Mohon tunggu...
Siska Fajarrany
Siska Fajarrany Mohon Tunggu... Penulis - Lecturer, Writer

Suka menulis.

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Review Film "Malam Para Jahanam", Film Horor yang Anti Mainstream

9 Desember 2023   06:30 Diperbarui: 9 Desember 2023   21:00 8261
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
dok. Starvision via KOMPAS.id

Penggemar film horor kembali sumringah atas rilisnya film terbaru dengan genre horor yang berjudul Malam Para Jahanam. Sekilas saat membaca judulnya saja, sudah mengundang unsur seram. Apalagi kalau sampai membayangkan bagaimana sosok hantu dalam film tersebut.

Daripada banyak menerka, lebih baik langsung saja untuk segera datang ke bioskop terdekat. Film Malam Para Jahanam sedang tayang di seluruh bioskop. Tepatnya rilis pada 07 Desember 2023.

Di balik film Malam Para Jahanam, ada sosok sutradara yang mencurahkan segala upayanya termasuk pesan yang ingin disampaikan lewat film ini. Indra Gunawan sebelumnya berhasil menyutradarai remake film Hello Ghost (2023) dalam versi Indonesia. Drama keluarga dibalut komedi ini cukup memberi kesan baik dan menyentuh para penontonnya.

Menariknya, Indra mencoba hal baru dalam dunia film. Tidak mau merasa puas dengan film genre drama komedi, kini beranjak menyutradarai film horor. Lewat film Malam Para Jahanam, kepiawaian dalam dunia film akan teruji. 

Pasalnya film ini adalah film perdananya dengan genre horor. Jika film ini berhasil mendapatkan perhatian banyak pecinta film horor, sepertinya Indra akan kembali dinantikan memberikan karya di genre horor.

Film Malam Para Jahanam dibuka dengan cerita di Desa Winongo, Jawa Tengah. Mulanya, kondisi di desa tersebut begitu damai. Namun keadaan berubah menjadi memanas mulai tahun 1965. Perubahan yang semakin memanas diakibatkan atas perbedaan ideologi.

Puncaknya, pada saat terjadi aksi saling bantai dua kubu yang berbeda ideologi ini. Terlihat kaum kelompok agamis dengan kelompok komunis saling membantai satu sama lain tak ada ampun. Obor dilemparkan ke rumah-rumah membuat seisi desa panik. Kekacauan semakin menjadi saat api menyambar tubuh warga desa.

Semenjak aksi pembantaian itu, Desa Winongo mendapatkan kutukan. Lebih tepatnya dendam dari kedua kubu belum terbalaskan. Sampai mereka semua mati pun, masih ada kebencian satu sama lain. Setiap tanggal tragedi pembantaian itu terjadi, setiap tahunnya arwah-arwah kembali bangkit. Mereka kembali saling serang. Membantai lawan masing-masing.

Arwah-arwah itu sangat mengganggu aktivitas warga desa. Khususnya mereka jadi ngeri dan takut. Ketakutan bukan hanya karena arwah-arwah menampakkan wujudnya, tetapi karena arwah-arwah memburu warga desa yang ke luar rumah, tidak mau beribadah, bahkan tidak mempercayai kehadiran mereka. 

Satu persatu banyak yang menjadi korban karena diburu oleh arwah-arwah. Terutama para pendatang baru yang tidak mengenal betul kondisi Desa Winongo.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun