuka hatinya, intinya selalu membuat keributan dan keonaran.

"Ya sudah, cepet kalahkan mereka dulu Bim, terus kita pulang" bisik Adi. Kali ini angin berhembus lebih kencang, dan sial Bimo tak fokus pada si ulat kuning, karena matanya melirik pada Dadang, yang bersiap menerbangkan layangan. Si ulat kuning hilang kendali, tubuhnya menukik tajam kebawah. Disamping kanan ada rajawali hitam milik si Otong. 

Kontan saja kedua layangan itu saling terlilit satu sama lain. "Wah Bimo.. kamu berani ya sama rajawaliku" seru Otong sambil berusaha menarik tali layangannya. Dan...si ulat kuning melayang bebas, karena talinya putus. "Nah tau rasa kau Bim" Otong sangat senang, dalam sekejap dia memenangkan pertarungan itu. Bimo tak percaya sekejap saja si ulat kuning sudah kalah.

Bimo panik, segera digulung tali yang terputus tadi, lalu berlari mengejar si ulat kuning.  Yang lain pun ikut mengejar, yah siapapun berhak mendapatkan layangan yang kalah dalam pertarungan. Siapa saja bisa memilikinya. Iya, siapa saja. Bimo harus mendapatkan si ulat kuning, kalau tidak Bapaknya bakalan marah karena sudah mengambil si ulat kuning.

"Woi.. ulat kuning kalah...serbuu...." Teriak anak-anak dilapangan bersamaan. "Ambil ulat kuning buatku, cepetan" teriak Dadang pada salah satu gerombolannya. Yah, hampir semua anak dilapangan berlari mengejar di ulat kuning. Bimo ngos-ngosan, nafasnya sesak, tapi si ulat kuning masih melayang bebas tertiup angin. Dan akhirnya bertengger dipohon kelapa milik Bapaknya.

Adi pun memberi kode pada anak-anak lain, agar jangan bersuara keras, karena pak Badrul sedang tidur. Selain terkenal pengrajin layangan yang hebat, beliau juga terkenal orang yang paling galak. Siapapun akan kena omel, kalau waktu tidur siangnya terganggu. Gerombolan Dadang pun langsung menyingkir teratur, mereka tidak mau mendapatkan masalah dengan pak Badrul. Satu persatu menyingkir, hanya tersisa Adi dan Bimo.

Mereka berdua saling menatap, mencari solusi untuk si ulat kuning. "Hoooaaaammmm.." suara Pak Barul menguap lebar terdengar. "Waduh,, gawat Bapak sudah bangun Di..gimana ini?" bisik Bimo. "Woi.. kalian ngapain dibawah pohon kelapa? Musim angin, awas kelapa tua bisa jatuh nimpa kalian" suara Pak Badrul mengejutkan mereka berdua. Gelagapan tak bisa menjawab. Bimo pucat pasi. Adi sampai gemetaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2