Mohon tunggu...
siprianus jemalur
siprianus jemalur Mohon Tunggu... Wiraswasta - Berkontribusi bagi kemajuan daerah melalui tulisan

lahir dan dibesarkan untuk memuja kehidupan meskipun seringkali tidak bersahabat...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Merawat Keharmonisan Kehidupan Beragama: Catatan Reflektif dari Labuan Bajo

12 Mei 2021   07:53 Diperbarui: 12 Mei 2021   07:58 353
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Selain dikenal karena obyek wisatanya yang terkenal yaitu Komodo, Manggarai Barat juga sesungguhnya memiliki kekayaan sosio kultural keagamaan yang sangat tinggi yaitu keharmonisan kehidupan antar umat beragama. Keharmonisan ini telah telah lama dirawat oleh para leluhur dan diwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini. Kita tentu berharap bahwa keharmonisan ini tidak pernah lekang oleh waktu.

Manggarai Barat, dan terutama beberapa kecamatan secara khusus seperti Lembor, Lembor Selatan, Boleng, Sano Nggoang, Komodo adalah daerah yang sangat majemuk terutama dari segi agama. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kerukunan dan sikap hormat menghormari terhadap satu sama lain sangat tinggi.Pada titik ini, keragaman dilihat sebagai kekayaan bersama yang menyatukan dan menyejukkan.

Mengapa keragaman ini tetap terjaga dan terpelihara sampai dengan saat ini. Hemat saya, ada tiga alasan yang sangat mendasar. Pertama, masyarakat Manggarai Barat dan Manggarai umumnya dikenal ssbagai masyarakat yang menunjung tinggi menghormati satu sama lain sebagai sesama manusia. Sesama dilihat sebagai saudara, saudari dan keluarga meskipun tidak ada hubungan secara biologis. Dengan kata lain, sejauh dia manusia, apapun latar belakangnya ia adalah saudara dan keluarga kita.

Kedua, keragaman agama dalam masyarakat Manggarai telah lama terbentuk dan terwariskan dari generasi ke generasi dalam matras yang paling dasariah yaitu keluarga. Sebagai contoh, dalam satu keluarga kecil, ada yang beragama kristiani dan beragama Islam.Bahkan dalam satu keluarga ada anggota ada yang msnjadi pastor dan suster dan anggota keluarga yang lain ustad dan haji atau  Demikian pun dalam konteks keluarga ataupun klan yang lebih besar.Yang sangat menarik dan patut dicontoh adalah mereka saling menghargai satu sama lain termasuk dalam perayaan hari besar keagamaan seperti Natal ataupun Idul Fitri. 

Pada hari raya Natal, sudah menjadi kebiasaan keluarga muslim mengucapkan selamat kepada mereka yang merayakan Natal dan sebaliknya.Demikian pun dalam acara keagamaan dan kultural sehari-hari seperti perayaan permandian, komuni pertama, perkawinan kenduri, syukuran umroh, dan sebagainya.Pada acara-acara keagamaan dan kultural seperti itu, setiap warga mengambil bagian secara aktif dan tentu dengan sikap saling menghargai dan hormat satu sama lain. Kondisi ini tentu sangat menggembirakan dan menyejukkan.

Sebagai warga masyarakat, kita tentu mengharapkan kondisi seperti ini tetap terawat dan menjadi model bagi kehidupan bersama kita di berbagai daerah di seantro Indonesia.Bila demikian, maka sebagian besar energi dan perhatian kita lebih banyak terfokus pada bidang-bidanh lain seperti pengembangan kualitas pendidikan, peningkatan kualitas infrastruktur di seluruh tanah air, perbaikan kualitas dan derajat kesehatan, peningkatan sumber daya ekonomi dan sebagainya demi terwujudnya kemaslahatan seluruh warga negara.

Dalam kondisi kemajuan teknologi dewasa ini, kehidupan bersama kita dalam bidang keagamaan tentu dihadapkan dengan berbagai tantangan yang cukup serius.Munculnya berbagai paham ektremisme di berbagai belahan dunia atau negara lain dengan mudah diakses oleh warga dunia mana pun berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknoligi mutakhir dewasa ini. 

Demikian pun dengan berbagai bentuk tindakan kekerasan intoleran dengan mudah teresebar di penjuru dunia melalui berbagai plaform media sosial dewasa yang berkembang begitu pesat.Bagi sebagian orang kondisi ini tidak mencemaskan karena diri mereka sudah dilengkapi dengan berbagai kemampuan nalar yang baik untuk mwngolah berbagai hal dengan baik dan dalam, memiliki perangkat nilai dan norma etis yang kuat, memiliki prinsip spiritual yang kokoh dan sebagainya.

Namun demikian, sebagian warga tidak memiliki perangkat dasar yang kokoh seperti di atas.Kondisi seperti ini menyebabkan mereka tidak mampu untuk memfilter  dan secara kritis  menyaring, mencernah dan menelah informasi secara mendalam kemudian menjadi tempat untuk belajar dan membagikan kepada publik.

Dalam kondisi seperti ini, saya kira sudah menjadi tanggung jawab etis kita bersama untuk saling mengingatkan dan membantu  sesama kita untuk menggunakan berbagai perangkat teknologi terutama media sosial secara bijak, bertanggung jawab dan edukatif.

Melalui sikap seperti itu, setidaknya kita telah mengambil bagian untuk membangun kehidupan dan peradaban kita bersama yang lebih. Lebih dari itu, dengan cara seperti itu pula, kita telah turut mengambil bagian dalam menciptkan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat terutama pada negara kita yang sangat majemuk ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun