Mohon tunggu...
Maulana Wahid Fauzi
Maulana Wahid Fauzi Mohon Tunggu...

Laki-laki

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jangan Mau Jadi Korban Viktimisasi

15 Oktober 2015   22:44 Diperbarui: 15 Oktober 2015   23:19 94 2 1 Mohon Tunggu...

Di tengah bangsa yang sedang sakit sekarang ini, selain menjadi korban kriminalisasi, ada pula yang harus kita hindari sebisa mungkin yakni viktimisasi. Telah banyak sampel, betapa seseorang dengan mudah menjadi sasaran viktimisasi yang umumnya terjadi akibat beringas massa.

Dari sampel-sampel yang telah terjadi, paling tidak ada 2 jenis penyebab terjadinya viktimisasi. Pertama karena nasib yang menggiring. Artinya seseorang menjadi sasaran viktimisasi, murni karena sedang berada di lokasi yang salah dan waktu yang keliru. Apes alias sedang sial adalah penjelasan sederhananya. Untuk contoh kasus seperti ini, misalnya tak sengaja tiba-tiba berada ke dalam zona tawuran anak sekolah atau tawuran antarkampung. Bisa pula melintas di tengah amuk massa suporter sepak bola yang tengah membabi buta lantaran kecewa tim kesayangannya keok. Contoh lain, melintas di tengah massa yang tengah berdemonstrasi dengan penuh amarah. Atau terjebak di tengah kerumumunan massa konser musik yang berakhir ricuh. Ini juga bisa konyol dampaknya. Viktimasi yang kedua terjadi akibat adanya peran atau keterlibatan dari si korban. Misalnya karena tak mampu menahan emosi, gengsi, harga diri, gagah-gagahan, atau bahkan terpancing untuk sekadar memenuhi “rasa ingin tahu”. Yang terakhir inilah yang hampir menimpa saya dan keluarga, Sabtu (3/10) malam lalu.

Ceritanya begini. Sekitar pukul 21.30, sepulang makan malam dari Cilegon, saya, istri, anak lelaki kedua saya (8 tahun), anak perempuan ketiga (6 tahun), dan si bungsu, juga perempuan (3 tahun), melintas di Jalan Raya Serang- Cilegon, hendak pulang ke rumah di Kota Serang. Di daerah Taman, serombongan bikers, bukan moge ya, dan motornya tak harus saya tuliskan di sini, melewati mobil kami. Dari atribut yang mereka kenakan dan banyaknya rombongan, mudah ditebak jika mereka sedang melakukan konvoi touring. Pelat nomornya pun beragam. Meski kebanyakan berpelat nomor B (Jakarta), adapula pelat nomor E (Cirebon) dan A (Banten). Selanjutnya, seperti pernah beberapa kali saya alami, biker terdepan memepet meminta saya meminggirkan mobil.

Tapi, kali ini satu motor memepet terlalu dekat. Kaki kirinya, ini biasa saya alami juga, sudah dalam posisi siap menendang. Nah, disini nih titik persoalan berawal. Saya yang selalu belum bisa terima diperlakukan begitu kemudian membuka jendela. Saya bilang ke biker yang memepet dekat jendela depan sebelah kanan: “Biasa aja kali, Mas. Jalanan ini punya sama-sama.” Tentu dengan nada keras karena mobil dan motor sedang berjalan cukup kencang. Umpan balik yang saya terima ternyata begitu mengejutkan. Dia langsung berang, dan langsung meminta saya menepi. Saya pun menepi. Dua bikers satunya langsung memasang barikade, tepat di depan mobil. Biker dekat jendela yang paling galak, tetap setia di jendela kanan depan. “Apa maunya kamu, hah?! Turun kamu!” umpatnya. “Jangan mentang-mentang orang kaya, bisa seenaknya aja lo!” terdengar umpatan dari biker lainnya di arah belakang.

Pada titik inilah saya langsung tersadar. Tak mungkin terjadi dialogis wajar antara saya dan mereka. Selain si biker paling galak tadi yang sudah tersulut emosi, bikers lain, yang menurut saya tak tahu menahu apa yang terjadi langsung nimbrung dengan segala prasangkanya masing-masing. Dan sasarannya kompak; yang punya mobil ini pasti rese sehingga pantas diberi pelajaran! Bahkan ketika saya bilang tolong jangan terlalu kasar karena ada anak-anak kecil, mereka bergeming. Mereka, terutama si biker galak, bersikukuh, meminta saya turun dari mobil untuk “menyelesaikan persoalan dengan mereka”.

Saya tentu konyol jika memenuhi permintaan itu. Selain jalanan cukup sepi dan agak jauh dari pemukiman, agak sulit berharap ada polisi melintas saat itu. Dari sejumlah tayangan di You Tube, saya juga pernah menyaksikan adegan yang persis seperti yang sedang saya alami yang berujung pada viktimisasi atau kondisi tak menyenangkan lainnya. Akhirnya, dengan menekan emosi yang berkecamuk, berbaur dengan rasa takut, tegang, khawatir pada anak-anak dan semacamnya, saya menjalankan lagi mobil saya. Uniknya, para bikers ini, terutama satu yang paling galak tadi, masih saja mengitimidasi. Mereka meraung-raungkan motor sambil sesekali kakinya melakukan gerakan menendang. Sekitar 500 berjalan dari titik saya menghentikan mobil, para bikers tampak menepi dengan mengambil sebuah lahan parkir yang cukup luas di sebelah kanan jalan. Di sini lah, rasa penasaran saya hampir menjadikan saya sebagai korban viktimisasi.

Saya yang tak pernah menurunkan jendela depan paling kanan, melirik ke arah biker paling galak tadi yang terus melotot ke arah saya. Dan gayung bersambut, pandangan saya dinilai sebagai tantangan. Jadilah kembali dia mendekati, memepet mobil saya, sambil menendang dan berteriak-teriak minta saya turun. “Apa kamu hah! Turun kamu! Turun!” serunya sepanjang sekitar 100 meteran motor dan mobilnya berjalan sangat mepet. Saya pun lepas kendali. Emosi saya tersulut. Saya sampaikan padanya, “Ayo, kita ke Brimob. Kita selesaikan di sana!” teriak saya. Entahlah, sejak tadi ketika dipepet dan dipaksa berhenti, ingetan saya sudah tertuju ke markas Brimobda Banten yang jaraknya memang hanya 1 kilometer dari TKP. Alasan saya ya apalagi kalo bukan keselamatan diri saya dan keluarga. Apalagi saya cukup mengenal Wakasat Brimobda Banten secara personal. Jadi saya pikir, saya bisa meminta perlindungan dan pertolongan padanya.

Selang beberapa menit kemudian, saya intip dari balik spion, si biker galak tak lagi tampak mengejar. Ah, aman, saya pun langsung merasa lega. Tapi alangkah kagetnya ketika di lampu merah Kepandean, sekitar 500 meter dari titik saya menghardik si biker galak, puluhan motor tampak ngebut riuh rendah dengan klaksonnya mengejar dari belakang! Saya pun tancap gas. Untunglah kepala saya tetap dingin. Meski mereka mencoba menyusul sambil seseklai menendang dan menggedor bodi mobil, saya tak punya niatan mencelakakan salah satunya. Toh kalo saya nekat, bisa saja saya memepet mereka hingga jatuh misalnya.

Tapi, tadi itu, saya sudah sadar sepenuhnya tak mau menjadi korban viktimisasi. Jika itu sampai terjadi, urusan berikutnya bukan lagi soal hardik menghardik, tapi “gaya mengendarai saya telah mencoba mencelakakan para bikers!”. Sekitar 3 menit kebut-kebutan layaknya di film Holywood, saya akhirnya sampai di markas Brimob. Saya pun langsung menerobos masuk pintu jaga. Bergegas turun dari mobil dan meminta perlindungan dari petugas jaga. Bagaimana dengan para bikers? Begitu saya masuk halaman Brimob, mereka langsung kembali putar arah.

Berikutnya, dari obrolan dengan salah satu komandan Brimob yang menolong saya itulah, saya mendapat pemahaman sepenuhnya tentang apa yang disebut viktimisasi. Menurutnya, jangankan bagi warga sipil, bahkan bagi seorang aparat pun seringkali mustahil bisa menenangkan apa yang disebut dengan beringas massa. Dalam penanganan keamanan pun, aparat dijelaskannya selalu melakukan pendekatan yang berbeda.

Kita semua tentu paham, tak perlu jadi psikolog bahwa kumpulan massa, dengan segala latar belakang permasalahan yang mereka sedang rasakan, amat rentan untuk melampiaskannya bersama-sama. Terlebih kondisi bangsa kita yang sakit ini ya akibat dipicu ketidakadilan yang terjadi di semua sendi kehidupan. Jadi agak sulit bagi kita untuk menyalahkan betapa mudah satu kelompok massa tersulut untuk kemudian menumpahkan emosinya dengan membuta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x