Mohon tunggu...
Stefi Rengkuan
Stefi Rengkuan Mohon Tunggu... Wiraswasta - Misteri kehidupan itu karena kekayaannya yang beragam tak berkesudahan

Lahir di Tataaran, desa di dekat Danau Tondano, Minahasa. Pernah jadi guru bantu di SD, lalu lanjut studi di STFSP, lalu bekerja di "Belakang Tanah" PP Aru, lalu di Palu, dan terakhir di Jakarta dan Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Menu "Ikan Ayam Saus Rica-Rica" ala Manado, Kerancuan Berbahasa?

14 November 2019   20:32 Diperbarui: 20 November 2019   10:38 53
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mengapa semua jenis makanan dari daging hewani (darat, laut, udara) disebut oleh orang Manado dengan istilah: "ikang" atau ikan. 

Misalnya menu "ikang ayam saos rica-rica" menunjuk pd menu makanan dari daging ayam dengan bumbu sambel pedas.

Bukankah seharusnya sebutan ikan itu pada umumnya menunjuk pada hewan yang hidup di air? Ikan air tawar, asin, payau, di laut maupun di darat.

Ternyata bahasa Melayu dialek Manado terkait sebutan ikan ini memang terpengaruh oleh bahasa Minahasa yang dipakai oleh mayoritas penduduk asli yang mendiami atau dominan di wilayah tersebut (se makatana=pemilik tanah)

Orang berbahasa Minahasa menyebut "sera" (ikan) untuk segala jenis hidangan makanan yang berbahan baku daging. Misalnya sera' wawi (babi), sera' ko'ko (ayam), sera' wio (babi hutan), dan ditambahkan keterangan jenis menu, misalnya sera' ko'ko bakar bulu (daging ayam dimasak di bambu), wawi tinorangsak (babi dimasak dengan pelbagai rempah, bisa dimasak di wajan atau dibakar di bambu), dst. 

Hewan ikan dari laut dan darat tetap disebut sera dan bila sudah diolah menjadi makanan tetap disebut sera disertai nama ikan, misalnya sera pongkor (ikan gabus), sera' cakalang (ikan cakalang), dan jenis menu: sera' pongkor woku/goreng/kuah asang/garo rica.

Bila ditelusuri lebih jauh, merujuk pada hasil penelitian Weliam H. Boseke (dalam buku Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa, Pohon Cahaya, Yogyakarta, 2018) darimana penggunaan dan pemaknaan kata  sera/ikang/ikan sedemikian, ternyata merujuk pada asal usul kata Minahasa yang berindukkan bahasa Han di Tiongkok Kuno.

Dalam bahasa Han: chī ròu berarti "makan daging" atau dalam arti lain "daging ikan". Dalam perjalanan waktu di tanah Minahasa kata ini ditulis dalam alfabet Latin: sera' (dengan bunyi yang sesungguhnya masih mirip asalnya). 

Menurut Weliam, ini adalah gejala bahasa (perubahan dan pergeseran kata/bunyi, bentuk dan arti) yang sangat mungkin dipengaruhi oleh bahasa-bahasa sekitar bahkan asing terutama sejak jaman kolonial yang memperkenalkan alfabetis Latin, tulisan dan lisan. 

Karena tulisan ideografis tidak berkembang di tanah Minahasa, maka bahasa Minahasa dengan gampang dipengaruhi dan sekarang sudah memakai pendekatan bahasa multi silabel karena pengaruh kolonial yg memakai aksara Latin, padahal sesungguhnya bahasa asli dari Han berformat mono silabel yang sifatnya ideografis. 

Karena itulah ditemukan banyak sekali kerancuan bahkan kekeliruan fatal sehingga tidak sinkron dalam penerjemahan tulisan2 tua yang beraksara Latin yang pada umumnya dituliskan atau direkam oleh orang berbahasa Eropa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun