Mohon tunggu...
Sri Subekti Astadi
Sri Subekti Astadi Mohon Tunggu... Administrasi - ibu rumah tangga, senang nulis, baca, dan fiksi

ibu rumah tangga.yang suka baca , nulis dan fiksi facebook : Sri Subekti Astadi https://www.facebook.com/srisubektiwarsan google+ https://plus.google.com/u/0/+SriSubektiAstadi246/posts website http://srisubektiastadi.blogspot.co.id/ https://www.instagram.com/srisubektiastadi/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Dengan Dongeng Mengajak Anak Lebih Mencintai Budaya Sendiri

15 November 2019   11:32 Diperbarui: 15 November 2019   11:40 26
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Penampilan selanjutnya, oleh Imam Satria dari SD Kajar Dawe Kudus, dengan Dongeng Batu Gajah. Dilanjutkan dengan penampilan Meyla Auliya dari SD Karangmalang Gebog Kudus, membawakan cerita yang sama yaitu, Dongeng Batu Gajah, yang mengisahkan tentang terjadinya suatu tempat di daerah Gebog dan Jepara, yang berasal dari tubuh gajah yang dibagi 3.Yaitu di Menawan dan Kedungsari Gebog Kudus, serta Batu Gajah di Mayong Jepara.

Penampilan kelima oleh Restiana Pratiwi dari SD 3 Kesambi Mejobo Kudus, yang membawakan cerita Asal-usul Kota Kudus. Dongeng ini mengisahkan tentang seorang saudagar yang berasal dari Cina, yaitu The Ling Sing yang pandai menyungging atau mengukir.  Karena kepandariannya beliau mendapat perintah untuk mengukir istana kerajaan Majapahit dan mendapat hadiah sebidang tanah yang disebut Sunggingan. Pada saat yang sama Syekh Jafar Sodiq dari Persia mendapat tugas dari Kesultanan Demak untuk menyebarkan agama Islam di daerah dekat Sunggingan. Karena kepandaian Syekh Jafar Sodiq dalam mengambil hati masyarakat Kudus yang pada saat itu masih memeluk agama Hindu misalnya dengan memperbaiki bekas bangunan candi yang sebelahnya dibangun masjid ( menara Kudus) dan memperlakukan hewan Sapi sebagai yang dikeramatkan agama Hindu dengan baik, pada akhirnya banyak yang tertarik mendengarkan khotbahnya dan menyatakan diri masuk agama Islam. Termasuk The Ling Sing yang akhirnya mendapat gelar Kyai Telingsing. Dan Syekh Jafar Sodiq mendapat sebutan sebagai Sunan Kudus. Karena masjid yang dibangun terdapat lempengan batu yang menyerupai Hajar Aswad maka di sebut Al --Quds, yang artinya suci atau Kudus. Maka daerah itu disebut dengan Kudus.

Selanjutnya Nesya Rachililia Rahayu Nugraha dari SD 4 Bulungcangkring Jekulo Kudus membawakan cerita yang sama Asal-usul Kota Kudus. Dilanjutkan dengan penampilan Gwen Kendra Akwila dari SD Jati Kulon Kudus, Gwen yang lincah membacakan cerita Kisah Saridin Yang Sakti yang sudah dibuat kekinian, dengan bahasa yang dicampur-campur bahasa kekinian dan bahasa Inggris,  penampilan Gwen yang kekinian mungkin  bermaksud agar dongeng bisa diterima oleh anak-anak yang kekinian juga.

Saridin yang sakti tetapi agak sombong itu sebenarnya adalah putra dari Sunan Muria. Saridin punya kesaktian menimba air dengan keranjang, Saridin yang nakal dan sombong akhirnya mendapat julukan Syekh Jangkung oleh Sunan Kudus. Karena kesombongannya itu pula Saridin diusir beramai-ramai dari pondok pesantren Sunan Kudus.

Penampilan selanjutnya oleh Jessica Chatarina Denis dari SD Wates Undaan Kudus, seorang gadis kecil pindahan dari Samarinda ini membawakan kisah Asal-usul Kota Kudus dengan membawa alat peraga berupa foto-foto yang dipertontonkan sebentar --sebentar.Mungkin karena bukan orang Kudus asli, penampilannya agak datar walau Jessica sudah berusaha menguasai materi dengan baik namun sayang sewaktu ditanya juri nama-nama kecamatan di Kudus, kurang menguasai.

Penampilan terakhir oleh Diva Eka Putra dari SD Dersalam Bae Kudus. Membakan dongeng Asal Usul Kota Kudus sebagai penutup dari penampilan semua peserta siang itu.

Jam 12 kurang setelah peserta tampil semua, kami para juri berembuk sambil menikmati makan siang yang sudah disediakan oleh panitia.

Ada beberapa catatan dari juri untuk lomba kali ini, misalnya tentang penguasaan cerita, performen awal yang biasanya diawali dengan nyanyian atau tembang namun justru malah merusak sauna karena kurangnya persiapan yang baik, atau nyanyian yang dibawakan tidak sesuai dengan dongeng yang dibawakan. Selain itu tentang alat peraga yang terkadang hanya terkesan sebagai hiasan saja karena kurang dipergunakan dengan baik, namun ada salah seorang peserta yang mampu mempergunakan satu alat peraga menjadi multi guna dalam menampilkan karakter tokoh-tokohnya. Semua tergantung kreatifitas pembimbing dan anak itu sendiri.

Yang penting dalam lomba ini anak-anak tidak dijauhkan dari dongeng yang tumbuh di sekitar kita, sehingga anak-anak bisa  mengenal dan mencintai budaya daerah masing-masing. Dan dongeng tidak luntur ditelan jaman yang sudah terkalahkan dengan cerita-cerita kartun masa kini.

Ketua dewan juri Pak Mukti Sutarman Espe membacakan hasil pengumunan lomba
Ketua dewan juri Pak Mukti Sutarman Espe membacakan hasil pengumunan lomba

Pada akhirnya juri menetapkan para juaranya disampaikan oleh ketua dewan juri Bapak Mukti Sutarman Espe dengan catatan -catatan untuk kemajuan anak-anak dan pembimbingnya agar lebih berbobot di masa datang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun