Mohon tunggu...
Fergusoo
Fergusoo Mohon Tunggu... Wiraswasta - Wiraswasta

Spe Salvi Facti Sumus

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Babi dan Tradisi

11 Februari 2020   11:02 Diperbarui: 11 Februari 2020   17:07 1179
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto (denpasar.kompas.com)

(Sumber Foto: harianbatakpos.com)
(Sumber Foto: harianbatakpos.com)
Yah tentunya ini bisa dianggap sebagai sebuah gerakan moralitas dalam memerangi wacana pemusnahan babi dan ternak babi yang berada di Suamtera itu.

Namun, berdasarkan informasi dari laman detik.com, Ketum FUI Sumut, Indra Suheri mengatakan menyebut demo ini diduga dilatarbelakangi fitnah terhadap Gubernur Sumut Edy Rahmayadi. 

"Mereka mengopinikan tudingan besar berupa fitnah. Fitnah itu seakan akan menjadi opini publik padahal itu murni fitnah keji, mengutip statement Gubernur yang tidak pernah dikatakan seakan-akan Gubernur akan menghabisi semua ternak babi yang ada di Sumatera Utara," ujar Indra kepada wartawan, Senin (10/2/2020).

Apa yang dilakukan oleh masyarakat kota medan ini adalah hal yang biasa biasa saja dan lumrah untuk ditunjukkan.

Mengapa?

Yah karena masyarakat Kota Medan, khususnya mereka yang lahir dari Suku Batak memiliki tradisi yang berkaitan erat dengan babi.

Lagi, ini tentang tradisi yang berkaitan dengan babi. Menyadur buku karangan Defri Elias Simatupang "Penempatan Babi Sebagai Daging Konsumsi Dalam Pesta Adat Masyarakat Batak" dalam buku Fauna Dalam Arkeologi yang diterbitkan Balai Arkeologi Medan Tahun 2012, ditulis bahwa babi mampu menjadi alternatif hewan yang dapat dikurbankan pada saat upacara adat.

Masih melansir buku tersebut, babi sebenarnya bukanlah hewan yang menjadi bagian atau komponen dari upacara adat orang batak.

Berdasarkan catatan sejarah orang batak, hewan yang biasanya dijadikan kurban saat upacara adat adalah kerbau, kuda, kambing dan ayam.

Sehingga, daging babi dipandang sebagai hewan level terendah dalam yang adat yang bisa untuk dikonsumsi.

Nah dari sini, kita bisa sama-sama memahami mengapa masyarakat Kota Medan menolak wacana dari gubernur sumut. Apalagi dengan adanya isu virus corona dan SF yang sudah menjangkit dan menular hewan babi membuat masyarakat semakin resah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun