Mohon tunggu...
Sultoni
Sultoni Mohon Tunggu... Freelancer - Suka politik dan traveling

Menulis untuk mengasah dan melatih nalar berfikir. Menulis sebagai upaya untuk meninggalkan jejak yang positif bagi peradaban. Menulis untuk melawan lupa.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Ricuh, Tradisi Sepak Bola di Indonesia

2 Oktober 2022   18:15 Diperbarui: 2 Oktober 2022   20:43 363 7 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang. Foto : Liputan6.com 

"Sepakbola adalah olahraga paling populer di Indonesia. Olahraga ini digemari oleh masyarakat hampir diseluruh lapisan usia. Mulai dari desa-desa dipedalaman nusantara, sampai di kota-kota besar seperti ibu kota Jakarta. Seluruh masyarakat sangat familiar dengan yang namanya Sepakbola."

Mendengar kejadian ricuh atau keributan yang terjadi dalam sebuah pertandingan sepakbola, sepertinya adalah hal yang biasa bagi masyarakat pecinta olahraga ini di Indonesia.

Mulai dari level pertandingan antar RT, turnamen tarkam sampai dengan level liga sepakbola profesional tertinggi ditanah air sekelas Liga 1 pun, kejadian ricuh dalam sebuah pertandingan sepakbola masih saja sering terjadi.

Teranyar, kejadian ricuh yang sangat memprihatikan insan sepak bola di Indonesia dan dunia terjadi pada Sabtu malam kemaren (1/10/2022) di Stadion Kanjuruhan Malang Jawa Timur.

Setelah laga di kompetisi Liga 1 yang mempertemukan derbi Jawa Timur antara tuan rumah Arema FC dan Persebaya Surabaya usai, kericuhan pecah antara suporter Arema dengan pihak kepolisian. Kerusuhan ini diduga dipicu oleh kekalahan tim tuan rumah Arema FC dari tamunya Persebaya Surabaya dengan skor akhir 2-3.

Karena merasa kecewa tim kesayangannya dipermalukan oleh tim tamu di kandang sendiri, suporter Arema FC merangsek masuk ke lapangan pertandingan setelah laga usai.

Untuk membubarkan massa suporter Arema FC, pihak kepolisian melepaskan gas air mata. Gas air mata yang disemprotkan oleh pihak kepolisian tidak hanya diarahkan ke kerumunan massa dilapangan, namun juga ke arah tribun penonton. Akibatnya, ribuan penonton panik dan berebut hingga berdesak-desakan untuk keluar dari stadion.

Akibat insiden kericuhan tersebut, 130 nyawa suporter termasuk dua orang petugas keamanan dilaporkan melayang dan hampir 200 orang lainya mengalami luka-luka. Korban tewas dan luka-luka mayoritas disebabkan karna terinjak-injak dan kurangnya pasokan oksigen akibat tembakan gas air mata.

Tak pelak, tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang ini menjadi tragedi kericuhan paling memilukan dalam sejarah persepakbolaan di Indonesia. Tragedi ini memecahkan rekor sebagai tragedi sepak bola dengan total korban tewas terbanyak sepanjang sejarah.

Tentu insiden ini merupakan sebuah kerugian besar bagi dunia persepakbolaan di tanah air. Mengingat, dalam waktu dekat Indonesia dipercaya oleh FIFA untuk menyelenggarakan hajatan Piala Dunia U-20. Atas terjadinya insiden tersebut, dikhawatirkan FIFA akan melakukan evaluasi kembali terkait posisi Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2023.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan