Mohon tunggu...
Edhi Purwanto
Edhi Purwanto Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Dyah-Bagian Dua

10 Juli 2017   06:58 Diperbarui: 10 Juli 2017   09:55 186
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagian dua - Pertemuan

Aku bergegas make sandalku untuk menyambut Ranti, kawanku yang ku minta datang ke paguyuban pemuda kampungku. Aku ditunjuk sebagai ketua paguyuban pemuda kampung dengan sedikit dipaksa oleh muda mudi kampungku tanpa aku bisa menolak. Slogan paguyuban kami aja sedikit mekso "wajah boleh kampung tindakan harus kota" mbuh apa maksud nya. Yang penting ada slogan. 

Untuk memperingati acara 17 Agustusan tahun ini, kami para pemuda sepakat mau mengadakan kegiatan kegiatan perayaan. Perlombaan olah raga, panjat pinang dan tentu perayaan hari puncak. Sebuah panggung acara yg diisi tari, nyanyi dan lawak. Untuk tari semua sepakat kali ini menampilkan tari jaipong. 

Dan aku didaulat lagi secara sepihak untuk mencari pelatih tarinya. La wong aku tadinya gak mau. Apalagi tanpa dana. Maklum. Kamikan tinggal dikampung...

Maka aku menghubungi Ranti dan membujuknya supaya mau ngajari kami nari jaipong. Sukurnya Ranti mau ngajari kami tanpa bayaran...

Aku menunggu di depan gerbang kampung sesuai perjanjian ku dengan Ranti.

Aku mengenal Ranti di kota karena sebelum aku tinggal dikampung nunut budeku, aku nunut eyangku yangg tinggalnya persis di pinggir betheng kraton. Aku tau kalo Ranti adalah seorang penari serba bisa dan sering ngisi acara acara kesenian atau perayaan resmi. Sekolahnya pun sekolah menengah atas kesenian.

Dan betul saja lewat beberapa menit Ranti muncul di gonceng sepeda motor bebek oleh seseorang seusianya berjaket army look dan jeans belel. Wajahnya gak nampak karena tertutup kaca hitam helm bergambar wajah penari jawa. Aku melambai ke mereka dan mengisyaratkan untuk mengikutiku ke sebuah rumah dimana para pemuda pemudi anggota paguyuban sudah pada ngumpul. 

"mas, ngapunten, parkirnya disamping aja biar nggak nggangu orang liwat" kataku sambil nunjuk lokasi samping rumah

"mas masmu salto..." suara soprano khas seorang perempuan keluar dari mulut manyun yang nampak ketika dia membuka helmnya. Wajahnya sangat jawa sekali. Manis dan berkulit sawo mateng. Rambutnya cepak kayak demi moore. Ranti tertawa ngakak. 

Aku melongo

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun