Mohon tunggu...
Sofia Raudhatul Muslimah
Sofia Raudhatul Muslimah Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswi

PSKM FK ULM

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Issue K3 dalam Revolusi Industri 4.0

26 Mei 2021   17:53 Diperbarui: 26 Mei 2021   17:55 137 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Issue K3 dalam Revolusi Industri 4.0
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Apa sebetulnya revolusi industri 4.0? Profesor. Klaus Martin Schwab, teknisi serta ekonom Jerman, yang pula pendiri serta Executive Chairman World Economic Forum, yang awal kali memperkenalkannya. Berbeda mencolok dengan revolusi industri sesi tadinya, revolusi industri 4.0 diisyarati dengan berkembangnya Internet of ataupun for Things yang diiringi teknologi baru dalam informasi sains, kecerdasan buatan, robotik, cloud, cetak 3 ukuran, serta teknologi nano. Kedatangan revolusi industri 4. 0 memanglah memperkenalkan lini usaha baru, lapangan kerja baru, profesi baru yang tidak terpikirkan tadinya. Tetapi pada dikala yang sama terdapat pula lini usaha yang terancam, profesi serta lapangan kerja yang tergantikan oleh mesin kecerdasan buatan serta robot.

Di satu sisi, masa industri ini lewat konektivitas serta digitalisasinya sanggup tingkatkan efisiensi rantai manufaktur serta mutu produk. Tetapi demikian, di sisi lain, revolusi industri ini pula hendak melenyapkan 800 juta lapangan kerja di segala dunia sampai tahun 2030 sebab diambilalih oleh robot. Perihal ini dapat jadi ancaman untuk Indonesia selaku negeri yang mempunyai angkatan kerja serta angka pengangguran yang lumayan besar. Buat itu pemerintah butuh menyikapi pergantian ini dengan pas lewat penataan strategi yang sanggup tingkatkan energi saing industri nasional sekalian menghasilkan lapangan kerja yang lebih luas.

Indonesia berkomitmen buat membangun industri manufaktur yang berdaya saing global lewat percepatan implementasi Industri 4.0. Perihal ini diisyarati dengan peluncuran Making Indonesia 4.0 selaku suatu roadmap serta strategi Indonesia merambah masa digital yang tengah berjalan dikala ini. Departemen Perindustrian merancang Making Indonesia 4.0 selaku suatu roadmap yang terintegrasi buat mengimplementasikan beberapa strategi dalam merambah masa Industri 4.0. Implementasi Industri 4.0 tersebut bertujuan buat menghasilkan perkembangan ekonomi yang lebih berkepanjangan.

Departemen Perindustrian sudah menetapkan 4 langkah strategis dalam mengalami Industri 4.0. Langkah- langkah yang hendak dilaksanakan tersebut merupakan:

  • Awal, mendesak supaya angkatan kerja di Indonesia terus tingkatkan keahlian serta keterampilannya, paling utama dalam memakai teknologi internet of things ataupun mengintegrasikan keahlian internet dengan lini penciptaan di industri.
  • Kedua, pemanfaatan teknologi digital buat memacu produktivitas serta energi saing untuk industri kecil serta menengah( IKM) supaya sanggup menembus pasar ekspor lewat program E- smart IKM.
  • Ketiga, pemanfaatan teknologi digital yang lebih maksimal dalam perindustrian nasional semacam Big Informasi, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, serta Augmented Reality.
  • Keempat, mendesak inovasi teknologi lewat pengembangan start up dengan memfasilitasi inkubasi bisnis supaya lebih banyak wirausaha berbasis teknologi di daerah Indonesia.

Gelombang revolusi industri sudah memasuki pada bermacam aspek kehidupan manusia. revolusi industri menjadi tantangan tetapi pula kesempatan untuk sesuatu negeri buat bisa melaksanakan "revisi" dalam negaranya. Bangsa yang baik ialah bangsa yang sanggup mempertahankan budayanya sehingga bisa membedakan dengan bangsa lain. Revolusi industri yakni periode terbentuknya pergantian secara besar- besaran di bermacam bidang yang mempunyai akibat mandalam terhadap keadaan sosial, ekonomi, serta budaya di dunia.

Semenjak revolusi industri awal tahun 1750- 1850, hingga Indonesia merdeka di tahun 1945 revolusi industri terus tumbuh serta dikala ini sudah hingga di masa revolusi industri 4. 0.

Untuk negara- negara maju, Industri 4.0 bisa jadi metode buat memperoleh kembali energi saing infrastruktur. Untuk negara- negara tumbuh, Industri 4.0 bisa menolong menyederhanakan rantai suplai penciptaan, yang dalam perihal ini sangat diperlukan guna mendalami bayaran tenaga kerja yang makin bertambah.

Buat itu, dalam mengalami masa revolusi industri keempat, zona industri nasional butuh banyak berbenah, paling utama dalam aspek kemampuan teknologi yang jadi kunci penentu energi saing. Paling tidak ada 5 teknologi utama yang menopang pembangunan sistem Industri 4.0, ialah Internet of Things, Artificial Intelligence, Human- Machine Interface, teknologi robotik serta sensor, dan teknologi 3D Printing. Kelima faktor tersebut wajib sanggup dipahami oleh industri manufaktur Indonesia supaya bisa bersaing.

Pemerintah pula wajib mengestimasi akibat negatif dari Industri 4.0 semacam disruptive technology. Kedatangan disruptive technology ini hendak membuat pergantian besar serta secara bertahap hendak mematikan bisnis tradisional. Kedudukan Industri 4.0 pula ini masih dipertanyakan apabila dilihat dari indikasi deindustrialisasi global yang terjalin akhir- akhir ini. Perihal ini disebabkan terus menjadi meningkatnya kedudukan zona jasa. Campuran antara proyeksi perkembangan ekonomi yang tidak meningkat dengan kilat serta penyusutan kedudukan zona manufaktur sudah memunculkan keraguan tentang kehebatan Industri 4.0. Tidak hanya itu Industri 4.0 pula berakibat negatif terhadap penciptaan lapangan pekerjaan. Di kawasan ASEAN, cuma Singapore yang sudah siap mengadapi masa industri baru ini. Pada dikala pemerintah memutuskan buat menyesuaikan diri dengan sistem Industri 4.0, hingga pemerintah pula wajib memikirkan keberlangsungannya. Jangan hingga pelaksanaan sistem industri digital ini cuma jadi beban sebab 22 tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja( K3) pula ialah salah satu isu berarti di dunia kerja dikala ini. Berikut merupakan sejarah revolusi industri pada Kesehatan dan Keselamatan Kerja:

1. Masa Revolusi Industri (Traditional Industrialitation)

Pada masa ini hal- hal yang ikut pengaruhi pertumbuhan K3 merupakan penggantian tenaga hewan dengan mesin- mesin semacam mesin uap yang baru ditemui selaku sumber tenaga, pemakaian mesin- mesin yang mengambil alih tenaga manusia, pengenalan metode- metode baru dalam pengolahan bahan baku (spesialnya bidang industri kimia serta logam). Pada masa ini tumbuh pula pengorganisasian kerja dalam cakupan yang lebih besar. Pertumbuhan teknologi ini menimbulkan mulai timbul penyakit- penyakit yang berhubungan dengan pemajanan karbon dari bahan- bahan sisa pembakaran.

2. Masa Industrialisasi (Modern Industrialitation)

Semenjak masa revolusi industri hingga dengan pertengahan abad 20 hingga pemakaian teknologi terus menjadi tumbuh sehingga K3 pula menjajaki pertumbuhan ini. Pertumbuhan pembuatan perlengkapan pelindung diri, safety devices serta interlock serta alat- alat pengaman yang lain pula ikut berkembang.

3. Masa Manajemen

Keterpaduan seluruh unit- unit kerja semacam safety health serta permasalahan area dalam sesuatu sistem manajemen pula menuntut terdapatnya mutu yang terjamin baik dari aspek input proses serta output. Perihal ini ditunjukkan dengan timbulnya standar-standar internasional semacam ISO 9000, ISO 14000 serta ISO 18000.

4. Masa Mendatang

Perkembangan K3 pada masa yang hendak tiba tidak cuma difokuskan pada kasus K3 yang terdapat sebatas di area industry serta pekerja. Pertumbuhan K3 mulai memegang aspek- aspek yang sifatnya publik ataupun buat warga luas.

Pada masa revolusi industri 4.0 terdapatnya tentangan dengan SMK3 semacam pada salah satu industri proyeksi, ialah:

a. Tidak memakai Perlengkapan Pelindung Diri (APD) dengan lengkap.

b. Bercanda ataupun mengobrol dikala lagi bekerja.

c. Tidak mengindahkan aturan- aturan keselamatan kerja.

d. Tidak memakai mesin serta perlengkapan bantu lain cocok dengan gunanya.

e. Memakai perlengkapan telekomunikasi semacam telpon pada dikala bekerja sehingga mengusik konsentrasi pekerja.

f. Tidak terdapatnya perencanaan program keselamatan, kesehatan kerja serta area yang baik, perihal ini diakibatkan tidak terdapatnya tenaga yang pakar di bidang keselamatan, kesehatan kerja serta area.

 

REFERENSI:

Damayanti, F., & Ningrum, D. (2019). Kajian Konstruksi Hijau Terhadap Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Smk3) Berbasis Manajemen Resiko. Prosiding Semsina, Vii-13.

Dianasari, D., & Hidayah, Y. (2019, October). Pancasila Sebagai Literasi Moral Pada Pendidikan Dasar Di Era Revolusi Industri 4.0. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan (Vol. 1, Pp. 12-18).

Ghufron, G. (2018, September). Revolusi Industri 4.0: Tantangan, Peluang, Dan Solusi Bagi Dunia Pendidikan. In Seminar Nasional Dan Diskusi Panel Multidisiplin Hasil Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2018 (Vol. 1, No. 1).

Meliza, S. (2020). Konsep Dasar Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Dalam Asuhan Keperawatan.

Satya, V. E. (2018). Strategi Indonesia Menghadapi Industri 4.0. Info Singkat, 10(9), 19-24.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan