Mohon tunggu...
Sri Rohmatiah Djalil
Sri Rohmatiah Djalil Mohon Tunggu... Wiraswasta - Petani, Penulis

People Choice dan Kompasianer Paling Lestari dalam Kompasiana Awards 2023.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Hapus Stigma dan Prasangka terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa

28 Juni 2020   20:45 Diperbarui: 29 Juni 2020   11:30 100
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kita sering lupa bahwa Orang Dengan Gangguan Jiwa adalah manusia Indonesia yang dijamin oleh Negara "pemerintah dan rakyatnya". Mereka memiliki kebebasan dalam mengungkapkan ekspresi dalam kesederajatannya.

Merajuk dari hal tersebut di atas. Empat Rumah Sakit Jiwa, yaitu RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang, RSJ Menur Surabaya, RSJ Ernadi Bahar Palembang, dan RSJ. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Sejak Juni-September 2019. telah  melakukan pendekatan terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa dengan cara melukis.

Hal serupa, bukan suatu hal yang baru dilaksanakan. Pada tahun 1916 di Inggris, Theophilus Bulkeley Hyslop menerbitkan makalah yang membahas karya-karya para pasien rumah sakit jiwa Bethlem di London. Hyslop adalah seorang dokter yang menerapkan olahraga, sastra dan seni rupa menjadi cara untuk menyehatkan pasien sakit jiwa.

Dikutif dari Kurator Seni Hendaramasto  Prasetyo. Penelitian pertama dilakukan dengan teknik pasien rawat inap atau rawat jalan dipilih secara acak maupun sukarela melibatkan dirinya dalam aktifitas bersama pencil dan kertas selama 3 jam. 

Jika dalam tahap pertama ada pasien yang menunjukkan kemampuannya dalam melukis, akan berlanjut ke tahap kedua. Yaitu melukis dengan menggunakan cat aklirik/cat air dengan kanvas.

Di sepanjang pelaksanaan. Kita akan mendapatkan pasien rumah sakit jiwa menuangkan ekspresinya bermacam-macam. Ada salah satu ODGJ yang hanya mampu melukis wanita tua, sebatas muka saja. 


Kita boleh saja menerka bahwa di dalam hati kecil dia mengungkapkan kerinduan yang dalam pada sosok ibunya. Dan ketika ditanya "apakah sosok itu ibunya?" Dia menjawab nggih.

Pasien D, yang melukis gunung berbatu, bintang, langit dan pohon-pohon besar, ada dua bongkahan batu besar di antara lereng gunung. Dia menyebutnya bukan batu, tetapi biji kuaci. Bisa jadi saat meluapkan ekspresinya, D sedang membayangkan memakan biji kuaci. Dia juga protes saat dokter yang merawatnya mengatakan bahwa dua bongkah kuaci itu batu.

Pasien E yang merupakan pasien tanpa identitas. Dua kali menyuguhkan wajah perempuan berambut pendek. Ketika ditanya apakah wajah itu dirinya. E menggelegkan kepala. Menurut D, wajah itu adalah Psikolognya yang berambut pendek. Dia sedang berusaha menunjukkan kesannya kepada psikolog bernama Daisy. Lukisannya tidak mirip sama sekali dengan si pemilik wajah. Hanya rambut pendek yang E ingat.

Di Rumah Sakit Jiwa Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Salah satu pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa hanya melukiskan bunga sederhana dengan baground kertas warna kuning bertuliskan "Kujaga Hatiku dengan Menikahimu". Kita boleh saja menyebutnya bahwa dia sedang mengingat istrinya.

Di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya, pasein ODGJ bernama Anis meluapkan ekspresinya dengan warna warni bunga tulip yang indah. Sedangkan pasien lain yang bernama Nyoman, dia hanya mencoret-coret aneka warna kuning, biru hitam, orange menyerupai lukisan abtrak.

Melihat hasil lukisan yang dibuat oleh Orang Dengan Gangguan Jiwa yang beranekaragam, rasanya tidak adil jika mengharapkan hasil lukisan yang memukau seperti pelukis-pelukis pada umumnya. Karena sebelumnya tidak ada pengalaman bagi mereka untuk belajar teknik mewarna, teknik melukis. Alasan utama adalah karena kondisi mereka dalam keadaan tidak labil.

Sesungguhnya tidak ada ekspresi yang rumit, karya mereka menyerupai dan masih bisa dinikmati walaupun terlihat ganjil dan tidak seimbang, keganjilan tersebut bukan hal yang sengaja, melainkan memang demikian adanya.

Kegiatan melukis terhadap mereka pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa hanya untuk menjaga ingatan. Ingatan-ingatan tersebut mereka tuangkan dalam kanvas atau kertas.

Perihal seni di dalam rumah sakit jiwa nyatanya belum terlaksana dengan baik. Padahal banyak rumah sakit jiwa di Indonesia yang menempatkan seni sebagai aktivitas rutin bagi pasien ODGJ. Misalnya  RSJ. Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta. Wediodiningrat Lawang. RSJ Dr. Radjiman. Kedua rumah sakit tersebut menempatkan seni sebagai kebiasaan sehari-hari bagi para ODGJ di ruang rehabilitasi.

Karya-karya pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa dipamerkan dalam Festival Bebas Batas bertajuk pameran Pokok di Ambang Batas, Galeri Nasional Jakarta dan Pameran Meneroka Batas di ISI Surakarta.

Pameran tersebut diadakan oleh pemerintah dalam hal ini adalah Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Dikutif dari sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhajir Effendi, beliau mengatakan bahwasannya irisan antara seni tidak hanya berada dalam wilayah terapi. Karya-karya dalam pameran Festival Bebas Batas tidak dibaca sebagai sebuah diagnose kesehatan melainkan sebuah produk pendidikan bernilai artistic.

Sesungguhnya yang menyebabkan ODGJ terjerumus makin dalam ke stigma dan prasangka adalah diri kita sendiri yang gagal memahami mereka. Ketidakpahaman itulah mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang lebih buruk seperti memasung. Karena masih ada anggapan mereka sangat berbahaya dan bebas dari tanggung jawab.

Dalam banyak kasus stigma dan prasangka dari lingkungan di luar rumah sakit jiwa sering mendorong ketidakstabilan para ODGJ. Tidak sedikit ODGJ yang baik-baik saja saat di rumah sakit jiwa namun kembali bermasalah ketika kembali ke lingkungannya.

Dan pada akhirnya kita hendaknya menyadari bahwa stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa adalah sumber diskriminasi untuk mereka.

Referensi : Kurator Hendromastro Prasetyo

Pameran FBB 2018, 2019

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun