Politik

Media Sosial, Pola Penyebaran Paham Teroris

13 Agustus 2015   13:32 Diperbarui: 13 Agustus 2015   13:32 248 1 1

Dunia sudah tidak ada batasan. Kejadian aktual saat ini di belahan negara lain, dapat kita ketahui di waktu yang bersamaan. Kecanggihan teknologi informasi, dalam hal ini internet yang memfasilitasi semua ini. Beragam informasi—yang baik dan buruk--dari seluruh penjuru dunia berseliweran yang notabene bisa kita lihat dan baca melalui laptop dan gadget di tangan.

Tak terkecuali, kelompok radikal terorisme ikut-ikutan memanfaatkan teknologi internet untuk menyebarkan propaganda. Berbagai tayangan video yang diproduksi oleh kelompok militan ini tanpa kita sadari menyebar masuk ke ruang dan lingkungan pribadi kita, seperti sekolah bahkan rumah.

Ya, pola penyebaran ideologi kelompok radikal terorisme telah berubah. Sangat drastis. Tren di era modern ini, mereka menyebarkan propaganda tidak lagi konvensional seperti kegiatan perkumpulan suatu kelompok. Haluannya diubah. Mereka gencar menyebarkan ideologinya melalui dunia maya.

Contoh konkret, kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) memanfaatkan jejaring sosial berkonten video seperti YouTube untuk menyebarkan paham mereka. Bahkan tak hanya itu. Media sosial seperti Facebook, Twitter, dan blog juga menjadi sarana untuk menyebar ideologi.

Berbagai propaganda yang digencarkan berupaya menunjukkan citra sehingga menarik perhatian kalangan, terutama kaum muda. Mereka membuat berbagai produk visual yang seolah-olah kelompok ini pahlawan perang. Tidak hanya membutuhkan dukungan moral, akan tetapi membujuk mengajak, meminta dan mendorong anak muda untuk terlibat serta bergabung dengan mereka.

Kita tak bisa menafikan memang media sosial menjadi alat dan cara yang sangat mudah dan praktis untuk menjual kampanye, termasuk paham terorisme. Mereka mencoba merekrut anggota-anggota baru melalui media sosial pula. Mereka akan melihat dan menilai siapa saja yang bersepaham dengan ide-ide radikal terorisme.

Secara ril, orang-orang yang memiliki pendapat dan pemikiran yang sama dapat dilacak melalui status atau komentarnya di media sosial. Tak terkecuali, bisa dipantau juga dari akun yang mengikutinya di twitter atau pertemanan yang terjalin di Facebook. Dengan penelusuran di media sosial, mereka bisa menunjuk siap saja yang bisa dijadikan pengikut dan digandeng untuk bergabung.

Pola penyebaran ideologi ini pun tidak secara frontal. Akan tetapi, disebarkan secara halus, sedikit demi sedikit, sehingga membuat para calon pengikutnya percaya dan mengamini paham itu.

Ya, kelihatannya lebih mudah. Tidak perlu lagi bergerilya dari kampus ke kampus serta kampung ke kampung. Cukup duduk di kursi buka laptop atau gadget, propaganda yang sudah disiapkan pun menyebar ke seluruh dunia dengan cepat mencari target dan sasaran empuk.

Tentu kita tak bisa tinggal diam. Penyebaran propaganda terorisme bak virus yang menyebar cepat dan menggerogoti semua elemen masyarakat. Terutama kaum muda yang memang menjadi sasaran tembak mereka. Semua pihak harus bersatu, bekerja sama dan bahu-membahu menanggulangi masalah ini.

Salah satu yang patut diapresiasi adalah langkah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang meluncurkan buku putih berisi cetak biru pencegahan terorisme. Langkah ini dilakukan karena disadari pola penyebaran terorisme berubah drastis dalam sepuluh tahun terakhir. Seperti dikatakan Direktur Perlindungan BNPT, Brigjen Pol Herwan Khaidir, dari serangan yang bersifat fisik, sekarang menyerang ke pola pikir masyarakat dan menggunakan media cyber untuk menyebarkan ideologi.

Salah satu cara untuk meredam penyebaran paham atau ideologi radikal terorisme adalah dengan menyebarkan ideologi atau paham tandingannya. Kita sepakat dengan yang dikatakan juru bicara BNPT, Prof. Irfan Idris, MA., bahwa upaya pencegahan paham terorisme tersebut harus juga dilakukan lewat kampanye di media sosial.

Mari kita lawan bersama.