Mohon tunggu...
Sonny Wibisono
Sonny Wibisono Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Buku: 'Message of Monday' - http://www.sonnywibisono.com

Writer | Kuliner | Traveler | Penulis Buku: 'Message of Monday' - Sila kunjungi: www.sonnywibisono.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Mengapa Southgate?

14 Juli 2021   14:29 Diperbarui: 14 Juli 2021   16:30 311 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengapa Southgate?
Ilustrasi photo oleh Dom Le Roy dari Pexels

Timnas Inggris keok dari Italia pada final Piala Eropa yang berlangsung di Stadion Wembley, pada Senin (12/7/2021) dini hari WIB. Timnas Italia meraih gelar juara Euro 2020 atau Piala Eropa 2020 usai mengalahkan timnas Inggris melalui adu penalti dengan skor 3-2. Kekalahan Inggris menyisakan pertanyaan di kalangan pecinta sepakbola. Tak terkecuali fans Inggris sendiri. Berbagai keputusan Southgate pada final tersebut dihujani kritik.
 
Sejak awal saya sendiri memang memprediksi Inggris sulit meraih juara di Piala Eropa. Beberapa kali saya diskusikan hal ini dengan teman-teman penggila bola lainnya sambil minum kopi.
 
Ada satu kelemahan mendasar dari Gareth Southgate. Ia miskin pengalaman. Umurnya pun terbilang muda, 50 tahun. Saya tidak mengerti mengapa Football Association alias FA, PSSI-nya Inggris memilih Southgate dipermanenkan sebagai pelatih. Sejatinya Inggris tidak kekurangan pelatih berpengalaman.
 
Sebelum menukangi timnas, Southgate menangani klub Inggris Middlesbrough dari 2006 hingga 2009. Middlesbrough sendiri bukan klub papan atas saat itu. Prestasinya bersama Middlesbrough juga tidak keren-keren amat. Dalam dua musim pertama, Southgate hanya mampu membawa Middlesbrough diurutan papan tengah, dan hanya sanggup melaju hingga perempat final Piala FA 2007/2008. Tim yang ditanganinya juga terus merosot drastis. Southgate pun dipecat pada 2009 setelah Middlesbrough terdegradasi ke Liga Championship. Singkatnya, tak ada prestasi yang bagus sebelum ini yang dibuat Southgate di level klub.
 
Southgate menjadi pelatih timnas Inggris juga karena kebetulan. Pada helatan Euro 2016, Inggris gagal total. Pelatih Roy Hodgson lantas dipecat. Posisi Hodgson kemudian digantikan Sam Allardyce. Southgate mendampingi Allardyce sebagai asisten pelatih. Tapi Allardyce terlibat skandal transfer pemain illegal hingga akhirnya Allardyce mengundurkan diri dari pelatih kepala. Southgate lalu ditunjuk menjadi pelatih caretaker.
 
Selama melatih timnas, walau statusnya sebagai caretaker, penampilan timnas Inggris dinilai begitu impresif hingga akhirnya FA memutuskan mempernanenkan Southgate. Ada jeda waktu yang cukup lama sebelum posisi Southgate benar-benar resmi menjadi pelatih kepala.
 
Seharusnya FA langsung memilih pelatih anyar yang berpengalaman. Hasil impresif merupakan modal utama. Bila perlu, seperti yang pernah dilakukan FA dahulu, Inggris merekrut pelatih dari negara lain. Inggris pernah merekrut pelatih asal Swedia, Sven Goran Eriksson. Bagaimana nasib Southgate? Ia tetap menjadi asisten pelatih.
 
Nah, kematangan seorang pelatih diuji saat memasuki masa genting. Adu penalti misalnya. Bagaimana memilih eksekutor penendang. Mulai dari eksekutor pertama hingga terakhir. Urutan eksekutor tentu saja juga bagian dari strategi.
 
Keputusan aneh yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan publik, mengapa pemain 19 tahun, Bukayo Saka maju sebagai penendang kelima. Kemana para pemain senior lainnya. Southgate mengatakan mengambil keputusan tersebut setelah melihat dari latihan yang dilakukan para pemain sebelumnya. Southgate lupa, bahwa latihan tidak sama praktiknya di lapangan. Ada tekanan luar biasa di bawah ribuan pasang mata stadion. Apalagi Inggris bermain di kandang. Mungkin Saka begitu mudah menceploskan bola saat latihan penalti.
 
Southgate lantas banjir kritik. Terutama dari sesama pelatih. Keputusannya dinilai diluar pakem. Ia dinilai terlalu berjudi besar. Justru pada saat penentuan akhir juara melalui adu penalti.
 
Saat Inggris unggul cepat, Southgate juga dikritik tajam mengapa tidak segera mengubah taktik kembali ke pola empat bek setelah unggul dan ditekan habis-habisan oleh Italia. Itu kritik dari Tony Adams, mantan pemain legenda Arsenal. Kritik lainnya pula, seharusnya saat unggul diawal, Inggris terus menekan habis Italia. Jangan diberi momentum untuk bangkit. Nampaknya, Southgate sendiri tidak mengira Inggris bisa unggul di menit-menit awal. Jika Southgate responsif saat itu, kans Inggris juara terbuka lebar.
 
Dalam perusahaan, direktur utama dipilih oleh para pemegang saham. Saat kinerja perusahaan jeblok, tak hanya direktur yang disalahkan. Tapi juga para pemegang saham yang memegang andil dalam pemilihan direktur. FA harusnya juga ikut bertanggung jawab terhadap kegagalan Inggris. Tapi nasi sudah menjadi bubur.
 
 

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN