Mohon tunggu...
Johanes Krisnomo
Johanes Krisnomo Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Penulis, fotografer, pemerhati lingkungan hidup, teknologi pangan, kesehatan, kimia pangan. Alumnus Kimia ITB dan praktisi di Industri Pangan. https://www.kompasiana.com/stalgijk

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Gitar, Tulusnya Berbuah Sabar Memiliki

5 Juli 2020   10:46 Diperbarui: 5 Juli 2020   10:48 321 66 21 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gitar, Tulusnya Berbuah Sabar Memiliki
Sumber: globalsistersreport.org

Nampaknya tak banyak yang dipikirkan. Tulus, laki-laki beranak satu, 25 tahun-an, bekerja sebagai petugas kebersihan di kantor. Ruangan, jendela, dan toilet semua bersih karena hasil kerjanya. Di sela-sela kesibukannya, sempat tertangkap bahwa keinginannya memiliki gitar harus tertunda,  uangnya masih kurang, yang pada akhirnya dibelikan selimut bayi.

Ceritanya, di awal-awal kelahiran anak pertamanya, kurang dari setahun, Tulus tinggal di rumah mertua, dari sebelumnya di rumah bapak-ibunya. Waktu itu, lelahnya terhibur dengan bermain gitar pinjaman milik adiknya, yang tinggal tak jauh karena sudah menikah.

Rajin kerjanya, tak banyak cakap, rutinitas kerjanya patut dibanggakan, sesuai aturan tiap dua jam sekali semua gagang pintu dibersihkannya agar tidak menjadi media penularan virus.

Kemarin dia cerita, bimbangnya hati memutuskan uang 400-ribu, dari hasil menabung selama 3 bulan, karena ingin memiliki gitar yang bagus dan murah.

Tenggorokannya gatal, agak lama tak lagi sempat bermain gitar, dan bernyanyi, meski diakui suaranya agak-agak sumbang. Pasalnya, di rumah mertua, tak ada gitar pinjaman, dan sepulang kerja tugasnya hanya membantu istri mengasuh bayi.

Padahal, waktu tinggal di rumah bapak-ibunya, setelah semua beres, menjaga anaknya yang baru lahir, sempatlah bermain gitar bersama kawan-kawannya jelang penutup hari.

Kecewa, mimik wajahnya mengatakan begitu, ternyata harga gitar 600-ribuan, ada sich yang 400, tapi bekas pakai dan bahannya ringkih.

Tak ada tawar harga, gitar yang 600-an paling-paling puluhan ribu bisa turun, kesalnya hanya dipendam.

Ditunda saja, begitu yang terpikir, daripada beli yang murah dan cepat rusak. Pada akhirnya, 200 ribunya dipakai untuk keperluan pengganti selimut bayi yang sudah kumuh, plus makanan untuk di rumah.

Harus bersabar, itu saran yang dia bisa maklumi, ketika bincang-bincang pagi sambil menyelesaikan tugasnya mengepel lantai.

Sebaiknya sich kumpulkan lagi saja, sebulan dua bulan ke depan harapannya terkumpul  kembali, 600-ribuan. Kalau perlu, beli yang agak mahal sedikit, biar awet dan renyah nada dentingnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x