Mohon tunggu...
Supartono JW
Supartono JW Mohon Tunggu... Konsultan - Pengamat
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Niat berbagi

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Beropinilah yang Membikin Rakyat Nyaman dan Tenang!

3 April 2020   14:58 Diperbarui: 3 April 2020   15:14 126
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: doc.Supartono JW

Bicara sesuai fakta boleh, namun bila asal bicara dan terkesan hanya sekadar mau mencari pembelaan, di saat genting seperti ini, tidak lucu. Apa yang dibicarakan Luhut, menjadi seperti omong kosong, meski beliau mengatakan, bahwa apa yang diungkapnya adalah kesimpulan yang didasarkan pada hasil penelitian sejumlah universitas dan lembaga. 

Pertanyaannya, itu hasil penelitiannya kapan? Lalu, mengapa setiap hari pasien corona terus bertambah yang positif dan meninggal, meski ada sedikit yang sembuh. 

Atas penjelasan yang masih terkesan ngawur dan buktinya virus tetap menyerang masyarakat Indonesia, Luhut pun masih "ngeyel" bahwa penanganan pencegahan virus itu tergantung masyarakatnya. Ini bagaimana sih? 

Bukannya Luhut sudah tahu kultur, budaya, tingkat kecerdasan intelegensi dan emosi, sosial, dan ekonomi masyarakat kita? Masa masih kukuh bicara yang menekan dan seolah menyalahkan rakyat. 

Kengeyelan Luhut pun ditambah dengan membicarakan hasil modeling. Katanya,  disimpulkan bahwa physical distancing menjadi kunci pemutusan matai rantai COVID-19. "Semua saya mohon kita agar mengikuti protokol kesehatan COVID-19. Khususnya terkait physical distancing. Karena dari hasil studi dengan modeling-modeling yang dibuat baik oleh teman-teman di UI, di UGM, di ITB, di BSSN, itu semua menyimpulkan bahwa jaga jarak sangat penting kalau kita mau selesaikan ini," tutur Luhut.

Oleh sebab itu, Luhut mewanti-wanti masyarakat agar selalu disiplin dalam melakukan physical distancing dan meminta masyarakat untuk tak mudik pada Lebaran Idul Fitri nantinya demi mencegah penyebaran COVID-19. 

Lebih lucu, menurut saya, Luhut berujar, "Tapi kalau tadi jaga jarak tidak dilakukan itu juga jadi tidak berarti, sekarang ini tergantung kita, kita mau bagaimana, semua. Kalau kita tidak mau selesaikan, mau orang lain korban gara-gara kita ya silakan dibuat. Saya kira tidak ingin keluarga kita, anak kita, istri kita itu jadi korban karena kita tidak disiplin," pungkasnya. 

Bila seorang Luhut, hanya mengungkap itu, semua masyarakat juga sudah paham. Masyarakat itu butuh, kepastian, butuh ditegaskan, butuh didisiplinkan. Tapi, Luhut sendiri juga malah mencekal pembatasan angkutan bus suatu daerah. 

Katanya semua harus sesuai instruksi pemerintah pusat. Tapi saat pemerintah daerah mencoba bijak dan mengambil langkah tegas, dicekal, dilarang. Padahal masyarakat kita itu butuh kepastian makan, ada uang untuk biaya hidup. 

Kalau masyarakat tidak bergerak khususnya yang usahanya sektor informal, ya mereka tidak ada uang dan tidak dapat makan, karenanya, bukannya masyarakat tak mau menjaga jarak dan berdiam diri di rumah, tapi masalahnya "itu" Bapak Luhut! 

Apa benar, setelah instruksi presiden agar rakyat belajar di rumah, bekerja di rumah, beribadah di rumah, lalu korban virus corona juga tidak terus bertambah? Terus bertambah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun